Konten dari Pengguna

Stablecoin dan Ancamannya terhadap Stabilitas Rupiah Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatih As Salam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi uang koin Rupiah berwarna emas. Foto: Ekatamadesign/iStock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi uang koin Rupiah berwarna emas. Foto: Ekatamadesign/iStock

Stablecoin aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat seperti dolar AS sering dipromosikan sebagai jembatan aman antara dunia kripto yang volatil dengan stabilitas mata uang konvensional. Namun di balik citra "stabil" ini, ada persoalan kedaulatan moneter yang mulai menjadi perhatian serius otoritas keuangan Indonesia: jika masyarakat semakin nyaman bertransaksi memakai stablecoin berbasis dolar, bagaimana nasib kendali Bank Indonesia atas peredaran uang dan kebijakan moneter nasional?

Ancaman "Shadow Banking" dari Stablecoin Asing

Kekhawatiran utama yang disuarakan berbagai kajian adalah potensi stablecoin swasta global mengambil alih peran uang nasional jika bank sentral tidak mengambil langkah antisipatif. Fenomena yang disebut sebagai shadow banking ini menggambarkan skenario ketika masyarakat beralih menggunakan stablecoin swasta untuk transaksi sehari-hari, sehingga Bank Indonesia berpotensi kehilangan kemampuannya mengontrol jumlah uang beredar maupun suku bunga secara efektif.

Kekhawatiran ini bukan sekadar spekulasi lokal. Pejabat otoritas keuangan negara berkembang lain turut menyuarakan hal serupa Kepala Ekonom Kementerian Keuangan India bahkan secara terbuka menyebut popularitas stablecoin berbasis dolar yang terus meningkat akan membawa tantangan unik bagi kebijakan moneter, mekanisme transmisi kebijakan, hingga manfaat seigniorage (keuntungan negara dari penerbitan uang) suatu bangsa. Ini menunjukkan bahwa ancaman dominasi stablecoin dolar terhadap kedaulatan moneter negara berkembang adalah persoalan yang mulai mendapat perhatian serius secara global, tidak terkecuali Indonesia.

Jawaban Bank Indonesia: Rupiah Digital dengan Mekanisme Stablecoin

Merespons dinamika ini, Bank Indonesia justru mengambil pendekatan yang cukup unik: mengintegrasikan mekanisme stablecoin ke dalam proyek mata uang digital bank sentral (CBDC) mereka sendiri, Proyek Garuda. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa Rupiah Digital akan didukung oleh "surat berharga bank sentral digital" versi tokenisasi dari Surat Berharga Negara (SBN) menjadikan Rupiah Digital salah satu mata uang digital berdaulat pertama di dunia yang didukung obligasi pemerintah. Pendekatan ini pada dasarnya menggabungkan keamanan mata uang terbitan bank sentral dengan stabilitas aset yang mendasarinya, yang oleh pejabat BI sendiri disebut sebagai "stablecoin nasional".

Dengan pendekatan ini, Rupiah Digital dijanjikan memiliki risiko gagal bayar nol karena merupakan kewajiban langsung Bank Indonesia, dengan nilai tukar yang dijamin setara 1:1 terhadap Rupiah fisik konvensional. Proyek ini dipandang bukan sebagai ancaman terhadap ekosistem kripto, melainkan justru sebagai infrastruktur dasar yang bisa menstabilkan dan memperdalam ekosistem keuangan terdesentralisasi berbasis Rupiah ke depannya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada stablecoin asing.

Namun, Solusi Ini Juga Membawa Risiko Baru

Yang menarik, upaya Bank Indonesia menangkal ancaman stablecoin asing lewat Rupiah Digital sendiri bukan tanpa risiko. Salah satu kekhawatiran yang mengemuka adalah potensi disintermediasi perbankan jika masyarakat bisa menyimpan uang langsung di Bank Indonesia lewat Rupiah Digital yang jelas lebih aman dibanding bank komersial, fungsi utama perbankan dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat berpotensi melemah signifikan. Kajian dari Bank for International Settlements (BIS) tahun 2021 bahkan mencatat bahwa kehadiran CBDC berpotensi mempercepat tekanan likuiditas pada sistem perbankan apabila desainnya kurang bijaksana menciptakan ironi di mana teknologi yang seharusnya memberi stabilitas justru berpotensi menjadi pemicu krisis jika tidak dirancang dengan hati-hati.

Masalah yang Belum Terpecahkan

Berdasarkan tinjauan di atas, ada beberapa celah dan pertanyaan besar yang masih menjadi tanda tanya seiring perkembangan proyek ini:

1. Belum ada kejelasan mekanisme spesifik yang akan diterapkan Bank Indonesia untuk mencegah risiko disintermediasi perbankan akibat peluncuran Rupiah Digital ke publik, mengingat fase awal proyek masih berfokus pada segmen wholesale (antarbank) dan belum menyentuh masyarakat umum secara langsung

2. Minim kajian publik soal seberapa besar sebenarnya penetrasi stablecoin berbasis dolar di kalangan pengguna kripto Indonesia saat ini, sehingga sulit menakar urgensi riil ancaman "shadow banking" tersebut dalam konteks lokal

3. Belum ada roadmap yang jelas soal kapan Rupiah Digital akan benar-benar diluncurkan untuk publik luas (retail), mengingat uji coba Proyek Garuda pada 2026 masih berfokus pada efisiensi transaksi, interoperabilitas lintas batas, dan mitigasi risiko dalam skala terbatas

Penutup

Stablecoin menghadirkan dilema ganda bagi stabilitas moneter Indonesia. Di satu sisi, dominasi stablecoin asing berbasis dolar berpotensi mengikis kendali Bank Indonesia atas peredaran uang dan kebijakan moneter nasional. Di sisi lain, solusi yang ditawarkan lewat Rupiah Digital berbasis mekanisme stablecoin sendiri membawa risiko baru berupa potensi disintermediasi perbankan yang perlu dikelola dengan sangat hati-hati. Pertanyaan besar yang belum terjawab tuntas: apakah Indonesia benar-benar sudah siap dan cukup kuat dalam sistem keuangannya untuk menavigasi transformasi ini, ataukah justru berisiko tergesa-gesa mengejar tren global tanpa mitigasi yang memadai.

Daftar Pustaka

Yahoo Finance. CBDC with Stablecoin Mechanics: Indonesia's Digital Rupiah to Be Backed by Government Bonds, mengutip pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo.

Reku.id. CBDC Bukan Ancaman, Project Garuda Siapkan Infrastruktur Rupiah Digital untuk DeFi Indonesia, November 2025.

Dupoin.co.id. CBDC Adalah: Mengenal Rupiah Digital dan Masa Depan Uang di Indonesia.

IDN Financials. Bank Indonesia Develops Stablecoin Based on Digital Rupiah, mengutip pernyataan Kepala Ekonom Kementerian Keuangan India, V. Anantha Nageswaran, dilansir Reuters.

Fajar Pendidikan. Rupiah Digital dan Ancaman Stabilitas Keuangan Indonesia, mengutip kajian Bank for International Settlements (BIS), 2021.

KuCoin. Apakah Stablecoin atau Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) Dapat Mengubah Cara Pemerintah Mengelola Utang dan Likuiditas?.