Konten dari Pengguna

Kisah Rexy, Petualang Narkoba Ibu Kota yang Malang

Fathurrohman

Fathurrohmanverified-green

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang dokter BNNP DKI Jakarta melakukan asesmen terhadap klien penyalahguna narkoba. Foto: Dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Seorang dokter BNNP DKI Jakarta melakukan asesmen terhadap klien penyalahguna narkoba. Foto: Dok. pribadi

Saat memasuki ruang asesmen rehabilitasi, senyumnya tampak merekah, air mukanya pun tampak cerah. Katanya, setelah lebih dari satu bulan tidak bersentuhan dengan narkoba, badannya merasa lebih fresh. Bagi seorang Rexy (bukan nama aslinya), separuh hidupnya tampak dihabiskan dengan jebakan ilusi berlebihan ragam zat adiktif narkoba.

Saya tertarik untuk mencoba bercengkrama dengannya. Seperti biasa, saya untuk mencari tahu apa yang membuat para pengguna narkoba mempertaruhkan segala sumber dayanya untuk narkoba.

Rexy adalah khas anak Jakarta, tinggal di salah satu kampung narkoba ternama. Katanya, narkoba adalah hal biasa atau bahkan cara sebagian warga kompleknya bertahan hidup. Begitu juga dengan gaya hidup dirinya, bergelimang dengan ragam narkoba.

Ayah satu anak ini sudah mulai ngegele sejak masih remaja, sejak SMP, tahun 90-an. Katanya, aktivitas membakar daun asal Aceh adalah kebiasaan bagi mereka. Sambil nongkrong sepulang sekolah apalagi di akhir pekan, tradisi sebagian anak Jakarta di masanya adalah merokok cimeng. Katanya, rasanya aneh jika tidak turut serta menghisap bersama yang lain.

Ketika SMA, Rexy masih bergaul dengan peer group yang punya kebiasaan yang sama. Rekan-rekan pergaulannya punya tradisi yang khas, nyimeng, tawuran, atau membuat keriuhan lain di sudut-sudut Ibu Kota.

Setelah lulus SMA, dia melanjutkan kuliah di Bandung namun urung diselesaikan karena tawaran menarik mendapatkan beasiswa kuliah D1 di Bogor dari jalur olahraga. Kemampuannya memainkan bola keranjang membuatnya jumawa untuk mandiri.

Periode tahun 2000-an adalah masa jaya peredaran gelap narkoba heroin. Narkoba yang berasal dari Afganistan atau Myanmar ini begitu semarak, khususnya di kalangan pemuda Jakarta. Rexy adalah pengkonsumsi aktif. Tabungannya ludes, uang hasil kerja serabutan juga tuntas, semua dihabiskan begitu saja untuk membeli narkoba yang dikenal dengan sebutan putaw atau etep.

Lagi-lagi, lingkungan tempat tinggal di sudut Jakarta Barat mendukungnya untuk mengkonsumsi serbuk putih dengan daya ikat syaraf tinggi tersebut. Rexy pun mulai menjadi biang masalah di keluarganya. Sebagian waktunya habis digunakan untuk menjadi pengecer kecil dengan harapan upah sedikit heroin.

Dengan daya ingat yang masih melekat, Rexy menyebutkan jika banyak penyalahguna putaw meninggal, overdosis. Saya kemudian penasaran kenapa Rexy dan teman-temannya tidak overdosis, jawabnya karena mereka menggunakannya dengan cara dibakar bukan disuntik. Hanya saja, adiksi putaw begitu kuat dan jauh dari harapan sembuh.

Badai heroin di tahun 2000-an membuat panti-panti rehabilitasi terisi penyalahguna putaw. Tanpa proses rehabilitasi, satu per satu penyalahguna tewas tak bermakna karena jeratan candu putaw yang jauh lebih mengikat. Di salah satu perumahan di Bekasi, tempat di mana saya tinggal, pengumuman “innalillahi” kelompok pemuda beberapa kali menyeruak dari masjid. Usut punya usut meninggal karena overdosis heroin, AIDS, atau hepatitis.

