Konten dari Pengguna

Sandwich Generation Finansial: Ketika Idealisme Bertemu Realita Ekonomi Keluarga

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatih As Salam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jungkat-jungkit dengan MONEY FAMILY Buzzword Cubes - Gradient Background - Rendering 3D. Karya: porcorex/iStock
zoom-in-whitePerbesar
Jungkat-jungkit dengan MONEY FAMILY Buzzword Cubes - Gradient Background - Rendering 3D. Karya: porcorex/iStock

Membiayai kebutuhan hidup diri sendiri saja sudah menantang di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Bagaimana jika di saat bersamaan, seseorang juga harus menanggung biaya hidup orang tua yang menua dan anak yang masih membutuhkan pendidikan? Inilah realita yang dihadapi sandwich generation kelompok yang terjepit di antara dua generasi yang sama-sama bergantung secara finansial pada mereka, dan skalanya di Indonesia ternyata jauh lebih besar dari yang banyak orang bayangkan.

Skala Fenomena yang Mengejutkan

Survei terbaru pada 2026 mengungkap bahwa 90 persen pekerja di Indonesia kini menghadapi tekanan finansial ganda: membiayai orang tua sekaligus anak dalam satu waktu. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding temuan survei CNBC Indonesia pada 2021 yang mencatat 48,7 persen masyarakat usia produktif (25-45 tahun) termasuk kategori sandwich generation menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam rentang waktu lima tahun. Riset lain dari OCBC NISP bahkan menyebut sekitar 54 persen generasi muda Indonesia sudah bisa dikategorikan sebagai generasi sandwich, sementara survei Tirto dan Jakpat mencatat sekitar 67 persen populasi Indonesia atau setara 56 juta orang masuk kategori ini.

Terlepas dari variasi angka antar-survei, satu benang merah yang konsisten: fenomena sandwich generation di Indonesia bukan sekadar kasus minoritas, melainkan kondisi yang dialami mayoritas masyarakat usia produktif.

Kesiapan Finansial yang Jauh dari Memadai

Yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar jumlah adalah tingkat kesiapan finansial mereka yang menyandang status ini. Dari seluruh kelompok sandwich generation, hanya 13,4 persen yang benar-benar siap secara finansial untuk memenuhi pengeluaran pokok, sekaligus mampu menabung dan berinvestasi. Sebanyak 40 persen generasi sandwich bahkan tidak memiliki dana darurat sama sekali kondisi yang sangat berisiko mengingat mereka justru menanggung tanggung jawab finansial ganda yang jauh lebih besar dibanding individu tanpa tanggungan serupa.

Data terbaru pada 2026 menambah lapisan kekhawatiran lain: survei Sun Life mengungkap 57 persen perempuan Indonesia diprediksi tidak akan memiliki tabungan pensiun yang memadai, dengan 82 persen responden mengaku harus memangkas biaya rekreasi pribadi, 30 persen membatasi peluang investasi, dan 28 persen menunda penyisihan dana masa tua demi memenuhi kebutuhan keluarga yang mereka tanggung. Beban medis pun menjadi faktor krusial, dengan 51 persen responden menyatakan biaya kesehatan sebagai hambatan utama mencapai kemandirian finansial.

Idealisme Filial Piety Bertemu Tekanan Finansial Nyata

Kajian akademik yang menganalisis dampak tekanan finansial terhadap kepuasan hidup generasi sandwich Indonesia pada 2026 menemukan pola psikologis yang menarik: fenomena sandwich generation di Indonesia merupakan persoalan struktural sistemik yang ditandai beban finansial signifikan, dengan hubungan antara beban finansial dan kepuasan hidup yang sepenuhnya dimediasi oleh tekanan psikologis kronis. Dukungan sosial ditemukan menjadi penyangga penting terhadap stresor ini.

