Bikin Laper: Ketika Konten Kuliner Tak Cukup Hanya Mengandalkan Episode Baru

Mahasiswa universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Abdul Fathur rozy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai program kuliner, Bikin Laper memiliki materi yang sebenarnya cukup kuat untuk menarik perhatian penonton. Setiap episode dapat menghasilkan berbagai aset, mulai dari gambar makanan, lokasi kuliner, percakapan dengan narasumber, reaksi talent, hingga informasi mengenai menu yang dibahas. Namun, di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi media, muncul satu pertanyaan penting: apakah seluruh sumber daya tersebut sudah dimanfaatkan secara maksimal?
Menurut saya, persoalan utama yang dapat dilihat dari program seperti Bikin Laper bukan sekadar bagaimana membuat episode baru, tetapi bagaimana memanfaatkan kembali konten yang sudah diproduksi agar memiliki umur yang lebih panjang. Dengan kata lain, Bikin Laper perlu memaksimalkan kembali sumber daya konten yang sudah dimiliki agar tetap relevan dan mampu menjangkau audiens di tengah pola konsumsi media yang semakin multiplatform.
Konten Tidak Harus Berhenti Setelah Episode Selesai
Dalam Elemen Dasar Programming, terdapat konsep Conservation of Program Resources. Secara sederhana, konsep ini menekankan bagaimana sumber daya sebuah program dapat dimanfaatkan secara maksimal. Program tidak harus selalu bergantung pada produksi materi baru karena materi yang sudah ada masih dapat digunakan kembali melalui rerun, repackage, sindikasi, maupun distribusi multiplatform.
Eastman dan Ferguson (2012) menjelaskan bahwa pengelolaan program tidak hanya berkaitan dengan membuat sebuah tayangan, tetapi juga bagaimana sumber daya program tersebut dapat dimanfaatkan secara strategis. Konsep ini menjadi semakin relevan ketika sebuah program televisi tidak lagi hanya hidup di layar televisi.
Saat ini, satu episode dapat memiliki banyak kemungkinan bentuk. Materi yang awalnya digunakan untuk episode televisi dapat dipotong menjadi video pendek, foto makanan dapat menjadi konten visual, informasi mengenai tempat makan dapat dibuat menjadi konten informatif, sedangkan momen menarik dari talent dapat digunakan sebagai materi hiburan.
Artinya, satu kali produksi sebenarnya dapat menghasilkan banyak konten dengan fungsi yang berbeda.
Jika Bikin Laper hanya mengandalkan penayangan episode utuh di televisi, ada kemungkinan sebagian besar potensi kontennya tidak dimanfaatkan secara optimal. Padahal, penonton yang tidak sempat menonton televisi belum tentu tidak tertarik dengan program tersebut. Mereka mungkin justru menemukan program melalui potongan video di YouTube dan media sosial lainnya.
Hal ini juga terlihat dari format programnya. Dalam satu episode, pembawa acara biasanya mengunjungi beberapa tempat makan sekaligus dan mencicipi berbagai menu. Dari materi tersebut, terdapat beberapa bagian yang menurut saya sebenarnya dapat berdiri sendiri sebagai konten pendek, terutama reaksi pertama pembawa acara saat mencicipi makanan dan momen ketika mereka membahas menu andalan di tiap tempat.
Dari Satu Episode Menjadi Banyak Pintu Masuk
Perubahan pola konsumsi media membuat strategi programming tidak bisa sepenuhnya bergantung pada jadwal televisi. Webster (2014) menjelaskan bahwa perhatian audiens berada dalam sebuah marketplace yang sangat kompetitif. Audiens memiliki banyak pilihan dan dapat berpindah dari satu konten ke konten lain dengan mudah.
Karena itu, memperpanjang usia sebuah program melalui berbagai platform menjadi salah satu cara untuk mempertahankan perhatian audiens.
Bagi Bikin Laper, strategi tersebut sebenarnya cukup realistis. Tidak perlu membuat program baru untuk setiap platform. Materi yang sudah diproduksi dapat dikemas ulang sesuai karakter masing-masing media.
Episode televisi dapat tetap menjadi konten utama. Setelah itu, beberapa bagian menarik dapat dipecah menjadi video berdurasi pendek. Misalnya, satu video dapat fokus pada makanan paling unik dalam episode, video lain menampilkan reaksi talent, sementara konten lainnya memberikan informasi singkat mengenai tempat makan yang dikunjungi.
