Manajemen Keuangan Gen Z: Antara Gaya Hidup dan Krisis Menabung

Fatih As Salam Mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Bisnis jurusan Manajemen Keuangan Universitas Pamulang - Trader Forex & crypto
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fatih As Salam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sebagian besar Gen Z Indonesia justru tetap memprioritaskan pengeluaran gaya hidup dibanding kebutuhan primer sebuah paradoks yang sering disalahpahami sebagai sekadar konsumerisme buta, padahal menyimpan dinamika psikologis dan struktural yang jauh lebih kompleks.
Data yang Menunjukkan Prioritas yang Berbeda
Survei YouGov bertajuk Rising Costs, Resilient Minds: Indonesia's Personal Finance Outlook mengungkap 66 persen responden Gen Z menganggap kondisi ekonomi 12 bulan terakhir sebagai yang paling menantang, namun mereka tetap memprioritaskan pengeluaran di sektor gaya hidup kecantikan dan perawatan pribadi (21 persen), busana (20 persen), serta makan di luar (14 persen). Bandingkan dengan Milenial yang memprioritaskan bahan makanan (39 persen) dan listrik (19 persen), atau Gen X yang mendahulukan bahan makanan (40 persen) dan pendidikan (36 persen).
Yang lebih mengejutkan, Gen Z rela mengurangi kebutuhan primer seperti kesehatan (7 persen) dan bahan makanan (6 persen) alih-alih mengubah gaya hidup mereka sebuah fenomena yang disebut menyerupai lipstick effect, kecenderungan konsumen mempertahankan belanja barang mewah kecil saat kondisi ekonomi sulit, namun dengan motivasi yang lebih kompleks: kesesuaian nilai personal dengan brand, bukan sekadar comfort spending semata.
Doomspending: Ketika Belanja Jadi Pelarian dari Ketidakpastian
Fenomena yang lebih mengkhawatirkan adalah meningkatnya kebiasaan doomspending menghabiskan uang demi kesenangan sesaat di tengah ketidakpastian masa depan. Survei yang dilakukan pengembang aplikasi fintech Frich terhadap komunitas satu juta pengguna Gen Z menemukan bahwa kebiasaan ini membuat 47 persen responden tidak memiliki dana darurat sama sekali. Situasi ekonomi yang menantang, alih-alih mendorong Gen Z lebih berhati-hati, justru membuat mereka semakin sulit memprioritaskan tabungan sebagian bahkan cenderung "menyerah" secara psikologis dan memilih menikmati kesenangan sesaat dibanding menabung untuk masa depan yang terasa tidak pasti.
Data lain menunjukkan gambaran yang lebih tajam: sebanyak 62 persen gaji yang diterima Gen Z berpotensi habis untuk gaya hidup, meski mereka sebenarnya sadar akan pentingnya investasi dan dana darurat kesadaran yang sayangnya berhenti di level pemahaman, tanpa berlanjut ke realisasi nyata dalam kebiasaan finansial sehari-hari.
Bukan Semua Gen Z Sama: Ada yang Justru Lebih Hemat
Menariknya, data lain menunjukkan gambaran yang berlawanan. Survei Populix bertajuk Millennials & Gen Z Report mencatat 77 persen responden mengaku rutin menabung, meski dengan jumlah yang tidak selalu tetap setiap bulannya. Fenomena frugal living juga semakin populer, dengan survei IDN Research Institute menemukan 56 persen Gen Z menerapkan gaya hidup hemat lewat strategi kreatif seperti aktif mencari promosi dan diskon (60 persen), mengurangi kegiatan sosial (54 persen), dan memilih opsi olahraga ekonomis (30 persen).
Kontradiksi data ini menunjukkan bahwa Gen Z bukan kelompok yang homogen dalam perilaku finansialnya ada segmen yang terjebak doomspending dan krisis dana darurat, namun ada pula segmen yang justru mengembangkan strategi adaptif seperti frugal living untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi yang sama.
Akar Masalah: Gap Antara Literasi dan Perilaku
OJK sendiri mengidentifikasi persoalan mendasar di balik perilaku finansial Gen Z: gap antara inklusi dan literasi keuangan. Meski indeks inklusi keuangan Gen Z tinggi mereka sudah memiliki akses ke rekening bank, e-wallet, atau aplikasi investasi pemahaman mereka tentang cara mengelola produk keuangan tersebut masih tertinggal. Kebiasaan hidup dengan moto YOLO (you only live once) dan FOMO (fear of missing out) turut mendorong keputusan finansial impulsif, seperti membeli barang viral atau mengikuti tren tanpa perhitungan matang.
Masalah yang Belum Terpecahkan
Berdasarkan tinjauan di atas, ada beberapa celah yang masih perlu dikaji lebih jauh:
Belum ada studi yang secara spesifik memetakan faktor pembeda antara segmen Gen Z yang terjebak doomspending dengan segmen yang berhasil menerapkan frugal living, meski keduanya sama-sama menghadapi tekanan ekonomi serupa
Minim penelitian yang menelusuri apakah kesadaran soal pentingnya dana darurat dan investasi yang sudah cukup tinggi di kalangan Gen Z bisa diterjemahkan menjadi perubahan perilaku nyata lewat intervensi edukasi yang lebih tepat sasaran
Belum jelas bagaimana fenomena lipstick effect dan identitas konsumsi Gen Z Indonesia berkembang dalam jangka panjang, mengingat data yang ada saat ini lebih banyak bersifat potret sesaat dibanding tren longitudinal
Penutup
Manajemen keuangan Gen Z Indonesia menghadirkan gambaran yang jauh lebih kompleks dari sekadar generasi konsumtif yang "boros". Di satu sisi, doomspending dan minimnya dana darurat mencerminkan krisis nyata yang perlu diwaspadai. Di sisi lain, kesesuaian nilai personal dalam pengeluaran gaya hidup dan strategi frugal living yang mulai berkembang menunjukkan bahwa sebagian Gen Z justru beradaptasi secara cerdas terhadap tekanan ekonomi yang mereka hadapi. Tantangan ke depan bukan sekadar menyuruh Gen Z "berhenti boros", melainkan menjembatani gap antara literasi yang sudah mereka miliki dengan perilaku finansial yang benar-benar mereka jalankan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Campaign Indonesia. Gen Z Indonesia Prioritaskan Identitas dan Gaya Hidup di Tengah Ekonomi Lesu, mengutip survei YouGov, Agustus 2025.
CNBC Indonesia. Gen Z Makin Sering 'Doomspending', Nyaris Tak Pernah Menabung, mengutip survei Frich, Agustus 2026.
Tempo.co. Survei Populix Ungkap Generasi Milenial dan Gen Z Gemar Menabung, Juli 2025.
GoodStats Data. Frugal Living: Strategi Cerdas Gen Z Kelola Finansial, mengutip survei IDN Research Institute.
Khazanah Riau. Perilaku Konsumtif Gen Z di Indonesia: Rendahnya Literasi Keuangan, Januari 2026.
Nasmedia. 5 Fakta Literasi Finansial Gen Z Berdasarkan Survei OJK.
