Fenomena Oversharing dan Batas Privasi dalam Praktik Komunikasi Interpersonal

Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas, dengan konsentrasi Public Relations.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fathia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gen Z di Instagram Stories

Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah cara individu membangun relasi interpersonal, menampilkan identitas diri, serta mengelola batas antara ruang privat dan ruang publik. Salah satu fenomena yang semakin terlihat pada Generasi Z adalah praktik oversharing, yaitu perilaku membagikan informasi personal secara berlebihan melalui media sosial, khususnya fitur Instagram Stories. Instagram Stories menjadi ruang komunikasi interpersonal digital yang memungkinkan pengguna membagikan aktivitas sehari-hari, emosi, opini, hingga pengalaman pribadi secara cepat dan interaktif. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pemaknaan terhadap privasi, di mana batas antara apa yang dianggap pribadi dan layak dipublikasikan menjadi semakin fleksibel. Artikel ini membahas fenomena oversharing sebagai praktik komunikasi interpersonal Gen Z dengan menggunakan perspektif komunikasi digital, teori pengungkapan diri (self-disclosure), serta konsep manajemen privasi komunikasi (communication privacy management). Hasil analisis menunjukkan bahwa oversharing tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan ekspresi diri, tetapi juga dipengaruhi oleh pencarian validasi sosial, pembentukan identitas digital, kebutuhan keterhubungan sosial, serta perubahan norma komunikasi pada era digital.
Transformasi teknologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam praktik komunikasi manusia. Jika sebelumnya komunikasi interpersonal lebih banyak berlangsung melalui interaksi langsung (face to face communication), saat ini proses komunikasi semakin berkembang melalui ruang digital. Media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat individu membangun hubungan, membentuk identitas, dan menampilkan representasi dirinya kepada orang lain.
Salah satu platform yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial digital adalah Instagram. Instagram berkembang bukan hanya sebagai media berbagi foto dan video, tetapi sebagai ruang komunikasi interpersonal yang memungkinkan pengguna melakukan interaksi secara intens melalui berbagai fitur seperti komentar, pesan langsung (direct message), dan Instagram Stories. Fitur Instagram Stories memberikan karakter komunikasi yang lebih spontan karena konten hanya bertahan selama 24 jam sehingga menciptakan persepsi bahwa informasi yang dibagikan bersifat sementara dan tidak terlalu formal.
Berdasarkan laporan DataReportal, Instagram menjadi salah satu platform media sosial dengan jumlah pengguna yang besar di Indonesia. Pada awal 2025, Instagram diperkirakan memiliki sekitar 103 juta pengguna di Indonesia, menunjukkan bahwa platform ini memiliki posisi penting dalam kehidupan komunikasi digital masyarakat Indonesia.Tingginya penggunaan Instagram terutama terlihat pada kelompok usia muda, termasuk Generasi Z yang sejak awal kehidupannya telah berinteraksi dengan teknologi digital.
Generasi Z merupakan generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang sangat terhubung dengan internet. Berbeda dengan generasi sebelumnya, media sosial bagi Gen Z bukan hanya alat komunikasi, tetapi bagian dari proses pembentukan identitas sosial. Media sosial menjadi tempat untuk menunjukkan aktivitas, pengalaman, pandangan, bahkan kondisi emosional mereka. Survei penggunaan media sosial menunjukkan Instagram menjadi salah satu platform dominan yang digunakan oleh Gen Z Indonesia.
Dalam konteks tersebut, muncul fenomena oversharing, yaitu kecenderungan individu membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada publik digital. Informasi tersebut dapat berupa masalah pribadi, hubungan romantis, konflik keluarga, kondisi emosional, lokasi aktivitas, hingga opini yang bersifat personal. Pada satu sisi, perilaku ini dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi diri dan usaha membangun kedekatan sosial. Namun, pada sisi lain, oversharing dapat menciptakan risiko terhadap privasi, keamanan digital, dan pembentukan citra diri.
Penelitian mengenai oversharing di media sosial menunjukkan bahwa perilaku tersebut menjadi fenomena yang semakin relevan pada kelompok usia muda karena media sosial memberikan ruang besar bagi individu untuk memperkenalkan dirinya kepada publik. Studi mengenai Gen Z’s Oversharing on Instagram Stories menjelaskan bahwa praktik berbagi berlebihan berkaitan dengan kebutuhan generasi muda untuk terkoneksi dan menunjukkan eksistensi dirinya melalui media sosial.
