Ketika Cukup Tak Pernah Cukup, Tapi Hidup Tetap Harus Dijaga

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi hari bagi Arif selalu dimulai dengan perhitungan, bahkan sebelum ia benar-benar bangun dari tidurnya. Bukan soal mimpi atau rencana besar, melainkan angka-angka yang diam-diam mengendap di kepalanya: gaji, cicilan, biaya sekolah, dan daftar kebutuhan yang terasa tidak pernah selesai.
Ia adalah potret kelas menengah urban yang sering luput dari perhatian. Gajinya di atas UMR Jakarta, tapi tidak lebih dari Rp 10 juta per bulan. Angka yang di atas kertas tampak “aman”, padahal kenyataannya tidak. Rasa aman itu cepat menguap begitu angka-angka mulai disusun.
Seperempat gajinya langsung tersedot untuk cicilan rumah sederhana di pinggiran kota, bahkan cenderung pelosok. Seperempat lagi habis untuk biaya pendidikan anaknya yang ia niatkan sebagai investasi masa depan yang tidak bisa ditawar.
Sisanya, setengah dari penghasilan, harus menanggung seluruh kehidupan selama satu bulan. Rinciannya adalah internet rumah yang kini menjadi kebutuhan pokok, pulsa untuk tiga orang, ongkos transportasi harian, makan siang, hingga kebutuhan kecil yang sering kali justru tak terduga.
Di titik itu, Arif mulai memahami satu hal: cukup secara angka tidak selalu berarti cukup dalam hidup.
Ia pernah mencoba mengabaikan realitas itu. Sesekali masih membeli kopi di luar, makan di restoran sederhana, atau tergoda diskon yang tampak menguntungkan. Namun, perlahan ia sadar, gaya hidup adalah lubang halus yang menggerus tanpa terasa.
Sejak itu, ia mengubah ritme hidupnya. Benar-benar mengubahnya, termasuk persepsi kebahagiaan yang harus dia bangun dari sudut baru.
Kini, bekal dari rumah menjadi kebiasaan. Nongkrong diganti dengan berjalan kaki sore bersama anaknya. Langganan aplikasi dipangkas, listrik digunakan secukupnya. Setiap keputusan kecil menjadi bentuk perlawanan terhadap kondisi yang tidak selalu ramah.
Namun, yang lebih berat bukanlah menekan pengeluaran, melainkan menjaga diri agar tidak kehilangan arah. Dia ingin tetap waras.
Di berbagai kesempatan, Arif melihat realitas lain. Ada orang yang mulai mencari jalan pintas. Ada yang “memainkan” laporan, ada yang mengambil keuntungan dari celah kecil, ada pula yang menganggap integritas sebagai kemewahan yang tidak semua orang mampu pertahankan.
Godaan itu nyata, terutama ketika kebutuhan terasa terus mengejar. Tetapi Arif memilih bertahan. Idealisme adalah satu-satunya nilai Istimewa baginya.
Ia percaya, seperti yang sering ia dengar dan yakini, bahwa rezeki sudah memiliki jalannya sendiri. Prinsip itu bukan sekadar penghiburan, melainkan batas yang ia pasang agar tidak tergelincir. Allah maha pemberi rezeki.
Ia teringat gagasan Viktor Frankl bahwa manusia, bahkan dalam kondisi paling tertekan, tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikapnya. Dan bagi Arif, memilih tetap jujur adalah cara menjaga dirinya tetap utuh.
Bagi perantau asal Sumatera tersebut, bertahan juga berarti bergerak karena diam adalah mati.
Untuk menutup kekurangan, lulusan PTN Lampung bersama istrinya mulai merintis usaha kecil-kecilan. Dari sekadar menjual barang secara online, hingga akhirnya mencoba menjual makanan ringan buatan rumah.
Bisnis adalah bisnis. Tidak selalu laris, tidak selalu stabil, tetapi cukup memberi tambahan yang berarti. Lebih dari itu, usaha kecil tersebut memberi rasa bahwa mereka tidak sepenuhnya diam.
Di sela waktu yang sempit, Arif juga membaca. Buku-buku perjalanan mengajarkannya bahwa hidup bukan hanya tentang tujuan, melainkan tentang proses yang dijalani dengan sadar.
Sementara buku-buku tentang kebahagiaan mengingatkannya bahwa rasa cukup sering kali lahir bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana seseorang memandang hidupnya.
Di situlah ia menemukan keseimbangan yang rapuh, tapi nyata. Bahwa hidup tidak selalu harus terasa lapang untuk bisa dijalani dengan tenang.
Pada akhirnya, Arif tidak pernah benar-benar merasa “cukup” dalam arti yang utuh. Selalu ada kebutuhan yang menunggu, selalu ada angka yang terasa kurang. Tetapi ia belajar menerima bahwa mungkin, hidup memang tidak dirancang untuk sepenuhnya selesai dalam perhitungan.
Yang bisa ia jaga hanyalah caranya menjalani. Dia menjaga agar tetap jujur, ketika jalan pintas terbuka. Dia juga menjaga agar tetap sederhana, ketika keinginan membesar dan dia menjaga agar tetap bersyukur, ketika angka tidak berpihak.
Karena ketika “cukup” tak pernah benar-benar datang, satu-satunya yang bisa dipastikan adalah pilihan untuk tetap menjaga hidup—agar tidak sekadar berjalan, tetapi juga bermakna.