Rexy merasa bersyukur karena Tuhan masih memberikan hidup. Walaupun pada awalnya Rexy tampak marah karena dijebak oleh keluarganya untuk direhabilitasi di BNN, namun kemudian sadar bahwa itu adalah bentuk kasih sayang agar dirinya tidak turut menjadi daftar pemuda Jakarta yang overdosis karena narkoba.

Saya mencoba menelusur dari mana narkoba putaw dia peroleh. Jawabnya selalu sama, dari teman-teman di lingkungan. Katanya, ada supplier yang rutin menjualnya kepada pengepul di lingkungan lalu Rexy bersama rekan satu tongkrongannya membelinya atau membantu menjual agar mendapatkan upah berupa putaw untuk sekali pakai.

Selepas program rehabilitasi, Rexy bersama anak dan istrinya diboyong ke Yunani oleh kakaknya. Dengan tujuan lepas dari pengaruh lingkungan, pemuda keturunan Manado ini memulai segalanya dari nol. Bekerja serabutan di negeri para dewa. Rexy benar-benar lepas dari putaw.

Cerita Rexy mengingatkan saya pada sosok Alex yang bertemu dua tahun lalu di kota Lexington, kota sepi namun penuh dengan sejarah tragedi candu opioid. Jenis candu dengan efek tak jauh berbeda dengan putaw. Alex bolak-balik direhabilitasi dari satu panti ke panti lainnya. Tapi Alex lebih dekat dengan teman-teman jalanannya. Bahkan memilih tinggal di jalanan, dibandingkan di rumah. Kalaupun di rumah, Alex hanya menyendiri di kamar.

Beruntung Alex mempunyai ibu yang menjadi malaikat penyelamatnya. Tak lelah untuk memberikan perhatian penuh atas masalah anaknya. Alex berhasil lepas dari jeratan narkoba, menjadi aktivis di bidang rehabilitasi narkoba, dan sedang menyelesaikan program doktoralnya di University of Kentucky.

Alex, sebelah kanan, seorang mahasiswa program doktoral Univ of Kentucky yang sebelumnya adalah mantan pecandu berat opioid. Foto: Dok. pribadi

Seperti halnya Alex yang keluar masuk panti rehabilitasi, Rexy pun mengalami hal yang sama. Sepulang dari Yunani, Rexy kemudian menetap di Bekasi. Tapi petaka narkoba tidak juga menjauh dari hidupnya. Rexy melakukan keputusan yang tidak tepat ketika kembali menetap di lingkungan masa lalunya, di komplek yang menjadi sentra peredaran narkoba di Jakarta.

Rexy kembali menjadi pengecer narkoba dengan harapan mendapatkan paket hemat narkoba untuk dikonsumsi bersama rekan-rekannya. Kali ini, narkoba sabu (meth) yang dijaja oleh pemuda keturunan Manado ini. Berbulan-bulan Rexy menjadi bagian dari penjaja lapak narkoba. Sesekali berhenti karena adanya operasi dari petugas, baik dari Polri atau BNN.

Ada sesal yang disampaikan oleh Rexy untuk kali ini. Dia menceritakan dengan suara berat, tampak parau. Saya menduga air mukanya yang berada di balik masker medis birunya menyembunyikan kegetiran yang dalam.

Pada akhirnya, Rexy ditangkap polisi dengan hasil urin positif methamphetamine dan sisa konsumsi kurang dari satu gram. Rexy harus menunggu putusan hakim, apakah akan divonis penjara dan menjalani rehabilitasi di lembaga pemasyarakatan atau akan menjalani rehabilitasi di lembaga rehabilitasi seperti yang pernah dialami sepuluh tahun lalu.

Waktu yang akan membuktikan, apakah penyesalan Rexy kali ini adalah yang benar-benar sesal atau akan kembali dalam kubangan sesat narkoba. Jika Rexy telah berhasil lepas dari narkoba ganja dan putau, apakah dia akan sukses melepaskan diri dari narkoba sabu.

Entahlah, kita hanya akan tahu jika menyaksikan akhir cerita dari hidupnya. Semoga petualang narkoba Ibu Kota ini benar-benar lepas dari jeratan narkoba. Jika tidak, hidupnya akan terus dalam kemalangan.