Fenomena ini menjadi menarik dalam kajian ilmu komunikasi karena menyangkut bagaimana individu mengelola informasi pribadi dalam hubungan interpersonal digital. Ketika seseorang mengunggah cerita pribadi melalui Instagram Stories, sebenarnya individu tersebut sedang melakukan proses komunikasi kepada audiens tertentu. Namun, audiens digital memiliki karakter berbeda dengan komunikasi interpersonal konvensional karena informasi yang disampaikan dapat diterima oleh banyak orang dengan tingkat kedekatan yang berbeda.
Oversharing sebagai Bentuk Komunikasi Interpersonal Digital
Komunikasi interpersonal pada dasarnya merupakan proses pertukaran pesan antara individu yang memiliki hubungan tertentu. Menurut Joseph A. DeVito, komunikasi interpersonal melibatkan proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau lebih yang memungkinkan adanya umpan balik langsung. Dalam konteks digital, konsep ini mengalami perkembangan karena interaksi tidak selalu berlangsung secara langsung, tetapi melalui perantara teknologi.
Instagram Stories menciptakan bentuk komunikasi interpersonal yang bersifat semi-publik. Seseorang dapat merasa sedang berbicara kepada teman dekat, tetapi dalam praktiknya pesan tersebut dapat dilihat oleh banyak individu. Kondisi ini membuat batas komunikasi interpersonal menjadi semakin kompleks.
Menurut teori Social Penetration Theory yang dikembangkan oleh Altman dan Taylor, hubungan interpersonal berkembang melalui proses pengungkapan diri (self-disclosure). Individu secara bertahap membuka informasi mengenai dirinya kepada orang lain berdasarkan tingkat kepercayaan dan kedekatan hubungan.
Namun, dalam lingkungan digital, proses pengungkapan diri mengalami perubahan. Jika sebelumnya pengungkapan informasi pribadi membutuhkan hubungan interpersonal yang cukup dekat, media sosial memungkinkan seseorang membagikan informasi kepada jaringan sosial yang luas dalam waktu singkat.
Fenomena oversharing dapat dipahami sebagai bentuk pengungkapan diri yang melewati batas kenyamanan sosial atau batas privasi yang sebelumnya dimiliki individu. Menurut penelitian Shabahang dan kolega, oversharing di media sosial memiliki hubungan dengan faktor psikologis seperti kebutuhan mendapatkan perhatian, kecemasan sosial, serta intensitas penggunaan media sosial.
Hal tersebut menunjukkan bahwa oversharing bukan hanya persoalan perilaku komunikasi, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk diterima, dipahami, dan mendapatkan respons sosial.
Instagram Stories dan Perubahan Makna Privasi pada Gen Z
Privasi dalam era digital mengalami perubahan makna. Dahulu privasi sering dipahami sebagai sesuatu yang harus disimpan dan tidak diketahui publik. Namun, pada era media sosial, privasi menjadi sesuatu yang dinegosiasikan secara terus-menerus.
Sandra Petronio melalui teori Communication Privacy Management menjelaskan bahwa individu memiliki batas privasi (privacy boundaries) dalam mengatur informasi pribadi. Menurut teori ini, seseorang memiliki hak untuk menentukan informasi apa yang akan dibagikan dan kepada siapa informasi tersebut diberikan.
Dalam praktik Instagram Stories, pengguna sebenarnya melakukan proses pengelolaan batas privasi ketika memilih konten yang akan diunggah. Misalnya, pengguna dapat menentukan apakah cerita hanya dibagikan kepada semua pengikut, teman dekat (close friends), atau bahkan akun tertentu.
Namun, permasalahannya muncul ketika individu tidak sepenuhnya menyadari konsekuensi dari informasi yang dibagikan. Informasi yang dianggap sederhana seperti lokasi, kebiasaan sehari-hari, hubungan personal, atau kondisi emosional dapat menjadi data yang memiliki nilai sosial maupun risiko tertentu.
Pada Generasi Z, keterbukaan digital sering kali dianggap sebagai bagian dari autentisitas. Banyak pengguna merasa bahwa menunjukkan kehidupan nyata, termasuk sisi negatif atau kelemahan pribadi, membuat mereka terlihat lebih jujur dan dekat dengan orang lain. Akan tetapi, keterbukaan tanpa batas dapat menyebabkan hilangnya kontrol terhadap informasi pribadi.
Penelitian terbaru mengenai privasi digital menunjukkan bahwa pengguna muda sering menghadapi tantangan dalam menentukan batas antara berbagi untuk membangun hubungan sosial dan berbagi yang berpotensi merugikan diri sendiri.
