Harga Emas Dunia Naik, Apa Dampaknya bagi Ekspor Indonesia?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kenaikan harga emas dunia menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan luar negeri Indonesia. Sebagai negara yang memiliki sumber daya emas, kenaikan harga komoditas ini sebenarnya dapat menjadi peluang untuk meningkatkan penerimaan ekspor dan devisa.
Ketika harga emas meningkat, nilai penjualan emas ke pasar internasional berpotensi ikut meningkat, terutama jika volume ekspornya tetap atau bertambah. Namun, menurut saya, Indonesia tidak seharusnya hanya melihat kenaikan harga emas sebagai kesempatan untuk menjual lebih banyak emas ke luar negeri.
Justru, momentum tersebut seharusnya digunakan untuk memperkuat industri pengolahan emas di dalam negeri.
Kenaikan Harga Emas Belum Tentu Cukup
Kenaikan harga emas memang dapat memberikan keuntungan bagi negara dan perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan. Namun, keuntungan tersebut tidak otomatis membuat perekonomian Indonesia mendapatkan manfaat yang maksimal.
Nilai ekspor tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh jumlah produksi, volume ekspor, permintaan pasar internasional, serta kemampuan industri dalam negeri mengolah komoditas tersebut.
Artinya, Indonesia tidak cukup hanya berharap harga emas dunia terus meningkat. Indonesia juga perlu meningkatkan nilai tambah dari emas yang dihasilkan. Menurut saya, di sinilah kebijakan hilirisasi menjadi penting.
Jangan Hanya Mengekspor, Tingkatkan Nilai Tambah
Selama ini, sumber daya alam sering dipandang sebagai komoditas yang dapat dijual ke pasar internasional. Padahal, jika sebagian proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, manfaat ekonominya dapat menjadi lebih besar.
Penelitian dalam Indonesian Mining Journal yang menggunakan analisis input-output menunjukkan bahwa sektor pengolahan emas memiliki keterkaitan hulu dan hilir yang tinggi dengan sektor industri lainnya di dalam negeri. Artinya, kegiatan pengolahan emas tidak berdiri sendiri, tetapi dapat berhubungan dengan berbagai sektor ekonomi lainnya.
Hasil penelitian tersebut menurut saya menjadi alasan kuat mengapa Indonesia perlu memperhatikan pengolahan emas, bukan hanya kegiatan pertambangannya.
Jika emas diolah di dalam negeri, kegiatan ekonomi yang muncul dapat menjadi lebih luas. Tidak hanya perusahaan tambang yang mendapatkan manfaat, tetapi juga industri pengolahan, tenaga kerja, jasa transportasi, perdagangan, hingga usaha pendukung lainnya.
Hilirisasi Bisa Membawa Manfaat Lebih Besar
Pentingnya hilirisasi juga terlihat dari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan sektor mineral lainnya.
Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2024 menjelaskan bahwa kebijakan hilirisasi mineral ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang di dalam negeri. Hilirisasi juga telah mendorong peningkatan investasi dan perkembangan kawasan industri berbasis mineral, terutama di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua.
Bank Indonesia juga mencatat bahwa berkembangnya hilirisasi mineral mendorong peningkatan ekspor produk bernilai tambah dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap ekspor barang mentah.
Menurut saya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam sebaiknya tidak hanya dimanfaatkan dengan cara mengambil dan menjualnya. Indonesia perlu membangun industri yang mampu mengolah sumber daya tersebut sehingga manfaat ekonominya dapat bertahan lebih lama di dalam negeri. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada emas.
Emas Bisa Menciptakan Efek Ekonomi yang Lebih Luas
Jika industri pengolahan emas semakin berkembang, manfaatnya berpotensi tidak berhenti pada penerimaan ekspor. Industri tersebut juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan investasi, dan meningkatkan permintaan terhadap berbagai sektor pendukung.
Penelitian mengenai sektor pertambangan mineral logam di Indonesia juga menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan yang hanya menjual bahan baku memberikan dampak yang relatif kecil terhadap Produk Domestik Bruto. Penelitian tersebut menyarankan pembangunan industri pengolahan dan pemurnian agar nilai tambah sektor mineral dapat meningkat.
Hal ini menunjukkan bahwa yang penting bukan hanya berapa banyak emas yang Indonesia miliki, tetapi juga berapa besar nilai ekonomi yang bisa diciptakan dari emas tersebut.
Bayangkan jika emas yang ditambang tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga diproses menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Semakin banyak tahapan produksi yang dilakukan di dalam negeri, semakin banyak pula aktivitas ekonomi yang berpotensi tercipta.
Namun, Jangan Lupakan Lingkungan
Di balik peluang ekonomi tersebut, ada persoalan yang tidak boleh diabaikan, yaitu dampak lingkungan.
Peningkatan harga emas dapat mendorong semakin tingginya minat terhadap kegiatan pertambangan. Jika tidak dikelola dengan baik, peningkatan aktivitas pertambangan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan memberikan dampak kepada masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.
Karena itu, menurut saya, peningkatan ekspor emas harus berjalan bersama dengan pengawasan lingkungan yang ketat.
Pemerintah perlu memastikan kegiatan pertambangan memenuhi standar lingkungan, melakukan reklamasi, serta memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. Jangan sampai keuntungan ekonomi yang diperoleh dalam jangka pendek justru menimbulkan biaya sosial dan lingkungan yang besar di kemudian hari.
Hilirisasi juga seharusnya tidak hanya berarti membangun fasilitas pengolahan sebanyak-banyaknya. Teknologi yang digunakan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta keberlanjutan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari kebijakan.
Kenaikan Harga Emas Adalah Momentum
Menurut saya, kenaikan harga emas dunia merupakan momentum yang perlu dimanfaatkan Indonesia, tetapi bukan sekadar untuk meningkatkan ekspor.
Indonesia perlu menggunakan momentum tersebut untuk memperkuat industri pengolahan, meningkatkan teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, serta menciptakan rantai industri emas yang lebih kuat di dalam negeri.
Dengan begitu, ketika harga emas dunia meningkat, Indonesia tidak hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan komoditas, tetapi juga memperoleh manfaat dari aktivitas industri yang tercipta di dalam negeri.
Pada akhirnya, emas bukan sekadar barang tambang yang dapat dijual ke luar negeri. Emas merupakan sumber daya yang dapat menjadi bagian dari penguatan industri nasional jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Jika Indonesia mampu menjawab pertanyaan tersebut, kenaikan harga emas dunia tidak hanya menjadi keuntungan sementara, tetapi dapat menjadi momentum untuk membangun perekonomian yang lebih kuat dan bernilai tambah.
