News
·
21 Maret 2021 10:06

Pelajaran Berharga dari Perjalanan Panjang ke Mexico City

Konten ini diproduksi oleh Fathurrohman
Pelajaran Berharga dari Perjalanan Panjang ke Mexico City (356891)
Susana kota Mexico saat Mexico gempa Foto: AP Photo/Rebecca Blackwell
Lembar disposisi tergeletak di meja saya, isinya adalah penunjukan saya, sendirian, agar turut serta dalam pertemuan Forum Konsultasi Bilateral (FKB) ke-6 Indonesia-Meksiko di Mexico City. Membayangkan dengan kecut, jauhnya Meksiko.
ADVERTISEMENT
Saya tidak berhasil mengkonsolidasi diri dengan delegasi dari kantor lain. Jadilah saya harus benar-benar seorang diri ke negara yang waktu harinya berkebalikan 12 jam dengan Indonesia. Malam menjadi siang dan pagi menjadi sore. Tanggalan di jam tangan harus dibuat mundur satu hari.
Perjalanan panjang yang melelahkan
Perjalanan menuju Mexico City tampak eksotis, bukan hanya soal berita penembakan, penculikan, atau perang antar geng narkoba, tapi juga soal perjalanan yang akan melampaui Samudera Atlantik bagian utara, sementara Meksiko berbatas dengan Samudera Pasifik.
Setelah memutari kota Amsterdam sejenak. Saya kembali ke Bandara Schiphol. Bandara super sibuk yang menghubungkan semua benua dan kota-kota besar di dunia. Paspor biru yang saya gunakan memberikan hak istimewa untuk dapat keluar masuk Belanda tanpa perlu visa Schengen. Maklum, Indonesia adalah bekas jajahan ratusan tahun oleh mereka.
ADVERTISEMENT
Akhir November yang mulai dingin membuat kulit tropis saya berkeriput kuat. Tapi saya menikmati perjalanan ini.
Kereta yang megah, gedung-gedung yang bersih, sepeda yang bertebaran di sana-sini, kanal-kanal indah yang dilalui kapal membelah gedung dan kota yang terlihat sibuk tapi tenang. Pikirku wajar, seperti cerita kakek-nenek kami, Belanda telah menggila mengeruk harta benda dari Indonesia tanpa belas kasihan untuk membiayai ragam pembangunan di negerinya.
Karena waktu masih mencukupi saya sejenak salat jamak dzuhur-ashar di prayer room bandara. Lalu menuju gate tempat pesawat KLM tujuan Mexico City terparkir. Saya memutar badan, mencari-cari barangkali ada penumpang berwajah melayu dengan tujuan sama, nihil. Mentok-mentok adalah keturunan India.
Saya merogoh beberapa euro untuk dapat tempat duduk aisle seat agar mobilitas mudah jika hendak ke kamar kecil. Ukuran kantong kemih yang lebih kecil memaksa saya untuk harus bolak-balik ke kamar kecil dalam rentang 12 jam untuk sampai Mexico City. Sebelum boarding, saya sempatkan minum antimo, obat tidur paling mujarab.
ADVERTISEMENT
Perjalanan ke barat beriringan dengan putaran matahari di sisi bumi yang berbeda, akibatnya selama saya di atas Samudera Atlantik, gelap, dan matahari tak kunjung membuka diri. Salat maghrib dan isya yang saya jamak selepas terbang dari Schiphol tak kunjung bertemu waktu subuh.
Imajinasi masa kecil
Di atas pesawat, saya membayangkan semasa kecil dulu. Spontan saya keluar rumah atau menghentikan saat bermain bersama teman-teman, segera menengadah ke atas, berteriak karena derungan pesawat di atas kepala sembari memohon agar pesawat melemparkan uang untuk kami jajan. Buat kami, anak-anak kecil di desa yang terisolir dari ragam modernisasi, pesawat adalah barang yang sangat mewah, penumpangnya hanya orang-orang kaya raya yang uangnya dapat dihambur-hamburkan.
