Konten dari Pengguna

Bedah Disposition Effect: Fenomena Jual Untung Kecil, Tahan Rugi Besar di Kripto

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatih As Salam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trading Foto: AlphaTradeZone/unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Trading Foto: AlphaTradeZone/unsplash

Ada satu pola perilaku yang hampir bisa dipastikan pernah dialami setiap trader kripto: buru-buru menjual aset begitu untung sedikit, tapi justru menahan posisi berhari-hari bahkan berbulan-bulan ketika rugi berharap harga akan kembali naik.

Fenomena ini punya nama dalam literatur keuangan perilaku: disposition effect, yaitu kecenderungan investor menjual aset yang untung terlalu cepat, namun menahan aset yang rugi terlalu lama.

Anehnya, meski fenomena ini menjadi penyebab utama trader "nyangkut" dan portofolio dipenuhi aset merah yang tak kunjung dilepas, topik ini nyaris tidak pernah dikupas media finansial Indonesia secara serius. Kebanyakan konten edukasi trading masih berkutat pada strategi teknikal, padahal akar masalahnya seringkali murni psikologis.

Apa Itu Disposition Effect?

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Hersh Shefrin dan Meir Statman pada 1985, yang mendeskripsikan kecenderungan investor menjual aset yang untung sambil menahan investasi yang merugi terlalu lama.

Fenomena ini berakar dari prospect theory teori yang menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya lebih menghindari kerugian (loss averse) dibanding mengejar keuntungan dengan besaran yang setara. Akibatnya, secara psikologis, menjual aset yang rugi terasa seperti "mengakui kekalahan" secara definitif, sementara menahannya memberi ilusi harapan bahwa kerugian itu belum benar-benar terjadi selama posisi belum ditutup.

Riset yang menganalisis data ribuan akun broker di Amerika Serikat menemukan proporsi saham untung yang dijual jauh lebih tinggi dibanding proporsi saham rugi yang dijual mengonfirmasi keberadaan disposition effect secara empiris menggunakan data transaksi riil, bukan sekadar teori.

Disposition Effect di Pasar Kripto: Lebih Parah dari Pasar Konvensional?

Yang menarik, penelitian yang secara spesifik menelusuri perilaku investor Bitcoin menemukan bahwa disposition effect juga terjadi kuat di pasar aset digital ini, sejalan dengan prediksi prospect theory bahwa investor cenderung lebih menghindari kerugian. Studi ini menegaskan bahwa trader kripto pun tidak kebal dari bias yang sama seperti investor saham konvensional bahkan berpotensi lebih rentan, mengingat volatilitas kripto yang jauh lebih tinggi membuat fluktuasi untung-rugi terjadi lebih cepat dan lebih ekstrem.

Penelitian lintas negara soal disposition effect juga menemukan variasi signifikan antarnegara, dengan dimensi budaya seperti orientasi jangka panjang dan tingkat "indulgence" (kecenderungan menuruti keinginan langsung) berkaitan dengan tinggi-rendahnya level disposition effect di suatu populasi. Ini artinya, konteks budaya Indonesia yang belum banyak diteliti secara spesifik dalam kaitannya dengan disposition effect berpotensi memiliki pola yang unik dan berbeda dari temuan di negara lain.

Mengapa Fenomena Ini Jarang Dibahas di Indonesia?

Ada beberapa dugaan mengapa disposition effect kurang mendapat perhatian di ranah media finansial maupun edukasi trading Indonesia:

Pertama, topik ini kurang "menjual" secara konten dibanding strategi teknikal atau sinyal trading instan. Membahas bias psikologis membutuhkan pendekatan edukatif yang lebih mendalam, sementara konten yang viral biasanya justru konten yang menjanjikan cara cepat profit.

Kedua, mengakui adanya disposition effect berarti mengakui bahwa masalah utama trader seringkali bukan soal kurangnya sinyal atau strategi, melainkan soal ketidakmampuan mengelola emosi saat rugi sesuatu yang lebih sulit dijual sebagai solusi instan dibanding indikator teknikal baru.

