Gattuso, Akankah Menjadi Korban 'Gambling' AC Milan Selanjutnya?
Tulisan dari Fathru Qalbie Septizar Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Vincenzo Montella resmi dipecat oleh AC Milan Rabu (27/11) kemarin, Montella dianggap gagal memenuhi ekspektasi klub yang pada awal musim gencar membeli pemain bintang. Dipecatnya Montella membuat milanisti berharap AC Milan bisa merekrut pelatih yang berpengalaman dan berkompeten untuk meracik skuat AC Milan, salah satu yang diharapkan adalah kembalinya Carlo Ancelloti untuk menukangi I Rossoneri.
Namun para fans AC Milan menambah kuota kesabaran mereka setelah klub menunjuk mantan pemain sekaligus legenda AC Milan, Gennaro Gattuso. Gattuso dikontrak sampai 2019 dan diharapkan mampu menjawab semua keraguan akan dirinya.
Sebagai pemain, Gattuso dikenal ganas dalam menghadapi lawan dan memiliki karakter pejuang dalam dirinya. 13 tahun berseragam AC Milan dan berbagai gelar dia berikan membuat si badak memiliki tempat di hati dan pikiran milanisti.
Kembali kepada kursi kepelatihan, Gattuso memulai karir sebagai Allenatore saat menukangi Palermo pada 2013 lalu, tidak berselang lama ia di pecat dan melatih klub kasta kedua Yunani, OFI Crete setahun kemudian itupun hanya bertahan 5 bulan.
Pada 2015, Gattuso kembali menguji kepelatihannya dengan menukangi AC Pisa selama 2 tahun. Sampai akhirnya pada pertengahan 2017 lalu, Gattuso dipilih sebagai pelatih AC Milan U-19. Dianggap sukses membina tim muda, sekarang ia diangkat menjadi pelatih senior dan diharapkan bisa melakukan hal yang sama.
'Gambling' AC Milan
Menuju topik, apakah Gattuso merupakan hanya 'korban' dari spekulasi pemilihan pelatih oleh klub? AC Milan dikabarkan kembali mengalami masalah finansial setelah awal musim belanja pemain secara radikal. Dengan harapan pelatih karakter pejuang seperti Antonio Conte, namun dengan gaji minim akhirnya klub memilih sosok Gennaro Gattuso.
AC Milan bukan kali ini saja menaruh ekspektasi lebih pada kursi pelatih, setelah era Allegri Milan selalu menunjuk pelatih yang terkesan mengandalkan label 'legenda' klub saat menjadi pemain. Dengan pengalaman minim, pelatih-pelatih ini dibebankan memperbaiki performa klub agar tetap berada di level atas.
Korban pertama ialah Clarence Seedorf, penunjukan Seedorf sebagai pelatih sangat mengejutkan, Seedorf yang memiliki pengetahuan minim dalam kepelatihan harus dibebani dengan meneruskan kualitas tim peninggalan Allegri. Benar saja, dalam 22 pertandingan tim asuhan Seedorf saat itu hanya mampu memenangkan 11 pertandingan.
Tidak berselang lama ia pun dipecat dan digantikan oleh korban berikutnya yaitu Filippo Inzaghi, Inzaghi pun tidak bisa sehebat saat seperti pemain karena semakin membuat AC Milan terpuruk pada saat itu dan hanya memiliki 35 persen kemenangan.
Setelah itu Milan menunjuk Sinisa Mihajlovic sebagai pengganti, Mihajlovic memang cukup berpengalaman dalam melatih, namun ia juga tidak bisa mengembalikan keterpurukan AC Milan. Sampai akhirnya pelatih terbaru ialah Montella yang juga berlatar belakang mantan pemain bola, Montella sebenarnya mampu sedikit memperbaiki skuad Milan dengan memberikan satu gelar yaitu Super Copa Italia, Namun hingga saat ini cemoohan sebagai klub medioker tidak luput dari I Rosso
Sebagai pemegang beban terbesar klub, mampukah seorang Gattuso menjalankan tugas serius untuk mengembalikan AC Milan ke jajaran atas klub Italia bahkan Eropa? Sementara julukan korban selanjutnya sudah menunggu di depan mata. Menarik untuk ditunggu.