Pernah satu waktu, pesawat helikopter mendarat tak jauh dari rumah. Pendaratan tersebut beriringan dengan peninjauan pembukaan pengeboran minyak bumi oleh pejabat dari Jakarta. Semua orang desa keluar rumah, berkerumun menyaksikan pesawat dan orang-orang yang turun dari pesawat.
ADVERTISEMENT
Saya harus naik pohon melihat dari kejauhan orang berdasi dan berkaca mata hitam keluar dari pesawat dengan sangat gagah. Pasti kopernya penuh uang, hidupnya bahagia tak terkira, dan rumahnya mewah bak istana.
“Rabb, kalau boleh, aku juga ingin naik pesawat, terbang seperti orang Jakarta itu.”
Saya senyum-senyum di atas pesawat ini. Perjalanan yang sangat jauh, mengelilingi separuh bumi. Dua puluh delapan jam di atas udara plus transit di Singapura dan Amsterdam, tanpa kawan, dan negara yang dituju adalah Meksiko, negara penuh dengan drama perang kartel narkoba, penculikan, pembunuhan, dan tentu saja imajinasi romantisme telenovela. Rasanya dramatis!!
Mexico City tampak sudah dekat, saya menoleh kiri kanan dan tak tampak satu pun orang yang saya kenal. Saya berharap bertemu Javier Hernandez mantan pemain MU atau Carlos Vela eks pemain klub favorit saya, Arsenal.
ADVERTISEMENT
“Rabb, Engkau mendengar apa yang aku pinta saat kecil dahulu. Kini, aku seperti orang Jakarta, dapat terbang ke berbagai tempat, termasuk ke Mexico City ini.”
Negara kartel narkoba yang mengerikan
Antrean imigrasi tampak sangat panjang. Tidak pernah saya saksikan fenomena ini saat saya di Amsterdam sehari sebelumnya, atau saat di belasan negara lain yang saya kunjungi. Paling tidak, tiga jam antrean harus dilalui.
Saya saksikan pendatang dari India dijajar di jalur khusus, jalur interogasi. Giliran saya maju, langsung diarahkan ke jajaran yang sama dengan orang-orang India tadi. Seperti saat di imigrasi Belanda, pertanyaan yang sama diajukan kepada orang udik ini, untuk urusan apa ke Meksiko, kenapa tidak menggunakan visa, dan terakhir soal kenapa nama saya hanya satu kata.
ADVERTISEMENT
Saya jawab jika saya datang untuk misi pertemuan penting dengan petugas berwenang, paspor dinas yang saya bawa tidak membutuhkan visa untuk masuk Meksiko, dan nama saya satu kata karena nama tersebut sejak kecil seperti itu. Di Indonesia, kita tidak harus memiliki family name atau marga. Petugas imigrasi tetap meloloskan saya, dengan tampang tak ramah. Saya tidak peduli.
Di negeri yang berbatas dengan Amerika Serikat ini, pejabat, penegak hukum, tentara, pebisnis, politisi dan masyarakat sipil berkeliaran dalam jejaring setan perdagangan gelap narkoba.
Polisi bertebaran di mana-mana, poster-poster orang hilang menjadi pemandangan lazim di pusat kota, sesekali raungan sirine polisi menambah kesan tidak aman. Hotel pun didesain agak tertutup, demi keamanan. Bahkan, kata staf kedutaan RI di Meksiko City, penculikan terhadap pejabat asing pun bisa saja terjadi di negeri ini.
ADVERTISEMENT
Saya dan kita semua harus belajar dari negara yang penuh dengan kartel narkoba ini. Sendi-sendi negara seperti tatanan ekonomi, alat negara, dan tatanan masyarakat telah dirasuki orang-orang rakus demi uang, kekuasaan, dan kepuasan pribadi atau kelompoknya di mana narkoba menjadi biang keladi masalah pelik negara ini.