Ketiga, minimnya riset akademik yang secara spesifik menguji disposition effect pada trader ritel kripto Indonesia, membuat topik ini kurang punya "angka" atau data lokal yang bisa dijadikan bahan pemberitaan yang kuat.

Masalah yang Belum Terpecahkan

Berdasarkan tinjauan di atas, ada beberapa celah riset yang masih perlu dijawab, khususnya untuk konteks Indonesia:

  1. Belum ada studi empiris yang secara khusus mengukur besaran disposition effect pada trader ritel kripto Indonesia menggunakan data transaksi riil dari exchange lokal

  2. Minim kajian yang menghubungkan dimensi budaya Indonesia (misalnya orientasi jangka pendek, kolektivisme) dengan tingkat kerentanan terhadap disposition effect dibanding temuan di negara lain

  3. Belum ada intervensi berbasis bukti yang teruji efektif mengurangi disposition effect secara spesifik pada platform trading kripto yang beroperasi di Indonesia

Solusi yang Perlu Dipertimbangkan

Berdasarkan pola yang telah dipelajari dari literatur global, berikut beberapa langkah yang menurut penulis relevan untuk mengurangi dampak disposition effect pada trader kripto lokal:

1. Terapkan aturan exit plan sebelum entry, bukan sesudah

Trader sebaiknya menentukan target profit maupun batas kerugian (stop loss) sebelum membuka posisi, bukan memutuskan secara reaktif setelah melihat pergerakan harga karena keputusan yang dibuat di tengah tekanan psikologis cenderung lebih bias.

2. Gunakan intervensi informasi sederhana untuk menyadarkan bias

Riset eksperimental pada trader profesional menemukan bahwa intervensi informasi sederhana yang membuat disposition effect menjadi lebih disadari terbukti efektif mengubah tingkat bias tersebut dan bahkan turut memperbaiki return trader. Ini mengindikasikan bahwa sekadar penyadaran soal keberadaan bias ini sendiri bisa menjadi langkah awal yang efektif.

3. Pisahkan keputusan berdasarkan data, bukan mental accounting per posisi

Trader perlu dilatih untuk mengevaluasi portofolio secara keseluruhan, bukan menganggap tiap posisi sebagai "akun mental" terpisah yang harus "impas" dulu sebelum ditutup kebiasaan yang menjadi salah satu akar dari disposition effect.

4. Dorong riset lokal soal disposition effect di pasar kripto Indonesia

Kampus dan lembaga riset finansial perlu mulai menganalisis data transaksi trader lokal untuk memahami seberapa besar dan seperti apa karakteristik disposition effect di konteks Indonesia, alih-alih hanya mengandalkan temuan dari pasar negara lain.

Penutup

Disposition effect adalah salah satu bias psikologis paling konsisten ditemukan dalam literatur keuangan perilaku, dan pasar kripto sama sekali tidak kebal dari fenomena ini.

Kebiasaan menjual untung kecil terlalu cepat sambil menahan rugi besar terlalu lama bukan soal kurangnya kecerdasan analisis, melainkan cerminan dari cara manusia secara alami menghindari rasa sakit akibat kerugian.

Selama fenomena ini belum menjadi bagian dari edukasi trading arus utama di Indonesia, siklus trader yang "nyangkut" dengan portofolio penuh kerugian kemungkinan akan terus berulang, generasi demi generasi.

Daftar Pustaka

  • Shefrin, H., & Statman, M. (1985). The Disposition to Sell Winners Too Early and Ride Losers Too Long: Theory and Evidence. The Journal of Finance, 40(3), 777–790.

  • Odean, T. (1998). Are Investors Reluctant to Realize Their Losses?. The Journal of Finance, 53(5), 1775–1798.

  • Exploring Investor Behavior in Bitcoin: A Study of the Disposition Effect. (2020). arXiv preprint, arXiv:2010.12415.

  • Guenther, B., & Lordan, G. (2023). When the Disposition Effect Proves to Be Rational: Experimental Evidence from Professional Traders. Frontiers in Psychology.

  • Culture and the Disposition Effect. (2019). arXiv preprint, arXiv:1908.11492.