Perubahan Perilaku Hidjo: Antara Tradisi dan Modernitas

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fathiya Nurul Khaira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karakter Hidjo dalam novel "Student Hidjo" mengalami transformasi sikap yang mencerminkan pertentangan antara tradisi lokal dan modernitas Barat saat menjalani pendidikan di Belanda. Pada awalnya, Hidjo digambarkan sebagai individu yang patuh pada nilai-nilai tradisional Jawa—sopannya, tertutup, dan menjunjung tinggi norma-norma sosial yang ada di komunitasnya. Namun, setelah berinteraksi dengan budaya Eropa, Hidjo mulai mengadopsi gaya hidup yang lebih terbuka dan individualistis, seperti berani bergaul dengan perempuan serta mengubah pola pikirnya, yang menunjukkan pengaruh besar modernitas terhadap dirinya.
Transformasi ini tidak hanya berpengaruh secara eksternal, tetapi juga mengganggu identitas serta nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari dirinya sebagai orang asli. Hidjo berupaya untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru agar dapat meningkatkan posisinya sebagai pelajar di tanah jajahan, bahkan mencontoh perilaku tuan kolonial sebagai taktik sosial. Akan tetapi, proses penyesuaian ini menimbulkan pertentangan internal dan ketidakpastian identitas, karena ia perlu menyeimbangkan antara menjaga jati diri budaya dan memenuhi tuntutan modernitas yang tidak dikenalnya.
Namun demikian, novel ini mengungkapkan bahwa akar tradisi tetap terikat erat pada Hidjo, terlihat dari keputusannya untuk menikahi Woengo, seorang wanita pribumi, alih-alih perempuan Eropa yang mencintainya. Ini menunjukkan bahwa walaupun terdampak oleh modernitas, identitas asli Hidjo masih tetap ada. Dengan demikian, perubahan sikap Hidjo mencerminkan persoalan rumit seorang pribumi yang berhadapan dengan modernitas dan kolonialisme, yang harus mengarungi antara tradisi yang tertanam dan dunia baru yang penuh tantangan.
