Konten dari Pengguna

Analisis Puisi “Memeluk Hampa, Menatap Asa” dalam Buku The Next Creator!

Fathia Indah

Fathia Indah

Mahasiswa PBSI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathia Indah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com

Puisi merupakan penggambaran ekspresi yang berasal dari pemikiran, perasaan, imajinasi, atau pengalaman yang dituangkan dalam sebuah tulisan dengan menggunakan bahasa estetis. Puisi merupakan sebuah struktur yang terdiri dari unsur pembangun. Puisi memiliki tiga unsur pokok di dalamnya, yaitu (1) pemikiran, ide dan emosi, (2) bentuk puisi, dan (3) kesan dari puisi tersebut. Dalam hal ini, penulis bermaksud untuk menganalisis salah satu puisi dalam buku The Next Creator!

Buku The Next Creator! Merupakan buku yang berisi kumpulan karya pemenang dari Akademi Remaja Kreatif angkatan pertama. Dalam buku ini terdapat berbagai judul puisi dan juga cerpen karya anak bangsa. Puisi yang akan dianalisis dalam buku tersebut berjudul “Memeluk Hampa, Menatap Asa”.

Puisi ini berisi tentang keterpurukan seseorang akan kehidupan yang dia jalani. Pembaca dapat merasakan sakit dan kesedihan ketika membaca puisi ini. Puisi ini juga mengajarkan kita untuk terus melangkah maju dan tidak menyerah.

Memeluk Hampa, Menatap Asa

(Meilisna Arismaya Wanti, 2015)

Aku tenggelam dipeluk sunyi

Cercahan kotor membelai sepi

Terus mengutuk jeritan hati

Hanya menangis diam sendiri

Guraunya remeh tiada peduli

Air mataku jatuh sendiri

Terpuruk aku dalam cemooh ini

Menguras jiwa merusak hati

Biar kupeluk rintihan hampa

Biarkan slalu kata mereka

Tiada peduli kini sendiri

Yakinkan Tuhan merangkul kini

Angan semangat tiada henti

Laksana penuh kobaran api

Percaya do’a, percaya asa

Harapan masa gelap menggema

Akanku genggam cahaya gemilang

Mata menatap asa cemerlang

Yakinkan diri menggapai bintang

Kelak dunia bersinar terang

Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang menderita akan kesepian dan kesendirian yang menakutkan dalam kehidupannya. Walau merasa kesakitan, dia percaya akan kehidupan terang yang akan datang suatu hari nanti.

Pemilihan diksi dalam puisi “Memeluk Hampa, Menatap Asa” ini sangat tepat dan bagus, sehingga pembaca dapat merasakan sakit ketika membaca puisi ini. Diksi merupakan pemilihan kata yang tepat untuk mengungkapkan suatu gagasan sehingga dapat menciptakan efek tertentu.

Penggunaan kata dalam mengungkapkan kesedihan dan kesakitan dalam puisi ini cukup menarik dan sangat terasa. Sehingga pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh sang penulis.

Tema yang terdapat dalam puisi “Memeluk Hampa, Menatap Asa” adalah semangat dalam menjalani hidup yang berat dan tidak berputus asa.

Hal ini tampak pada bait:

Angan semangat tiada henti

Laksana penuh kobaran api

Percaya do’a, percaya asa

Harapan masa gelap menggema

Puisi ini memiliki daya imajinasi yang cukup mendalam, sehingga pembaca dapat membayangkan rasa kesakitan yang dialami seseorang dalam puisi tersebut. Kesakitan akan kesendirian, kesakitan akan sikap tidak acuh yang ditunjukkan oleh orang lain.

Banyak kata konkret yang terdapat dalam puisi ini. Kata konkret bertujuan untuk membangun imajinasi kepada pembaca, sehingga pembaca dapat seolah-olah merasakan apa yang dituliskan oleh sang penulis. Salah satu kata konkret dalam puisi ini ialah ‘tenggelam’. Kata ‘tenggelam’ di sini digambarkan sebagai seseorang yang jatuh ke dalam tempat yang sepi, sunyi, dan gelap.

Puisi ini memiliki memiliki beberapa majas, yaitu majas personifikasi salah satunya pada larik cercahan kotor membelai sepi. Majas personifikasi memiliki arti benda mati yang bersifat seolah-olah makhluk hidup, seperti dapat merasakan dan memiliki sifat. Lalu ada juga majas metafora pada larik yakinkan Tuhan merangkul kini. Larik ini menggambarkan bahwa keyakinan bahwa Tuhan selalu bersama kita, merangkul, dan membimbing kita untuk keluar dari tempat yang gelap. Majas hiperbola dalam puisi ini terdapat pada larik yakinkan diri menggapai bintang. Majas hiperbola memiliki arti sesuatu yang dilebih-lebihkan. Dalam kehidupan nyata seseorang tidak dapat menggenggam bintang, maka bintang di sini diartikan sebagai kehidupan yang cerah dan berwarna.

Rima pada puisi ini hampir semuanya berakhir dengan vokal /i/. Dalam hal ini pengulangan bunyi pada vokal /i/ memiliki makna yang menyedihkan, ketakutan rasa sakit, kesepian. Sehingga puisi ini menggambarkan kehidupan yang menyakitkan dan menyedihkan dalam kesendirian. Menahan rasa sakit akan cacian orang sekitar.

Ritme yang digunakan ketika membaca puisi ini ialah dengan suara yang dapat menggambarkan kesakitan dan kesedihan seperti menjerit dan terkadang dengan suara pelan agar memiliki kesan menyedihkan.

Makna yang dapat diambil pada puisi ini ialah, seberapa sakit kehidupan ini, seberapa menyedihkan kehidupan ini, sebanyak apapun orang yang pergi meninggalkan kita, percayalah akan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Percayalah bahwa Tuhan selalu bersama kita, percayalah segelap apapun kehidupan kita, suatu hari nanti akan bersinar terang selama kita tidak pernah menyerah, tidak berputus asa, dan berdoa kepada Tuhan.