Membayangkan Menjadi Vegetarian

Penulis dan Pengamat Kebijakan Publik, Mahasiswa S2 Sosiologi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fathin Robbani Sukmana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Ah apal kieu mending jadi vegetarian,”. Tahu begini mending jadi vegetarian.
Ya, sedikit kutipan obrolan di tongkrongan ojek daring di daerah Jakarta, sebut saja Kang Asep yang melontarkan pembicaraan ingin menjadi vegetarian.
“Ah memang na, anjeun hayang kitu, tuang sayuran wae. Naon enak na,”. Memangnya kamu mau makan sayuran terus? Apa enaknya, timbal Kang Jajang.
Pembicaraan antara orang sunda di tongkrongan pasukan “go green” saat itu dipicu oleh seorang mak-mak yang mungkin seorang vegetarian yang menyindir ibu-ibu hanya mengantre minyak goreng.
Wajar saja, Mak-mak yang memiliki status rakyat biasa di kalangan kami pun berpikir ulang tentang harga minyak goreng yang melangit dan juga langka.
Akibat melangitnya harga minyak goreng, akhirnya membawa obrolan hangat beberapa hari ini di tongkrongan ojol. Maklum saja, penghasilan kita bukan seperti Crazy rich yang berpenghasilan miliaran rupiah sebulan dan ujung-ujungnya menjadi Crazy. Tenang, penghasilan kita tetap halal walau hanya mendapatkan pasangan proklamator 1 lembar seharinya.
Pola-pola Lama yang Terbaca di Minyak Goreng
Sebelum harga melangit, kita melihat harga minyak goreng yang murah, 14 ribu per liter dan Pemimpin Negeri Konoha rela turun gunung memastikan harga minyak dan stok di lapangan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kamari mah, urang meser minyak kudu teu kenal heula ka pamajikan,” Kemarin saat minyak murah, beli minyak harus enggak kenal dulu sama istri. Lanjut cerita Kang Asep setelah membayangkan menjadi seorang vegetarian.
Saya pun yang memerhatikan cerita Kang Asep pun mengiyakan kejadian tersebut, lihat saja, saat minyak murah dan dibatasi, tidak sedikit ibu dan anak atau isri dan suami harus pura-pura tidak kenal karena takut kehabisan stok minyak.
Kang Asep bercerita bahwa istrinya lebih dulu turun 10 meter sebelum masuk ke minimarket, lalu selang 5 menit kemudian, baru dirinya masuk ke minimarket tersebut. Mereka, masing-masing membawa dua minyak, karena satu orang hanya dijatah 2 minyak 2 liter per harinya.
Tidak sedikit, masyarakat Konoha yang takut kehabisan stok minyak karena harga murah yang diberikan. Karena faktanya saya juga ikut berkeliling melihat stok minyak di harga 14 ribu, banyak yang habis dan tidak terpampang di display minimarket.
Namun, beberapa waktu lalu saat pemimpin Konoha melakukan launching harga baru minyak goreng menjadi 24 ribu, tiba-tiba stok minyak goreng melimpah, semua display terisi. Bahkan, stok di gudang kalau minyak goreng dibuka, mungkin volume minyaknya sama dengan volume air di Situ Gintung, Tangsel.
Mendengar Forum Ghibah Disccusion (FGD) di tongkrongan ojol mengenai minyak goreng saya jadi teringat awal-awal COVID-19 terjadi pola-pola seperti ini, awalnya murah, lalu langka, setelah itu harga naik dan stok melimpah. Bahkan bukan hanya masa pandemi, beberapa bahan pokok sejak dulu selalu ada pola dan masa seperti yang saya sebutkan.
Jika kita ingat, awal-awal Corona menyerang, permintaan pembelian masker meningkat, tiba-tiba stok masker habis. Salah satu alat kesehatan untuk menangkal virus seketika hilang dari peradaban. Entah ke mana perginya masker-masker itu.
Lalu tidak lama kemudian, harga masker melambung tinggi seperti umpan Tsubasa Ozora di Tim Nankatsu. Sangat tidak terjangkau. Bahkan satu box masker bisa mencapai harga satu cup kopi di perusahaan kopi yang terkenal (mahal).
Setelah harga melambung tinggi, tiba-tiba stok masker melimpah menjadi lautan masker. Bahkan banyak yang menerjunkan harganya dari 50 ribu menjadi 10 ribu. Azab para penimbun masker karena harganya jatuh.
Pola-pola harga masker ini sempat diterapkan di alat kesehatan, vaksin dan obat-obatan. Tapi sayangnya para “mafia” merasa gagal. Sehingga saat Omicron naik bukan masker dan alkes lagi yang dimainkan, tetapi minyak goreng yang menjadi sasaran karena sebagai kebutuhan kebanyakan dapur di Indonesia.
Menjadi Vegetarian
“Ah teu nanaon, sayur seeur manfaat sareng olahan na,” Ah tidak apa-apa. Sayur kan banyak manfaat dan olahannya balas Kang Asep.
Akhirnya saya pun menimpali ya sudah bapak-bapak, sekarang maksimalkan saja kerja biar semua bisa terbeli walaupun harga minyak melangit, tapi nanti juga akan kembali seperti harga-harga bahan pokok lainnya.
Karena setahu saya, menjadi seorang Vegetarian pun mahal. Makanya saya lebih memilih menjadi pemakan segala. Dan tentunya lebih banyak olah-olahan menggunakan minyak goreng dan terancam harga makanan yang sering saya makan harganya naik.
Daripada membayangkan menjadi vegetarian, saya lebih senang memakan nasi goreng, kwetiau goreng, gorengan mang ujang, berbagai olahan keripik tempe dan makanan berminyak yang berpotensi memunculkan kolesterol.
Saya tak habis pikir, bahwa ada mak-mak yang nyinyir karena banyak orang yang mengantre minyak goreng. Padahal saya yakin, dia dulunya senang berbagai makanan nusantara yang dimasak menggunakan minyak goreng.
Setelah FGD di tongkrongan ojol, akhirnya saya harus meninggalkan tongkrongan karena rasa lapar yang mendera. Akhirnya saya memutuskan untuk memasak bakwan dan tempe goreng. Tidak apa-apa minyak mahal, karena saya menggorengnya menggunakan air seperti yang dicontohkan netizen *eh.
Fathin Robbani Sukmana, Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik
