Sains di Balik Tangisan Massal Penonton 'Lahn Mah' : Bukan Sekadar Cerita Sedih

Halo, Saya Fatih Harun, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, Padang ,Sumatera Barat
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fatih Harun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertengahan tahun 2024 lalu, linimasa media sosial kita dipenuhi oleh tren yang tidak biasa. Ribuan orang mengunggah video wajah mereka yang sembab, mata bengkak, dan napas tersengal setelah keluar dari bioskop. Penyebabnya satu: sebuah film drama keluarga asal Thailand berjudul How to Make Millions Before Grandma Dies.
Film ini sukses besar dan memecahkan rekor box office di Indonesia. Namun, sebuah pertanyaan menarik muncul: mengapa film ini bisa memicu reaksi fisik sehebat itu? Banyak film bertema keluarga dan kasih sayang nenek-cucu, tetapi jarang ada yang sampai membuat penonton sesak napas berjemaah.
Ternyata, jawabannya bukan sekadar karena naskahnya yang sedih. Di balik layar, sutradara Pat Boonnitipat sedang merakit sebuah "mesin penyerang emosi" yang dirancang sangat presisi untuk membajak sistem saraf tubuh penontonnya.
Bukan Sekadar Komunikasi Makna, Tapi Komunikasi Rasa
Dalam kajian psikologi media dan sinema kontemporer, film tidak lagi dilihat sekadar sebagai media untuk "bercerita", melainkan sebagai mesin pengalaman (experiential machine). Saat menonton How to Make Millions Before Grandma Dies, tubuh kitalah yang sebenarnya menjadi target utama, mendahului akal sehat kita.
Mari kita bedah anatominya. Pada awal film, kita dibuat berjarak dengan karakter M yang cuek dan bermotif materialistis. Akal sehat kita menolak sikapnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kamera terus-menerus menyorot detail-detail kecil rutinitas Amah yang melelahkan—seperti bangun di pagi buta untuk menjual bubur. Pengulangan aktivitas tanpa henti ini diam-diam mentransmisikan rasa lelah secara nyata ke fisik penonton.
Puncaknya ada pada adegan saat M perlahan memakaikan sepatu ke kaki Amah. Kamera mengambil gambar sangat dekat (Close-Up). Alih-alih menggunakan dialog panjang yang mendayu-dayu, sutradara menggunakan teknik rabaan visual (Haptic Visuality). Teknik ini menipu mata kita seolah-olah berubah fungsi menjadi indra peraba, membuat penonton bisa merasakan langsung "kehangatan" sentuhan fisik tersebut. Di sinilah logika moral kita luluh total.
Mencekik Lewat Kesunyian
Jika perhatikan dengan saksama, film ini sangat pelit menggunakan musik latar (scoring) yang sedih. Biasanya, film melodrama Hollywood atau sinetron akan membombardir telinga kita dengan alunan biola atau piano yang menyayat hati untuk "memaksa" kita menangis. Film ini justru melakukan anomali: ia menggunakan keheningan absolut.
Coba ingat adegan saat Amah ditinggalkan sendirian duduk di ranjang panti jompo. Kamera menyorot ruangan luas yang sepi dari kejauhan dalam durasi yang sangat lama tanpa sepotong musik pun. Dalam ilmu sinema, ini disebut manipulasi Espace Quelconque (ruang hampa).
Ketiadaan musik pelindung ini mematikan nalar rasional kita. Kesunyian itu tidak bermakna kosong, melainkan berubah menjadi beban atmosferik yang secara harafiah menekan rongga dada penonton. Banyak penonton melaporkan sensasi dada terasa berat dan tanpa sadar menahan napas saat adegan ini berlangsung. Kita dipaksa ikut merasa terkurung dan terisolasi bersama Amah.
Suara Ketukan Kayu: Senjata Utama Penghancur Pertahanan
Eskalasi emosi ini mencapai titik ledak (katarsis) pada adegan ikonik di akhir film: M berjalan menyusuri jalanan sambil terus mengetuk peti mati Amah.
Di momen perpisahan yang krusial ini, lagi-lagi sutradara menolak menggunakan musik sedih. Ia hanya menyisakan suara mentah (Sonsign) dari bunyi hantaman kayu yang diketuk secara ritmis. Ritme ketukan tanpa musik ini beroperasi bagaikan detak jantung artifisial yang langsung menyerang sistem saraf otonom audiens.
Respons fisik seperti kulit merinding, suhu tubuh yang terasa panas, hingga tangisan histeris yang tak terbendung pecah pada adegan ini. Reaksi jasmaniah ini muncul secara spontan (refleks), jauh sebelum otak penonton sempat memproses kata "sedih" itu sendiri. Otak kita gagal merasionalisasi kesedihan karena telinga kita dihantam oleh realitas perpisahan yang disajikan secara telanjang bulat.
Sihir Sinema yang Sesungguhnya
Fenomena How to Make Millions Before Grandma Dies membuktikan bahwa komunikasi sinematik yang paling berdampak sering kali terjadi di luar batas dialog atau kata-kata. Air mata massal di bioskop kemarin bukanlah sebuah histeria yang tidak beralasan, melainkan bukti mutlak bahwa tubuh manusia tidak berdaya ketika ruang, keheningan, dan suara murni dimanipulasi dengan brilian oleh sang pembuat film.
Film ini mengajarkan kita satu hal penting dalam seni bercerita: terkadang, cara terbaik untuk membuat seseorang menangis bukanlah dengan memberitahu mereka kisah yang sedih, melainkan dengan membiarkan mereka ikut memikul keheningannya.
Profil Penulis :
Fatih Harun adalah pengkaji sinema dan mahasiswa tingkat akhir konsentrasi Media, Televisi, dan Film pada Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. Esai ini disadur dari temuan riset akademisnya mengenai respons afeksi dan fenomena psikologis penonton film di Indonesia.
