Menepilah, Agar Narkoba tidak Menjerat Anda

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angin utara menggerakkan gumpalan awan hitam bergeser ke arah selatan. Pepohonan juga tampak bergoyang hebat. Atap seng yang berkarat beterbangan. Kemacetan Ibu Kota dan sekitarnya tampak sempurna, kendaraan tidak dapat bergerak, terparkir di jalan raya.
Suasana yang mencekam tersebut serupa dengan perasaan bersalah tiga orang penyalahguna narkoba yang ditangkap petugas. Tiga orang pelaut di hadapan saya ini terus-menerus menunduk, tampak malu. Beruntungnya, masker medis berwarna biru mampu menutup guratan kegelisahan sebagian besar wajahnya.
Bermula dari ajakan teman untuk coba-coba pakai, Amat turut serta menghisap bakaran sabu-sabu. Katanya, ada tenaga ekstra yang diperoleh. Sebagai pelaut yang bekerja dengan kebutuhan tenaga ekstra, Amat merasakan manfaat dari sabu-sabu tersebut.
Dari awalnya coba-coba, Amat kemudian menjadi biasa ketika temannya yang juga pelaut menawarkan untuk memakai bersama. Dari yang awalnya ada rasa takut, Amat kini lebih berani. Bahkan, pria yang berumur menjelang 40 tahun ini bersedia untuk patungan membeli sabu-sabu. Tentu saja membeli ke teman kerjanya yang awalnya mengajak tersebut.
Amat tidak sendiri, ada Benny, dan Charlie yang menjadi pengguna aktif. Di titik ini, mereka bertiga telah menjadi pengguna sabu-sabu. Ketiganya memiliki kemiripan proses, diajak teman kerjanya untuk konsumsi bersama, mencoba-coba untuk menggunakan narkoba secara gratis, lalu patungan membeli sabu-sabu tersebut.
Saat temannya tidak lagi menjajakan sabu kepadanya, Amat dan teman-temannya mencari dari sumber lain. Hampir satu tahun mereka menjadi pelanggan setia narkoba sabu-sabu. Ikatan kimia telah berhasil menjerat syarafnya. Mereka menjadi bagian dari ceruk pasar narkoba sabu-sabu di Indonesia.
Cerita mereka bertiga mengingatkan saya kepada salah seorang narapidana di salah satu lapas. Vonis belasan tahun harus diterima olehnya. Sebagai pendatang baru, dia mencoba melakukan adaptasi di tengah para pendahulunya.
Ada kesan mendalam saat dia diterima oleh salah satu bandar di dalam lapas. Narapidana tersebut juga menceritakan kalau dia masih dapat memakai narkoba di dalam. Entah bagaimana caranya, sebagai warga baru, dia tidak faham kenapa narkoba bisa masuk ke dalam lapas. Katanya, sabu-sabu yang dirindukan dari sejak beberapa bulan lalu kini kembali dinikmatinya.
Ketika sabu-sabu telah menjerat saraf seseorang, ikatan kimianya memang mengaktifkan kreativitas untuk berbuat apapun agar kembali berjumpa narkoba. Ketika ketiga nelayan yang telah kehilangan kontak seorang bandar, maka dia mencari bandar berikutnya. Begitu juga narapidana yang pernah saya jumpai, tetap menggunakan narkoba sabu-sabu.
Selalu ada cerita kenapa seseorang dapat menjadi penyalahguna aktif. Tentu tidak serta-merta. Semua orang tahu bahwa menjadi penyalahguna narkoba adalah melanggar hukum dan berisiko berurusan dengan penegak hukum. Untuk mencoba menggunakannya, ada risiko yang harus diambil. Ketika seseorang siap dengan risiko tersebut, maka ada faktor pendorong bagi orang tersebut.
Proses menjadi penyalahguna tiap-tiap orang berbeda-beda. Tahapan learning to use memang cukup dinamis. Faktor pertemanan cukup mendominasi penyebab seseorang menjadi penyalahguna. Tiga pelaut yang saya temui, awalnya adalah salah satu dari mereka yang berteman dengan penyalahguna. Itupun hanya mencoba secara gratis. Tapi, di situlah malapetaka jeratan dimulai.
Di awali sebagai pengguna coba-coba, lalu pengguna aktif, seseorang kemudian menjadi pecandu. Seseorang memang tidak serta merta menjadi pecandu, tapi ketika dia sudah mulai merasakan menikmati narkoba, maka sesungguhnya tahap kecanduan telah dimulai. Menjadi pecandu adalah sebuah kontinum, sebuah proses.
Ketika seseorang menjadi pecandu, ada yang berada pada tahap pecandu ringan, sedang, atau berat. Sekitar seminggu lalu saya bertemu dengan seorang pecandu berat, seorang wanita. Yang bersangkutan pernah juga merasakan jeruji penjara.
Penjara tidak mampu membuatnya jera. Dia kembali bertemu dengan komunitas penyalahguna sabu, termasuk bertemu oknum yang juga pecandu. Jadilah dirinya bersatu pada, merasa aman dalam komunitas pecandu.
Saking beratnya menjadi pecandu, dia tidak peduli dengan anaknya yang diasuh ibunya. Perceraian melengkapi derita rumah tangganya. Katanya, satu hal yang berat bagi pecandu adalah efek setelah menggunakan. Pecandu menyebutnya basian. Untuk menghindari basian, wanita berambut pirang ini kembali menggunakan sabu. Bahkan, dia memanfaatkan kenalannya saat berada di lapas untuk mendapatkan kembali sabu gratisan.
Saat diperiksa oleh dokter, pemeriksa tampak dibuat geleng-geleng kepala. Dua orang dokter sepakat yang bersangkutan adalah pecandu berat. Jika seseorang sudah dalam fase ini, maka pengasingan mungkin menjadi solusi, terutama pengasingan terhadap komunitas pecandu.
Katanya, dirinya lelah dan ingin kembali hidup normal. Namun sangat sulit menghilangkan bayang-bayang kenikmatan sabu. Katanya, dia membutuhkan perhatian dan dukungan untuk melepaskan dirinya dari asap hitam candu narkoba.
Seseorang memang perlu menepi. Karena hidup tidak selalu indah ketika berada di tengah samudera, di puncak gunung, atau di tengah pusaran gemilang kota metropolitan.
Menepi itu laksana hijrah, menjauh dari lingkungan negatif, mendekat kepada lingkungan baru. Menepi adalah memulai hidup baru, agar warna hitam menjadi mejikuhibiniu, warna-warni. Menepi adalah mensucikan diri, menenangkan diri, berserah kepada illahi.
Di titik tepian inilah, seseorang dapat melepas dari godaan-godaan fatamorgana, termasuk halusinasi kenikmatan fana narkoba sabu seperti yang dialami wanita muda di hadapan saya. Menepilah, agar narkoba tidak memperdaya Anda, tidak menjerat Anda.