Pendekatan tersebut juga tidak berarti semua konten harus dipublikasikan secara bersamaan. Materi dapat dijadwalkan secara bertahap sehingga satu episode tetap memiliki kehidupan setelah selesai ditayangkan.
Bukan Sekadar Memotong Video Lama
Namun, repackage tidak berarti sekadar mengambil video lama lalu memotongnya secara sembarangan. Konten harus disesuaikan dengan kebiasaan audiens pada masing-masing platform.
Video yang cocok untuk televisi belum tentu menarik jika dipublikasikan dalam bentuk yang sama di media sosial. Oleh karena itu, bagian yang dipilih harus memiliki daya tarik sejak awal, durasinya disesuaikan, dan konteksnya tetap mudah dipahami meskipun penonton belum melihat episode lengkap.
Dalam hal ini, elemen Breadth of Appeal juga dapat menjadi pendukung. Program perlu memperhatikan bagaimana kontennya dapat menarik audiens yang lebih luas melalui unsur selection, promotion, dan evaluation. Artinya, konten lama tidak hanya digunakan kembali untuk menghemat sumber daya, tetapi juga harus dikemas dengan mempertimbangkan apa yang sedang menarik perhatian audiens.
Data juga penting untuk menentukan strategi tersebut. Misalnya, pengelola program dapat melihat data performa konten di YouTube dan media sosial untuk mengetahui jenis potongan yang paling banyak ditonton, dibagikan, atau mendapatkan respons dari audiens.
Dengan begitu, keputusan programming tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan perilaku audiens yang terlihat dari data.
Solusi yang Bisa Dilakukan
Menurut saya, solusi paling realistis adalah menerapkan sistem “satu episode, banyak aset konten.” Setiap episode Bikin Laper dapat dirancang sejak awal bukan hanya untuk menghasilkan satu tayangan televisi, tetapi juga beberapa materi turunan.
Sebelum episode tayang, dapat dibuat konten pendek sebagai pemancing rasa penasaran. Setelah episode tayang, bagian paling menarik dapat dipublikasikan kembali dalam beberapa format. Beberapa waktu kemudian, materi lama yang masih relevan dapat dikemas ulang dengan sudut pandang berbeda.
Misalnya, jika satu episode membahas makanan tertentu, materi tersebut dapat kembali digunakan ketika makanan atau lokasi tersebut sedang menjadi pembicaraan publik. Dengan cara ini, konten lama tidak terasa seperti sekadar tayangan ulang, tetapi memiliki konteks baru.
Strategi ini juga sesuai dengan gagasan Conservation of Program Resources yang dijelaskan Eastman dan Ferguson (2012), yaitu memaksimalkan nilai dari sumber daya program yang telah tersedia.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Bikin Laper harus terus membuat konten baru. Justru yang lebih penting adalah bagaimana program tersebut mampu mendapatkan nilai maksimal dari konten yang sudah diproduksi.
Televisi mungkin menjadi tempat awal sebuah episode ditayangkan, tetapi bukan berarti menjadi tempat terakhir konten tersebut hidup. Dengan pengemasan ulang yang tepat, satu episode Bikin Laper dapat memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang dan menjangkau penonton yang berbeda.
Bagi program kuliner, strategi seperti ini bukan hanya soal efisiensi produksi. Ini adalah cara agar konten tetap hidup, ditemukan kembali, dan terus memiliki alasan untuk dikonsumsi oleh audiens.
Daftar Pustaka
Couldry, N. (2012). Media, Society, World: Social Theory and Digital Media Practice.
Eastman, S. T., & Ferguson, D. A. (2012). Media Programming: Strategies and Practices (9th ed.).
Hidajanto, D. (2017). TV Programming.
Webster, J. G. (2014). The Marketplace of Attention: How Audiences Take Shape in a Digital Age.
Webster, J. G., Phalen, P. F., & Lichty, L. W. (2006). Ratings Analysis: The Theory and Practice of Audience Research.
Webster, J. G. (2006). “Audience Flow Past and Present: Television Inheritance Effects Reconsidered.”
Xiao, A. (2021). Going with the flow: Nudging attention online. New Media & Society, 23.
