Suku Bunga, Rupiah,dan Daya Beli: Apa yang Sedang Terjadi pada Ekonomi Indonesia

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari FATHIYAH NUR HADI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar istilah BI-Rate, nilai tukar rupiah, atau inflasi, sebagian masyarakat mungkin merasa hal tersebut hanya berkaitan dengan dunia perbankan dan ekonomi. Padahal, kebijakan moneter sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perubahan suku bunga dan nilai rupiah dapat memengaruhi harga barang, biaya pinjaman, hingga kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan.
Saat ini, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Keputusan tersebut menarik untuk diperhatikan karena kondisi ekonomi Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh keadaan dalam negeri. Perubahan ekonomi global juga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, harga beberapa barang yang berkaitan dengan produk impor dapat ikut terdampak. Karena itu, menjaga stabilitas rupiah menjadi salah satu perhatian penting dalam kebijakan moneter.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu melihat kondisi inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen ± 1 persen.
Namun, angka inflasi yang masih berada dalam sasaran bukan berarti persoalan daya beli masyarakat selesai. Masyarakat tetap dapat merasakan perubahan harga barang dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, BPS mencatat beberapa komoditas seperti beras, elpiji nonsubsidi, dan sejumlah barang lainnya mengalami kenaikan harga perdagangan besar pada Agustus 2026.
Di sinilah hubungan antara suku bunga, rupiah, dan daya beli menjadi penting. Kebijakan suku bunga dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi, tetapi pada saat yang sama kondisi suku bunga juga dapat memengaruhi keputusan masyarakat dan pelaku usaha dalam meminjam uang. Bagi masyarakat yang memiliki pinjaman, perubahan suku bunga dapat berhubungan dengan beban pembayaran. Sementara bagi pelaku usaha, kondisi suku bunga dapat menjadi pertimbangan ketika ingin memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Menurut saya, tantangan kebijakan moneter bukan hanya bagaimana menjaga rupiah dan inflasi, tetapi juga bagaimana memastikan kondisi ekonomi tetap dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Stabilitas ekonomi memang penting, tetapi pertumbuhan ekonomi juga perlu berjalan sehingga masyarakat dan dunia usaha tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak melihat kebijakan BI hanya dari angka 5,75 persen. Di balik angka tersebut terdapat berbagai pertimbangan mengenai rupiah, inflasi, perbankan, dunia usaha, dan kondisi ekonomi masyarakat. Pemahaman mengenai ekonomi moneter juga penting agar masyarakat dapat lebih memahami mengapa suatu kebijakan dibuat dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan pertumbuhan ekonomi bukanlah tugas yang sederhana. Kebijakan moneter perlu terus disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang berkembang, sementara masyarakat juga perlu memahami perubahan tersebut agar dapat mengambil keputusan ekonomi dengan lebih bijak.
