Saat Baju 50 Ribu Mengalahkan Batik: Mikroekonomi di Balik Fast Fashion

Mahasiswa Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Biaya Marginal: Mengapa Pakaian Murah Selalu Unggul
Dari sudut pandang mikroekonomi, pertempuran ini dimenangkan oleh fast fashion karena keunggulan mutlaknya dalam menekan biaya marginal biaya untuk memproduksi tambahan satu unit.
Merek global beroperasi dengan skala ekonomi besar dan pusat fasilitas produksi. Produksi dalam jutaan unit memungkinkan mereka mengurangi biaya bahan baku (seringkali menggunakan poliester murah), sehingga biaya overhead (listrik dan pabrik) menjadi sangat minim per potong.
Akan tetapi, harga Rp50 ribu tersebut tidak asli. Harga ini hanya dapat dicapai dengan mengorbankan mutu, membayar buruh secara tidak adil, dan yang terpenting, mengesampingkan biaya eksternal. Biaya pencemaran air, akumulasi limbah tekstil, dan kerusakan lingkungan lainnya tidak ditanggung oleh produsen, melainkan oleh masyarakat dan lingkungan. Inilah mikroekonomi yang tidak transparan.
Dilema Elastisitas dan Utilitas Pengguna
Kemudian, alasan mengapa pelanggan kita memilih Baju Rp50 Ribu? Penyelesaiannya ada pada tingginya elastisitas harga permintaan.
Sebagian besar konsumen, khususnya yang mengikuti tren, memiliki kemampuan belanja yang terbatas tetapi keinginan untuk tampil kekinian yang besar. Saat tren berubah dengan cepat, pakaian menjadi barang yang dapat dibuang setelah sekali pakai. Bagi mereka, nilai dari pakaian murah yang memenuhi tren sementara lebih tinggi dibandingkan dengan nilai Batik yang tahan lama.
Batik, sebagai produk mode lambat dengan nilai seni, memiliki biaya tetap yang besar (upah pembatik, lilin, pewarna alami). Peningkatan harga Batik menunjukkan bahwa produk tersebut termasuk dalam kelompok barang inelastis; hanya mereka yang sungguh-sungguh menghargai seni atau nilai budayanya yang mau membayar. Batik juga berpindah dari barang sehari-hari menjadi sesuatu yang hanya dibeli pada momen tertentu.
Jalan keluar: Menerapkan Biaya dan Mengubah Paradigma
Ketidakpastian ekonomi ini berisiko membahayakan eksistensi UMKM lokal. Pemerintah serta konsumen memainkan peran penting untuk mengubah penghitungan ini.
1. Internalisasi Biaya Eksternal (Peran Pemerintah)
Pemerintah perlu berani menetapkan harga Baju Rp50 Ribu agar lebih realistis.
Pajak Eksternalitas (Pajak Limbah Tekstil): Terapkan bea masuk tinggi atau pajak penjualan bertingkat untuk pakaian yang terbuat dari bahan sintetis dan cara produksi yang merusak. Tujuannya adalah meningkatkan titik impas (break-even point) produk fashion cepat tersebut.
Subsidi Inovasi: Tawarkan insentif pajak (diskon pajak atau bantuan bunga) untuk UMKM yang memanfaatkan pewarna alami dan mengimplementasikan sistem produksi tanpa limbah. Ini akan membantu Batik mengurangi biaya operasional (biaya internal) mereka sehingga harga jual Batik yang berkualitas dapat lebih bersaing.
2. Edukasi Konsumen: Mengubah Perhitungan Manfaat
Konsumen perlu diarahkan untuk mengubah cara mereka menghitung utilitas dari "Harga Pembelian" menjadi "Biaya per Pemakaian" (Cost per Wear).
Baju seharga Rp50 ribu yang dipakai tiga kali memiliki biaya per pemakaian sebesar Rp16.667. Sementara, Batik yang berkualitas dan dihargai Rp300.000, dipakai 50 kali selama bertahun-tahun, hanya memiliki biaya per penggunaan sebesar Rp6.000. Dalam konteks mikroekonomi, Batik merupakan alternatif yang jauh lebih efisien dan logis untuk pembelian dalam jangka panjang.
Apabila kita tidak berhasil mengambil tindakan ini, kita akan terus mendanai pembuat Baju Rp50 Ribu yang merusak lingkungan dan membuat pekerja jadi miskin.
