Sindrom Pemujaan Selebriti: Ketika Idola Menjadi Objek Obsesi

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Fathiya Radwa Ananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kamu mempunyai idola?
Jika punya, itu adalah hal yang wajar kok!
Hampir setiap orang pasti memiliki sosok yang dijadikan role model dalam hidup. Bahkan, saat sedang sedih, melihat sosok idola di layar kaca sudah bisa membuat kamu kembali bersemangat.
Eits, tapi apakah kamu tahu jika mengidolakan seseorang memiliki batasan? Jangan-jangan, rasa kagum kamu itu sudah berubah menjadi sebuah obsesi.
Untuk itu, kamu perlu mewaspadai akan adanya celebrity worship syndrome atau sindrom pemujaan selebriti dalam dirimu, yuk kita simak ulasan berikut!
Definisi Celebrity Worship Syndrome
Sebelumnya, pernahkah kamu mendengar celebrity worship syndrome atau sindrom pemujaan selebriti?
Kamu tentu tidak asing dengan kejadian seorang penggemar menguntit idolanya sampai ke rumahnya atau penginapan saat sedang bekerja di luar negeri. Fenomena tersebut merupakan salah satu gambaran dari sindrom pemujaan selebriti yang menjangkiti para penggemar.
Lantas, sebenarnya apa definisi dari celebrity worship syndrome?
Menurut (McCutcheon, Ashe, Houran, & Maltby, 2003) sindrom ini dapat didefinisikan sebagai bentuk hubungan satu arah di mana seseorang menjadi terobsesi terhadap selebriti. Sedangkan (Lynn, Lange & Houran, 2002) menyatakan celebrity worship adalah kondisi saat individu terobsesi kepada selebriti serta menjadi tertarik dengan kehidupan selebriti tersebut.
Tahapan-tahapan Celebrity Worship Syndrome
Menurut penelitian dari (Maltby, Giles, Barber, McCutcheon, 2005) celebrity worship dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1. Entertainment Social atau Hiburan Sosial
Ketika kamu senang membicarakan idolamu di depan teman-temanmu, tertarik saat melihat penampilan idola, dan senang saat melihat update-an idolamu di sosial media, kemungkinan kamu sedang berada di tahap entertainment social. Tingkatan ini merupakan tingkatan terendah dalam celebrity worship. (Maltby dkk, 2003) mencirikannya sebagai berikut:
a. Penggemar aktif mencari informasi mengenai idola yang disukai melalui sosial media
b. Penggemar senang membicarakan idola mereka kepada teman-temannya, apalagi jika teman-temannya memiliki idola yang sama.
2. Intense Personal Feeling atau Intens Personal
Saat kamu mulai memiliki perasaan intensif dan kompulsif terhadap segala hal yang berhubungan dengan idola, kemungkinan besar kamu sudah berada di tahapan kedua, yaitu intense personal feeling. Pada tahapan ini (Maltby dkk, 2003) mencirikan perilaku penggemar terhadap idola sebagai berikut :
a. Rasa Empati
Jika penggemar sudah memiliki rasa empati terhadap idolanya, biasanya mereka mampu merasakan apa yang dirasakan oleh idolanya. Misalnya, ketika idola yang dikagumi sedang sakit, penggemar akan merasa ikut sedih, menangis dan tidak bisa tidur bahkan mendatangi rumah sakit tempat idolanya dirawat.
b. Imitasi
Penggemar mulai meniru idolanya, mulai dari penampilan hingga gaya berbicara sang idola. Contohnya, penggemar ikut mengubah gaya rambut sehingga terlihat mirip dengan idolanya tersebut.
3. Borderline-pathological Tendency atau Batas Patologis
Jika kamu mulai memiliki fantasi tidak terkontrol pada idolamu dan kerap menganggap idolamu adalah milikmu, hati-hati, kemungkinan besar kamu sudah berada di tingkatan paling parah dari celebrity worship, yaitu tahap borderline pathological tendency. Pada tahapan ini, penggemar akan melakukan apa pun demi idola walaupun perilaku tersebut sebenarnya melanggar hukum. (Maltby dkk, 2003) mencirikannya sebagai berikut:
a. Penggemar memiliki perilaku dan fantasi yang tidak terkontrol terhadap idolanya. Penggemar mulai berkhayal bahwa idolanya sebagai pacar atau suami.
b. Penggemar berperilaku obsesif terhadap idolanya. Penggemar kerap obsesif sampai-sampai sang idola tidak boleh menjalin hubungan dengan orang yang dicintainya.
