Konten dari Pengguna

BI-Rate 5,75 Persen: Apa Artinya bagi Kantong Masyarakat?

FATHIYAH NUR HADI

FATHIYAH NUR HADI

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di angka 5,75 persen, sebagian masyarakat mungkin hanya menganggapnya sebagai berita ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, keputusan tersebut sebenarnya bisa berkaitan dengan berbagai hal yang kita rasakan, mulai dari nilai rupiah, harga barang, hingga biaya pinjaman.

Pada 18–19 Agustus 2026, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. BI juga mempertahankan Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Keputusan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga inflasi, sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.

Keputusan tersebut menjadi semakin menarik jika melihat kondisi rupiah saat ini. Berdasarkan data BI, JISDOR pada 15 September 2026 berada di sekitar Rp17.687 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya berada di Rp17.635.

Lalu, apa hubungannya dengan masyarakat?

Sederhananya, suku bunga merupakan salah satu alat yang digunakan BI untuk menjaga kondisi perekonomian. Ketika kondisi ekonomi dan nilai tukar menghadapi tekanan, kebijakan suku bunga dapat menjadi salah satu bagian dari respons moneter.

Namun, menjaga stabilitas ekonomi bukan perkara sederhana. Di satu sisi, stabilitas rupiah dan inflasi perlu dijaga. Di sisi lain, kegiatan ekonomi juga membutuhkan konsumsi, investasi, serta penyaluran kredit.

BI sendiri tidak hanya mengandalkan BI-Rate. Dalam kebijakan terbarunya, BI juga menggunakan berbagai instrumen untuk memperkuat stabilitas rupiah, meningkatkan likuiditas perbankan, serta mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor-sektor tertentu.

Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter sebenarnya bukan sekadar soal angka 5,75 persen.

Ketika rupiah melemah, masyarakat bisa ikut merasakan

Nilai tukar rupiah mungkin terlihat seperti angka yang hanya diperhatikan oleh pelaku pasar. Padahal, perubahan nilai tukar dapat memiliki dampak yang lebih luas.

Indonesia masih melakukan kegiatan perdagangan dengan negara lain. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya untuk memperoleh barang atau bahan baku yang dibayar menggunakan dolar dapat meningkat. Dampaknya kemudian berpotensi terasa pada dunia usaha dan harga barang tertentu.

Karena itu, menjaga stabilitas rupiah menjadi salah satu perhatian penting BI. Dalam laporan kebijakan moneternya, BI menyebut ketidakpastian global dan gejolak global sebagai salah satu pertimbangan dalam mempertahankan BI-Rate 5,75 persen.

Tetapi masyarakat juga membutuhkan ekonomi yang terus bergerak

Di sinilah tantangan kebijakan moneter muncul. Masyarakat tidak hanya membutuhkan harga yang stabil. Mereka juga membutuhkan lapangan pekerjaan, usaha yang berkembang, kredit yang dapat diakses, dan daya beli yang terjaga.

Jika biaya pinjaman terlalu berat, masyarakat maupun pelaku usaha bisa lebih berhati-hati dalam mengambil kredit. Sebaliknya, kebijakan yang terlalu longgar juga perlu memperhatikan risiko terhadap inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Oleh karena itu, kebijakan moneter membutuhkan keseimbangan. Stabilitas tetap penting, tetapi pertumbuhan ekonomi juga tidak boleh dilupakan.

Jadi, apa artinya bagi kantong kita?

BI-Rate 5,75 persen bukan berarti harga semua barang akan otomatis naik atau turun. Dampaknya tidak bekerja secara langsung seperti itu.

Namun, keputusan BI dapat memengaruhi kondisi ekonomi melalui berbagai jalur, seperti suku bunga perbankan, nilai tukar, likuiditas, kredit, investasi, dan inflasi.

Bagi masyarakat, yang paling penting bukan hanya mengetahui bahwa BI-Rate berada di angka 5,75 persen. Kita juga perlu memahami mengapa angka tersebut dipertahankan dan bagaimana kebijakan tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ekonomi moneter bukan hanya urusan Bank Indonesia atau para ekonom. Ketika rupiah bergerak, suku bunga berubah, atau harga barang mengalami perubahan, masyarakat biasa pun ikut merasakan dampaknya.

Karena itu, memahami kebijakan moneter berarti memahami salah satu bagian dari kehidupan ekonomi kita sendiri.

ilustrasi hasil AI