Konten dari Pengguna

Fatherless yang Tidak Disadari

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ayah dan anak perempuan. Foto: TimeImage Production/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ayah dan anak perempuan. Foto: TimeImage Production/Shutterstock

Beberapa tahun terakhir, istilah fatherless semakin sering muncul dalam berbagai diskusi mengenai keluarga. Istilah ini bahkan menjadi penjelasan cepat bagi beragam persoalan anak, mulai dari rendahnya kepercayaan diri hingga kesulitan membangun hubungan ketika dewasa.

Sayangnya, fatherless sering dipahami secara sempit sebagai keadaan ketika seorang anak tumbuh tanpa ayah karena perceraian, kematian, atau penelantaran. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

Di banyak keluarga, ayah tinggal serumah, memenuhi seluruh kebutuhan ekonomi, membiayai pendidikan anak hingga jenjang tertinggi, dan tidak pernah mengabaikan tanggung jawab sebagai pencari nafkah.

Namun, di balik semua itu, anak tetap merasa kehilangan sosok ayah. Ia mengenal ayahnya, tetapi tidak merasa dekat dengannya. Ayah hadir secara fisik, tetapi absen dalam kehidupan emosional anak.

Fenomena inilah yang dalam psikologi perkembangan sering disebut sebagai psychological father absence atau ketiadaan ayah secara psikologis.

Ayah tidak cukup menjadi penanggung jawab ekonomi

Dalam masyarakat yang masih menempatkan laki-laki sebagai penanggung jawab utama ekonomi keluarga, tidak sedikit ayah yang mengukur keberhasilan pengasuhan dari kemampuan memenuhi kebutuhan materi. Semakin baik rumah yang dibangun, semakin tinggi pendidikan anak, atau semakin banyak fasilitas yang diberikan, semakin besar pula keyakinan bahwa tugas sebagai ayah telah ditunaikan.

Pandangan tersebut sebenarnya kurang tepat. Memberikan nafkah merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang ayah. Namun, persoalannya muncul ketika nafkah dianggap telah mewakili seluruh bentuk kasih sayang.

Bagi anak, terutama anak perempuan, perhatian tidak selalu diterjemahkan sebagai besarnya pengorbanan ekonomi. Mereka juga membutuhkan waktu, percakapan, pengakuan, pelukan, dukungan, dan keyakinan bahwa ayah benar-benar mengenal dunia mereka.

Hubungan emosional tidak dibangun melalui transfer materi, melainkan melalui pengalaman hadir secara konsisten dalam kehidupan anak.

Anak mengukur cinta melalui kualitas relasi, bukan besarnya pengorbanan ekonomi.

Internal working model

Psikolog Inggris John Bowlby melalui Attachment Theory menjelaskan bahwa hubungan awal antara anak dengan figur pengasuh akan membentuk internal working model, yaitu kerangka psikologis mengenai bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, orang lain, dan hubungan interpersonal. Kerangka inilah yang kemudian memengaruhi cara seseorang membangun relasi ketika dewasa.

Dalam konteks tersebut, ayah bukan sekadar pelindung atau pencari nafkah. Ia juga merupakan figur yang membantu anak membangun rasa aman terhadap dunia.

Khusus bagi anak perempuan, hubungan dengan ayah sering menjadi salah satu pengalaman awal mengenai bagaimana laki-laki hadir, menunjukkan kasih sayang, menyelesaikan konflik, serta memperlakukan perempuan dengan hormat.

Pengalaman itu tentu bukan satu-satunya faktor yang menentukan kehidupan seseorang. Akan tetapi, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas keterlibatan ayah memiliki hubungan dengan perkembangan kepercayaan diri, regulasi emosi, serta kemampuan membangun hubungan interpersonal di kemudian hari.

Karena itu, yang paling dibutuhkan anak bukanlah ayah yang sempurna, melainkan ayah yang dapat diakses secara emosional.

POV anak Perempuan terhadap Pernikahan

Sebagian anak kemudian mengembangkan keyakinan tertentu mengenai relasi laki-laki dan perempuan. Mereka memandang pernikahan sebagai ruang yang penuh ketidakpastian.

Ada yang menjadi sangat berhati-hati dalam memilih pasangan. Ada pula yang menunda bahkan menghindari pernikahan karena takut mengalami pengalaman yang mereka bayangkan pernah dialami ibunya.

Tentu tidak adil menyimpulkan bahwa setiap anak yang hidup dalam keluarga seperti ini pasti akan takut menikah atau mengalami gangguan psikologis.

Perkembangan manusia selalu dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kepribadian, lingkungan sosial, terpaan media sosial, pengalaman pendidikan, hingga dukungan dari keluarga besar.

Namun, pengalaman bersama ayah tetap merupakan bagian penting yang membentuk cara seseorang memahami relasi.

Karena itu, persoalan utamanya bukanlah semata-mata apakah seorang ayah tinggal serumah dengan anaknya, melainkan apakah ia sungguh hadir dalam kehidupan emosional anak tersebut.

Kesadaran Ayah yang terlambat

Ironisnya, banyak ayah baru menyadari jarak emosional itu ketika anak telah beranjak dewasa. Mereka terkejut ketika anak lebih memilih bercerita kepada ibu, lebih nyaman meminta pendapat orang lain, atau tidak lagi melibatkan ayah dalam berbagai keputusan penting dalam hidupnya.

Yang lebih berbahaya adalah ketika anak perempuannya lebih nyaman dengan laki-laki lain di luar rumah. Laki-laki yang belum tentu bertanggung jawab dan bahkan laki-laki toksik yang dapat merusak masa depannya.

Perlu difahami bahwa hubungan yang renggang jarang terbentuk oleh satu peristiwa besar. Ia lebih sering lahir dari akumulasi momen-momen kecil: percakapan yang tertunda, janji yang tidak ditepati, perhatian yang terus dialihkan kepada pekerjaan, atau kebiasaan pulang ke rumah tanpa benar-benar hadir bagi keluarga.

Hubungan emosional tidak runtuh dalam semalam. Ia memudar sedikit demi sedikit. Lalu akan menggunung dan meledak sewaktu-waktu.

Kabar baiknya, hubungan itu juga dapat dipulihkan dengan cara yang sama: melalui perhatian-perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten. Perlu dicatat bahwa konsistensi adalah kata kunci.

Tidak selalu diperlukan hadiah yang mahal atau liburan yang mewah. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah kesediaan seorang ayah untuk mendengar tanpa menghakimi, hadir tanpa tergesa-gesa, dan menunjukkan bahwa anak tetap menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Berikan rasa aman yang cukup

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang ayah mungkin tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar warisan yang berhasil ia tinggalkan, melainkan juga oleh seberapa kuat rasa aman yang ia tanamkan dalam diri anak-anaknya.

Sebab, bertahun-tahun setelah rumah, kendaraan, dan berbagai fasilitas itu terlupakan, seorang anak biasanya masih mengingat satu hal yang jauh lebih sederhana: apakah ketika ia membutuhkan, ayah benar-benar hadir.

Di situlah makna kehadiran seorang ayah sesungguhnya. Bukan sekadar berada di dalam rumah, melainkan hidup di dalam ingatan emosional anak-anaknya.

Kondisi fatherless sering kali disadari terlambat. Sedangkan keterlambatan selalu berbuah penyesalan.