Konten dari Pengguna

Merdeka yang Belum Selesai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemerdekaan yang diperjuangkan. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kemerdekaan yang diperjuangkan. Foto: kumparan

Tangal 1 Agustus 2026, beberapa hari lalu, ketua RT meneruskan instruksi dari kelurahan terkait pemasangan bendera merah putih dan beragam pernak-pernik dalam rangka menyambut Agustusan di grup WA. Satu kelaziman dari tahun ke tahun.

Sebagaimana yang sudah-sudah, setiap bulan Agustus, merah putih kembali berkibar di setiap sudut negeri. Gapura dicat ulang, lagu-lagu perjuangan diputar, dan media sosial dipenuhi ucapan "Dirgahayu Indonesia". Kita merayakan kemerdekaan dengan penuh sukacita.

Namun, setiap kali bulan kemerdekaan datang, saya selalu bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kemerdekaan itu benar-benar telah sampai kepada setiap orang?

Kemerdekaan memang telah membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Bukankan cita-cita para pendiri bangsa tidak berhenti pada pengusiran penjajah.

Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyebutkan tujuan bernegara, salah satunya adalah memajukan kesejahteraan umum. Artinya, kemerdekaan selalu memiliki wajah yang lain: kesejahteraan.

Di atas kertas, Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kemiskinan pada September 2025 turun menjadi 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta jiwa, angka terendah sejak pengukuran modern dilakukan.

Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 700 ribu orang. Itu merupakan capaian yang patut diapresiasi (Badan Pusat Statistik Indonesia). Namun, data di atas kertas tersebut masih penuh perdebatan di level lapangan.

Perdebatan mengenai angka kemiskinan juga sempat mencuat ketika Bank Dunia menggunakan standar garis kemiskinan global yang berbeda sehingga menghasilkan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan ukuran nasional.

Angka statistik selalu memiliki keterbatasan. Di balik angka penurunan itu, masih ada puluhan juta warga yang setiap hari bergulat dengan persoalan paling dasar: pekerjaan yang tidak pasti, harga kebutuhan pokok yang terus naik, akses pendidikan yang belum merata, dan layanan kesehatan yang belum sepenuhnya mudah dijangkau.

Seperti beberapa hari yang lalu, kita dibuat sedih atas adegan pelukan sesama ratusan karyawan Perusahaan garmen di Kota Cimahi, Jawa Barat yang sama-sama menerima kenyataan pahit, Pemutusan Hubungan Kerja.

Buruh pabrik garmen. Foto: Dok Biro Humas Kemnaker

Di sisi lain, kita juga menyaksikan gejala yang lebih mengkhawatirkan.

Beberapa bulan terakhir, publik disuguhi berbagai peristiwa yang sulit diterima akal sehat. Seorang remaja perempuan menjadi korban pemerkosaan beramai-ramai. Seorang pria tewas dikeroyok massa karena diduga mencuri ayam. Seorang satpam kehilangan nyawa setelah diduga mengalami kekerasan. Hampir setiap minggu, media memberitakan kekerasan yang dipicu persoalan sepele: saling tatap, senggolan kendaraan, rebutan parkir, hingga pertengkaran di media sosial.

Kasus-kasus itu tentu berdiri dengan latar belakang yang berbeda. Tidak semuanya dapat dijelaskan hanya dengan kemiskinan. Namun, ada benang merah yang patut direnungkan yaitu ketika tekanan hidup bertemu dengan lemahnya pengendalian diri, lunturnya empati, dan menurunnya kepercayaan terhadap penyelesaian melalui hukum, masyarakat menjadi lebih mudah terseret pada tindakan yang merusak kemanusiaan.

Kemerdekaan ternyata bukan hanya soal bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kemampuan sebuah bangsa menjaga martabat manusianya.

Bangsa yang merdeka bukanlah bangsa yang sekadar memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, melainkan bangsa yang mampu membuat rakyatnya hidup layak tanpa harus kehilangan harapan.

Bangsa yang merdeka bukan hanya yang mampu membangun jalan tol, pelabuhan, atau gedung-gedung megah, tetapi juga yang mampu membangun karakter, rasa aman, dan saling percaya di tengah masyarakat.

Karena itu, setiap Agustus seharusnya menjadi waktu untuk melakukan refleksi, bukan sekadar selebrasi.

Apakah anak-anak kita telah benar-benar merdeka dari rasa takut terhadap kekerasan? Apakah para orang tua telah merdeka dari kecemasan memikirkan biaya hidup? Apakah para pencari kerja telah merdeka dari ketidakpastian masa depan? Apakah masyarakat telah merdeka dari kebiasaan menyelesaikan persoalan dengan amarah?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin belum sepenuhnya menggembirakan.

Namun, kemerdekaan memang bukan tujuan yang selesai dicapai pada 17 Agustus 1945. Ia adalah pekerjaan yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah bangsa yang benar-benar merdeka bukan hanya terletak pada berkibarnya bendera di tiang tertinggi, melainkan pada semakin sedikitnya orang yang hidup dalam kemiskinan, semakin kuatnya penghormatan terhadap martabat manusia, dan semakin banyaknya warga yang merasa memiliki masa depan.

Makna kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kebebasan berjalan beriringan dengan kesejahteraan, dan kemajuan tidak membuat kita kehilangan kemanusiaan.

Kemerdekaan kita belum selesai, belum apa-apa. Masih banyak yang harus kita perjuangkan.