Healing di Kalangan Anak Muda: Kebutuhan atau Sekadar Gaya Hidup?

Mahasiswa UIN JAKARTA
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Fathir El Badri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, kata "healing" ada di mana-mana. Dari obrolan di kantin kampus sampai unggahan di Instagram, banyak anak muda bilang, "Aku butuh healing." Tapi sebenarnya, healing itu betul-betul kebutuhan, atau cuma ikut-ikutan tren?
Kenapa Anak Muda Butuh Healing
Hidup anak muda zaman sekarang tidak selalu ringan. Tugas kuliah menumpuk, kerjaan tidak ada habisnya, biaya hidup naik, dan tuntutan untuk "sukses di usia muda" terus membayangi. Tidak heran kalau banyak yang merasa lelah, bahkan sampai burnout.
Dalam kondisi seperti ini, memberi jeda untuk diri sendiri adalah hal yang wajar. Istirahat, bercerita pada orang terdekat, atau berkonsultasi dengan psikolog adalah bentuk healing yang sehat. Kesadaran soal kesehatan mental yang makin terbuka juga membuat orang tidak lagi gengsi mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Ketika Healing Berubah Jadi Gaya Hidup
Masalahnya, makna healing perlahan bergeser. Di media sosial, healing sering tampil sebagai liburan estetik, kafe instagramable, atau staycation yang harus difoto dan diunggah.
Akibatnya, muncul tekanan untuk ikut-ikutan. Ada yang merasa harus healing supaya tidak ketinggalan tren, padahal sebenarnya tidak sedang butuh. Ada juga yang terus-terusan "kabur" lewat liburan, padahal masalah aslinya belum disentuh. Begitu pulang, stres kembali datang, sementara isi dompet makin menipis.
Cara Membedakannya
Coba tanyakan pada diri sendiri beberapa hal ini:
Apakah aku melakukannya karena memang lelah, atau karena melihat orang lain melakukannya?
Setelah healing, apakah kondisiku benar-benar membaik?
Apakah aku sudah mencoba menghadapi sumber stresnya, bukan hanya menghindarinya?
Healing yang sehat membuat kita lebih tenang dan siap melanjutkan hidup. Healing yang sekadar gaya hidup hanya memberi rasa senang sesaat.
Healing Tidak Harus Mahal
Kabar baiknya, pemulihan diri tidak selalu butuh biaya besar. Tidur cukup, jalan kaki di sore hari, mematikan notifikasi sejenak, atau ngobrol dengan teman dekat sudah bisa sangat membantu. Kalau rasa lelah dan sedih terasa berat dan berkepanjangan, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Penutup
Jadi, healing itu kebutuhan atau gaya hidup? Jawabannya tergantung niat dan caranya. Healing adalah kebutuhan ketika dilakukan untuk benar-benar memulihkan diri, dan menjadi gaya hidup ketika hanya demi gengsi dan konten. Yang terpenting, jangan sampai kita lupa tujuan awalnya: merasa lebih baik, bukan sekadar terlihat baik-baik saja.
