Konten dari Pengguna

Inflasi dan Daya Beli: Apa Kata Data?

FATHIYAH NUR HADI

FATHIYAH NUR HADI

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa uang Rp100 ribu sekarang lebih cepat habis dibandingkan beberapa waktu lalu? Bukan cuma perasaan. Ketika harga berbagai barang dan jasa meningkat, kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan dengan jumlah uang yang sama dapat ikut berubah. Fenomena inilah yang berkaitan dengan inflasi dan daya beli.

Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi 2026, yaitu 2,5% ± 1%.

Namun, apakah angka 3,19 persen tersebut berarti daya beli masyarakat juga menurun? Jawabannya tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari satu angka. Di sinilah ekonometrika menjadi menarik.

Dari Harga ke Angka

Ekonometrika pada dasarnya membantu kita melihat hubungan antarvariabel ekonomi menggunakan data. Dalam kasus ini, kita dapat melihat inflasi sebagai variabel X dan daya beli masyarakat sebagai variabel Y.

Secara sederhana, hubungan tersebut dapat dianalisis menggunakan regresi:

Daya Beli = a + b Inflasi + e

Melalui analisis tersebut, kita dapat melihat apakah perubahan inflasi memiliki hubungan dengan perubahan daya beli berdasarkan data yang tersedia.

Mengapa hal ini penting? Karena kondisi ekonomi masyarakat tidak selalu sama. Ketika harga naik, dampaknya bisa berbeda antara masyarakat dengan pendapatan rendah, menengah, maupun tinggi. Pendapatan, lapangan pekerjaan, pola konsumsi, dan harga kebutuhan pokok juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan.

Jadi, kita tidak bisa hanya mengatakan, “inflasi naik berarti semua orang pasti semakin sulit membeli.” Kita perlu melihat datanya.

Angka Inflasi Ada di Balik Kehidupan Sehari-hari

Inflasi mungkin terdengar seperti istilah yang hanya dibicarakan ekonom atau pemerintah. Padahal, dampaknya dapat terasa dalam aktivitas sederhana.

Ketika harga kebutuhan meningkat, masyarakat mungkin mulai mengurangi pembelian barang tertentu, mencari produk yang lebih murah, atau mengubah prioritas pengeluaran.

Bagi pelaku usaha, kenaikan harga bahan baku juga dapat meningkatkan biaya produksi. Jika harga jual dinaikkan, konsumen mungkin mengurangi pembelian. Jika harga tidak dinaikkan, keuntungan usaha bisa tertekan.

Artinya, perubahan harga dapat memengaruhi keputusan ekonomi banyak pihak.

Apa Kata Data?

Inilah alasan mengapa data menjadi penting. Dengan menggunakan data inflasi dan indikator daya beli dalam beberapa periode, peneliti dapat melakukan analisis korelasi maupun regresi untuk melihat pola hubungan keduanya.

Jika hasil analisis menunjukkan hubungan negatif, misalnya, maka kenaikan inflasi dalam data penelitian berjalan bersamaan dengan penurunan indikator daya beli. Tetapi hasil tersebut tetap harus dibaca secara hati-hati karena daya beli tidak hanya dipengaruhi inflasi.

Justru di sinilah menariknya ekonometrika. Kita tidak sekadar menebak, tetapi mencoba menguji dugaan menggunakan data.

Ekonometrika Bukan Sekadar Rumus

Bagi mahasiswa ekonomi, ekonometrika sering kali identik dengan regresi, variabel, koefisien, dan angka-angka yang cukup membuat pusing.

Padahal, di balik rumus tersebut terdapat pertanyaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Mengapa konsumsi berubah? Apakah kenaikan harga benar-benar berkaitan dengan menurunnya daya beli? Seberapa kuat hubungan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang dapat dijawab dengan bantuan data. Pada akhirnya, inflasi bukan hanya angka yang muncul dalam laporan ekonomi. Di balik angka tersebut ada harga barang, pengeluaran rumah tangga, keputusan konsumen, dan kondisi kehidupan masyarakat.

Karena itu, memahami inflasi melalui ekonometrika bukan sekadar belajar menghitung. Kita sedang belajar membaca cerita ekonomi melalui data.

ilustrasi AI