Dampak Celebrity Worship
Setelah membaca penjelasan di atas, pasti kamu langsung berpikir bahwa celebrity worship adalah perilaku negatif. Akan tetapi, penelitian membuktikan bahwa sebetulnya celebrity worship ini bisa menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif, lho!
Dampak Positif
a. Penggemar menjadikan idola sebagai motivasi untuk meraih cita-cita, mengembangkan kreativitas, dan meniru hal-hal positif idolanya (Maltby dkk, 2013).
b. Rasa kagum kepada idola adalah hal yang lumrah dan menjadi bagian dari perkembangan identitas diri individu. Sosok idola bisa dijadikan sebagai role model karena kemampuan yang dimilikinya (Maltby dkk, 2006).
Dampak Negatif
a. Rasa kagum terhadap idola membuat penggemar menghabiskan waktu dan materi. Penggemar rela menyia-nyiakan waktu di depan gadget agar tidak tertinggal berita terbaru mengenai idolanya dan penggemar juga tidak ragu menghabiskan uang tabungannya untuk membeli barang yang berhubungan dengan idolanya. (Nasution, 2018)
b. Celebrity worship bisa menyebabkan rendahnya harga diri remaja (Frederika, 2015)
c. Celebrity worship bisa menyebabkan kinerja kerja dan kinerja belajar rendah (Sheridan, 2007)
Apakah ada cara untuk mencegah celebrity worship pada seseorang?
Menurut Maltby, et al. (2002) salah satu cara untuk mencegah terjadinya sindrom pemujaan selebriti adalah menjadi pribadi yang religius dan memiliki patuh kepada Tuhan. Dengan demikian, individu tersebut akan memiliki peluang yang kecil untuk terlibat dalam celebrity worship.
Mengidolakan seseorang bukanlah tindakan yang salah. Tidak bisa dipungkiri bahwa idola bisa menjadi panutan bagi para penggemarnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, termasuk dalam mengidolakan seseorang. Jangan sampai rasa kagummu itu berubah menjadi sebuah obsesi yang akan merugikan dirimu dan idolamu. Jadikanlah idolamu sebagai inspirasi, bukan sebagai objek obsesi. Idolamu tetaplah seorang manusia yang ingin memiliki rasa aman dan nyaman dalam hidupnya.
Don't trust too much, don't love too much, don't hope too much. because that too much can hurt you so much.
Jadikanlah idolamu sebagai inspirasi, bukan sebagai objek obsesi
Daftar Pustaka
Maltby, J., Houran, M.A., & McCutcheon, L.E. 2003. A Clinical Interpretation ofAttitudes and Behaviors Associated with Celebrity Worship. The Journal of Nervousand Mental Deseases.
Maltby, J., dkk. 2004. Personality and coping: A context for examining celebrity worship and mental health. British Journal of Psychology. Vol. 95, September: 411-428.
Maltby, J., Giles, D. C., Barber, L., & McCutcheon, L. E. 2005. Intense-personal celebrity worship and body image: evidence of a link among female Adolescents. British Journal of Health Psychology, 10(2005),1732.
Maltby, Jhon, Chapman, Moore, Jhon D. 2006. Extreme Celebrity Worship, Fantasi Proneness and Dissociation: Developing the measurement and Understading of Celebrity Worship within Clinical Personality Context. Personalities and Individual Difference.
Maltby, John, dan Liz Day. 2011. Celebrity Worshipand Incidence of Elective Cosmetic Surgery: Evidence of a Link Among Young Adults. Journal of Adolescent Healt 49 (2011) 483-489.
Nasution, Nadira Wulandari. 2018. Hubungan Keterampilan Sosial Dengan Celebrity Worship Pada Remaja Di Komunitas Korean Cultural Centre Medan. Skripsi.Universitas Medan Area. Medan.
Benu, J. M. Y., Takalapeta, T., & Nabit, Y. (2019). Perilaku Celebrity Worship pada Remaja Perempuan. Journal of Health and Behavioral Science, 1(1), 13–25.
Sheridan, L., North, A., Maltby, J. & Gillet, R. 2007. Celebrity Worship, Addiction and Criminality. Article Psychology, Crime and Law.
