Konten dari Pengguna

Berlarilah untuk Sehat dan Bahagia

Fathurrohman

Fathurrohmanverified-green

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berlarilah untuk sehat dan bahagia. Foto: koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Berlarilah untuk sehat dan bahagia. Foto: koleksi pribadi

Kaum malas gerak (mager) mungkin menjadi kaum dominan di sentaro negeri ini. Kaum ini sukanya adalah berdiam diri, nonton, berselancar di dunia maya, dan perilaku diam lainnya.

Saya sendiri bukan kaum tergolong yang aktif, suka olahraga, atau aktivitas aktif lainnya. Sampai tiba masa ketika seorang teman memberikan pengumuman di salah satu grup terkait challenge ASN Virtual Run 2022 dalam rangka menyambut HUT RI ke-77.

Terbujuk degan kalimat yang penting adalah dapat mencapai angka 77 km dalam waktu 24 hari yang ditentukan. Soal kecepatan rata-rata lari atau pace itu tidak penting.

Masuklah nama saya dalam salah satu tim yang didaftarkan dan saya pun mulai berlari sambil berjalan. Lari satu kilo meter, jalan dua kilo meter. Lari dua kilo meter, jalan empat kilo meter.

Pokoknya yang penting angka 77 km dapat diraih. Minggu pertama 10 km dapat diraih. Rasanya berat untuk mencapai target. Tapi tidak menyerah.

Sampailah pada titik ingin memperbaiki pace. Berupaya lari dan tidak dikombinasikan jalan. Satu km tanpa berhenti, dua km, tiga km, sampai dengan 5 km. Pencapaian yang memuaskan. Walaupun pace masih cukup tinggi, tapi tetap dalam hitungan lari.

Manfaat kemudian mulai dirasakan. Sakit kepala yang kerap hadir tanpa permisi, tidak lagi datang. Mengantuk saat berkendara juga tidak lagi kambuhan. Badan merasa lebih fresh. Ada sedikit kebahagiaan.

Ajang ASN Virtual Run selesai. Saya berhail menuntaskan 77 km. Umumnya lari di sekitar rumah dan kantor. Saya tetap berlari menerabas kepadatan Jakarta Pusat. Tidak peduli dengan oksigen Jakarta yang tipis dan tercemar.

Tibalah saya mengikuti kegiatan di komunitas berupa kemah sehat. Acara didesain sedemikian rupa dengan tujuan utama adalah memperbaiki kesehatan.

Satu materi istimewa adalah bagaimana memperbaiki pola makan, pola istirahat, dan pola olahraga yang benar. Materi yang sederhana dan hanya butuh konsistensi saja untuk mewujudkannya. Saya tertantang.

Lari mulai menjadi rutinitas. Tidak peduli waktu dan tempat. Saat dinas di Makassar, di sela-sela jadwal padat lomba karya tulis ilmiah, saya berlari di tepian Pantai Losari. Rasanya bahagia. Apalagi saat itu room mate saya ternyata adalah penyuka lari. Jadilah kami susuri jalanan utama Kota Makassar. Tidak sepadat dan sesumpek Ibu Kota tentunya.

Berlari di Pantai Losari. Foto: koleksi pribadi

Ternyata, lari di tempat-tempat eksotis semacam Pantai Losari memberikan arti tersendiri. Ada kepuasan yang selama ini tidak saya dapatkan. Perlahan mulai memahami kenapa beberapa rekan saya menyukai olahraga yang satu ini. Pikiran rasanya melayang saat melangkah terbang.

Keinginan untuk lari kembali hadir saat dinas di Lombok. Walaupun acara sangat padat tiada terkira, saya tidak menyerah untuk berlari. Apalagi berlari di jalanan pinggiran Pantai Senggigi, Lombok Barat. Oksigen tampak ramah sehingga nafas terasa lebih longgar.

Hari berikutnya, untuk melawan malas karena jam tidur hanya sekitar empat jam, saya paksakan ke Masjid di waktu subuh dengan mengenakan pakain olahraga.

Beruntungnya masjid dekat penginapan cukup ramah dengan menyediakan kain sarung untuk pengunjung. Setelah dzikir dan kahfian sejenak, saya berlari dan terus berlari. Rasanya bahagia.

Semburat cahaya matahari pagi, deburan ombak, angin laut, dan daun yang berguguran membuat romansa berlari semakin bergairah. Setiap keringat yang keluar adalah berkah kebahagiaan tersendiri.

Begitupun ketika bergeser ke derah Kuta Mandalika, Lombok Tengah. Bahkan, di daerah ini saya merasakan sensasi yang berbeda. Lari di area yang bersih, udara cerah, dan lari di sisi deburan ombak teluk rasanya ekslusif sekali.

Berlari untuk sehat adalah motivasi, tapi berlari untuk bahagia adalah mimpi indah yang mewujud. Apalagi di usia yang sudah melewati batas angka empat puluh. Itu adalah prestasi yang patut disyukuri. Tidak ada niatan lain selain sehat dan bahagia.

Saat beberapa teman mengajak berlari dalam eskalasi serius, meraih medali, lomba, dan dalam keramaian, saya urung untuk setuju. Lomba lari bukanlah tujuan. Lari dalam keramaian juga bukan sesuatu yang saya inginkan.

Lari adalah cara bebas berekspresi. Saya mencukupkan lari dalam raihan jarak 3 sampai 6 km saja. Tiga puluh menit yang penting rutin adalah cukup bagi saya untuk merasakan sehat dan bahagia.

Ini hanya soal berupaya agar tetap sehat dan bahagia. Seperti di Kuta Mandalika ini, saya saksikan beberapa orang yang berlari sendiri, tanpa keramaian atau kerumunan yang mewujud. Mereka tampak hanya ingin meraih dua hal, sehat dan bahagia.

Salam sehat dan bahagia, tanpa narkoba.

Berlari untuk sehat dan bahagia. Foto: koleksi pribadi.