Yang menarik, studi ini juga mengungkap fenomena paradoks: kepuasan hidup tetap tinggi karena terpenuhinya kewajiban budaya filial piety (bakti kepada orang tua), yang memberi makna dan tujuan hidup bagi generasi sandwich. Namun nilai budaya yang sama ini juga bisa memperburuk tekanan psikologis lewat rasa bersalah yang intens ketika tanggung jawab finansial tidak dapat terpenuhi sepenuhnya. Inilah tepatnya benturan antara idealisme keinginan kuat berbakti pada orang tua dan memberikan yang terbaik bagi anak dengan realita ekonomi yang seringkali tidak mendukung idealisme tersebut secara penuh.

Norma Budaya yang Memperkuat Beban

Tren sandwich generation di Indonesia turut diperkuat norma budaya yang mendorong co-residence atau tinggal bersama, di mana keluarga tiga generasi yang hidup dalam satu atap menjadi hal yang semakin umum. Norma ini secara implisit mengalihkan beban perawatan dan finansial lansia ke pundak keluarga, terutama anak-anak mereka berbeda dengan negara maju yang punya sistem jaminan sosial lansia lebih mapan, sehingga beban perawatan tidak sepenuhnya bertumpu pada keluarga inti.

Beban ini juga tidak merata secara gender. Studi menemukan perempuan generasi sandwich kerap menjalankan peran ganda bekerja sekaligus menjadi pengganti kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh atas orang tua dan anak-anak mereka, terutama ketika generasi yang lebih tua tidak mampu menghadapi kebutuhan masa tua mereka secara mandiri.

Masalah yang Belum Terpecahkan

Berdasarkan tinjauan di atas, ada beberapa celah yang masih perlu dikaji lebih jauh:

  1. Belum ada kebijakan publik yang secara spesifik mendukung generasi sandwich Indonesia, seperti insentif pajak atau subsidi khusus bagi pekerja yang menanggung tanggungan ganda (orang tua dan anak) secara bersamaan

  2. Minim penelitian longitudinal yang menelusuri dampak jangka panjang tekanan finansial dan psikologis pada generasi sandwich terhadap kesehatan mental dan fisik mereka seiring bertambahnya usia

  3. Belum jelas bagaimana proyeksi ke depan mengingat rasio ketergantungan penduduk nonproduktif terhadap produktif diproyeksikan terus meningkat hingga 2035 dan 2050 apakah beban sandwich generation akan semakin berat, dan strategi mitigasi struktural apa yang perlu disiapkan sejak sekarang

Penutup

Sandwich generation finansial di Indonesia bukan sekadar fenomena individual, melainkan persoalan struktural yang melibatkan benturan antara nilai budaya filial piety yang dijunjung tinggi dengan realita ekonomi yang seringkali tidak mendukung idealisme tersebut secara penuh. Dengan mayoritas pekerja Indonesia kini menanggung beban finansial ganda, namun hanya sebagian kecil yang benar-benar siap secara finansial, persoalan ini membutuhkan perhatian yang lebih serius baik dari sisi kebijakan publik, dukungan sosial, maupun perencanaan keuangan keluarga yang lebih matang sebelum tekanan yang dialami generasi saat ini berkembang menjadi krisis yang lebih besar bagi generasi mendatang.

Daftar Pustaka

Suara Surabaya. Survei: 90 Persen Pekerja RI Terjebak Sandwich Generation, 2026.

Allianz Indonesia. Mungkinkah Sandwich Generation Meraih Kebebasan Finansial?, mengutip survei CNBC Indonesia 2021.

Suara.com. Ngenes, Generasi Sandwich Diramal Tidak akan Punya Tabungan Pensiun, mengutip survei Sun Life, April 2026.

Qazwa Blog. Mengenal Sandwich Generation dan Bagaimana Menyiasatinya, mengutip survei Tirto dan Jakpat, riset OCBC NISP.

Treasury.id. Indonesia Gawat! 40 Persen Generasi Sandwich Tak Punya Dana Darurat!.

Smart: Journal of Media Communication and Social Dynamics. Impact of Financial Pressure on Life Satisfaction Among the Indonesian Sandwich Generation, Volume 1(1), 2026.