Tentang Mereka yang Hidup dari Sisa-Sisa Kota

Analis Kejahatan Narkotika, Penulis Cerita Perjalanan, ASN di BNN.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fathurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah perumahan sudut kota, seorang pria menarik gerobak kayu yang penuh karung. Di atasnya, seorang anak kecil duduk, memegang payung hijau yang tampak kebesaran. Barang-barang bekas—botol, plastik, kardus—menyembul dari karung seperti potongan hidup yang dipungut satu per satu. Mereka berjalan pelan, meniti hari, menawar nasib.
Sementara istrinya membawa karung berukuran besar lengkap dengan tongkat besi yang berfungsi untuk mengambil sampah yang dianggap bernilai. Terlihat sepele, tapi sering kali justru momen-momen kecil seperti inilah yang menampar kesadaran kita.
Indonesia memang sudah banyak berubah. Gedung-gedung bertambah tinggi, jalan tol memanjang, gawai makin canggih. Tapi di balik semua itu, angka kemiskinan tetap menjadi pengingat bahwa tidak semua orang ikut berlari dengan kecepatan yang sama.
Menurut catatan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2025 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 23,36 juta orang, atau setara dengan 8,25% dari total penduduk. Artinya, lebih dari dua puluh tiga juta manusia hidup di bawah garis kemiskinan—mereka yang sehari-harinya berjuang hanya untuk kenyang dan bertahan.
Angka ini memang bisa naik turun dari satu periode ke periode berikutnya. Satu hal yang harus kita fahami adalah di balik statistik selalu ada wajah-wajah nyata. Wajah yang menahan lelah, menahan lapar, menahan harap.
Menjadi pemulung bagi sebagian orang mungkin terdengar sebagai pilihan terakhir—pilihan ketika pintu lain sudah tertutup rapat. Tapi bagi banyak keluarga, itulah satu-satunya pintu yang masih terbuka.
Mereka bertahan hidup dengan memungut sisa-sisa yang ditinggalkan kota seperti plastik yang dibuang, botol yang tak dipakai, kardus yang dianggap tak berguna. Nilainya kecil jika dilihat satu per satu, tapi jika dikumpulkan, bisa berubah menjadi beras, minyak goreng, atau sekadar ongkos makan hari ini.
Tidak ada gaji bulanan, tidak ada kepastian. Yang ada hanya hitung-hitungan sederhana. Mereka menimbang di tiap waktu, hari ini dapat berapa kilo, besok masih ada sisa tenaga atau tidak.
Yang paling mengusik justru ketika melihat satu keluarga harus memulung bersama. Anak yang seharusnya berlarian di halaman sekolah atau bermain sepulang kelas, terpaksa ikut duduk di atas tumpukan barang bekas. Tidak ada privilege untuk mengenyam pendidikan dengan nyaman.
Bukan karena orang tuanya ingin, tetapi karena hidup memaksa begitu. Barangkali tidak ada yang menjaga di rumah. Barangkali memang lebih aman ikut orang tuanya ke jalan. Atau barangkali, mereka tak punya pilihan lain.
Di titik ini, kemiskinan berhenti menjadi sekadar angka; ia menjelma menjadi rutinitas yang diwariskan, menjadi lingkaran yang sulit diputus.
Sesekali, ada tangan-tangan baik yang menyelipkan rezeki. Uang kecil, nasi bungkus, atau sekadar minum kemasan. Simpati warga datang seperti hujan singkat di musim kemarau—tidak mengubah cuaca, tapi cukup untuk menyegarkan.
Bagi kita yang memberi, mungkin itu perkara sepele. Tapi bagi mereka, itu bisa berarti makan siang hari ini. Bisa berarti senyum kecil di tengah lelah yang panjang. Di situ kita belajar bahwa memberi tidak selalu harus menunggu berlebih. Kadang, justru dari yang terbatas, hati terasa lebih lapang.
Saya sering berpikir, betapa mudahnya kita lupa bersyukur. Kita mengeluh tentang macet, tentang pekerjaan yang menumpuk, tentang gaji yang terasa kurang. Padahal, kita masih punya pekerjaan tetap. Masih punya atap yang bisa disebut rumah. Masih bisa memilih mau makan apa hari ini.
Sementara di luar sana, ada orang-orang yang harus menghitung Langkah, berapa jauh mereka bisa berjalan, berapa kilo barang yang bisa dikumpulkan, atau berapa rupiah yang mungkin dibawa pulang.
Melihat ke bawah bukan untuk merendahkan siapa pun. Justru sebaliknya, itu cara paling jujur untuk mengukur betapa beruntungnya kita. Bukan juga untuk merasa paling benar atau paling peduli. Tapi untuk menata ulang perspektif bahwa hidup tidak selalu tentang naik kelas, naik gaji, atau naik jabatan.
Kadang hidup tentang bertahan, tentang menjaga keluarga tetap makan hari ini, tentang memastikan anak tetap bisa tersenyum meski duduk di atas tumpukan barang bekas.
Ada ironi yang pahit, di negeri yang kaya sumber daya, masih banyak yang hidup dari sisa-sisa. Tapi di tengah ironi itu, selalu ada ruang kecil untuk harapan.
Harapan bahwa kebijakan bisa lebih berpihak, bahwa kesempatan bisa lebih merata, bahwa anak-anak dari keluarga pemulung tidak harus mengulang jalan yang sama. Harapan itu mungkin terdengar klise, tapi tanpa itu kita hanya akan sibuk menghitung statistik tanpa pernah benar-benar melihat manusia di baliknya.
Foto itu mungkin akan lewat begitu saja di linimasa. Besok, kita akan disibukkan oleh berita lain, oleh agenda lain. Tapi semoga, ia sempat tinggal sebentar di kepala kita. Mengingatkan bahwa di sudut-sudut kota, ada keluarga yang berjuang dengan cara yang sangat sunyi.
Mengingatkan bahwa memberi, sekecil apa pun, bisa membuat hati lebih lapang. Dus, yang paling penting, mengingatkan bahwa melihat ke bawah bukan untuk merasa lebih tinggi, melainkan untuk belajar bersyukur—dan, kalau bisa, berbuat sedikit lebih banyak.
Ini adalah cerita sederhana, cerita tentang mereka yang hidup dari sisa atau limbah rumah tangga, limbah warga kota.
