Bukan Karena Tak Siap, Tapi Terlalu Takut Dinilai: Kecemasan Akademik Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lingkungan kampus, kecemasan akademik sering kali tersembunyi. Banyak mahasiswa terlihat baik-baik saja di kelas, terlibat aktif dalam perkuliahan, dan menyelesaikan tugas pada waktunya. Akan tetapi, ketika harus menyampaikan presentasi atau menjalani ujian lisan, respons tubuh mereka beralih. Jantung berdegup kencang, tangan bergetar, dan pikiran tiba-tiba hampa.
Kondisi semacam ini sering kali dipandang sebagai indikasi ketidak cukupan persiapan. Sementara itu, banyak mahasiswa yang sebenarnya telah belajar dengan giat. Yang menjadi kendala bukan pemahaman materi, melainkan tekanan mental yang timbul akibat ketakutan untuk dinilai. Khawatir melakukan kesalahan, khawatir dianggap bodoh, dan khawatir dibandingkan dengan mahasiswa yang lain.
Tekanan itu tidak datang begitu saja. Budaya akademik yang sangat menekankan nilai, peringkat, dan kinerja turut membentuk rasa cemas tersebut. Di banyak ruang kelas, kesalahan masih sering dianggap sebagai kegagalan, bukan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa yang menunjukkan kepercayaan diri lebih cepat mendapatkan penghargaan, sedangkan yang cemas sering kali diartikan sebagai kurang mampu.
Akibatnya, proses pembelajaran menjadi tidak bermakna. Mahasiswa belajar agar tidak melakukan kesalahan, bukan untuk memperoleh pemahaman. Presentasi menjadi beban, alih-alih menjadi tempat untuk berdiskusi. Dalam jangka waktu yang lama, situasi ini bisa mengurangi rasa percaya diri dan memengaruhi kesehatan mental mahasiswa.
Kecemasan akademik bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah lingkungan. Kampus sebagai tempat belajar seharusnya tidak hanya fokus pada pencapaian akademis, tetapi juga memperhatikan keadaan psikologis mahasiswanya. Peran pengajar dan lembaga sangat crucial dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan mendukung.
Mahasiswa tidak hanya sekadar subjek yang dinilai. Mereka adalah orang-orang yang tengah belajar, disertai dengan ketakutan dan keraguan. Jika universitas ingin sejati menjadi lokasi berkembang, maka kesempatan untuk berbuat salah dan belajar dari kesalahan harus dibuka selebar-lebarnya. Tanpa hal itu, kecemasan akan tetap menjadi bayangan di dunia akademik
