Konten dari Pengguna

Tabah di Tengah Cobaan: Belajar dari Hadis Rasulullah tentang Kesabaran

Fatimah nurani normarista

Fatimah nurani normarista

Mahasiswa, Fakultas Syariah, Program Studi Hukum Keluarga Islam, Universitas Islam Negeri Randen Mas Said Surakarta.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatimah nurani normarista tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang berdoa (sumber: pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang berdoa (sumber: pexels.com)

Ketabahan dalam menghadapi cobaan merupakan salah satu konsep yang sangat penting dalam Islam. Dalam konteks ini, ketabahan merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap teguh dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan, ujian, atau musibah yang datang dalam kehidupannya. Ketabahan bukanlah sekadar menahan diri dari bereaksi secara emosional atau menyerah kepada keadaan, tetapi lebih kepada sikap mental dan spiritual yang kuat dalam menghadapi cobaan dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan pertolongan-Nya.

Dalam Al-Quran, konsep ketabahan dan sabar disebutkan berkali-kali sebagai prinsip yang harus dimiliki oleh seorang Muslim dalam menghadapi cobaan. Salah satu ayat yang menjelaskan hal ini adalah dalam Surah Al-Baqarah (2:155-157), di mana Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“(155) Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar, (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (157) Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an saja melainkan terdapat Hadis yang terkait dengan ketabahan dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Imam Al-Munawi berkata dalam Faidhul Qadir, “Keadaan seorang mukmin semuanya itu baik. Hanya didapati hal ini pada seorang mukmin. Seperti itu tidak ditemukan pada orang kafir maupun munafik. Keajaibannya adalah ketika ia diberi kesenangan berupa sehat, keselamatan, harta dan kedudukan, maka ia bersyukur pada Allah atas karunia tersebut. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersyukur. Ketika ia ditimpa musibah, ia bersabar. Ia akan dicatat termasuk orang yang bersabar".

Oleh karenanya, selama seseorang itu dibebani syari’at, maka jalan kebaikan selalu terbuka untuknya. Sehingga seorang hamba yang beriman itu berada di antara mendapatkan nikmat yang ia diperintahkan untuk mensyukurinya dan musibah yang ia diperintahkan untuk bersabar.

Cobaan dari Allah juga merupakan tanda bahwa Allah cinta kepada seorang hamba-Nya. Dikutip dari Rumaysho, cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah dan tanda bahwa Allah semakin cinta kepada hamba-Nya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya.

Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Juga dari hadits Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barang siapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

Allah memberikan cobaan kepada seorang hamba-Nya melalui berbagai cara, seperti ujian, kesulitan, atau cobaan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah untuk menguji iman, ketabahan, dan kesabaran seseorang, serta untuk memperkuatnya dalam menjalani kehidupan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun, walaupun cobaan-cobaan tersebut terkadang terasa berat, penting untuk diingat bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian dalam menghadapi cobaan. Dalam setiap cobaan, Allah selalu menyediakan jalan keluar.

Ketika Allah menguji seorang hamba-Nya maka ketahuilah bahwa semakin kuat iman seorang hamba, maka Allah akan menguji seorang hamba-Nya tersebut.

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185)]

Dan yakinlah kepada Allah, bahwa dibalik kesulitan, dibalik cobaan yang Allah berikan kepada seorang hamba-Nya insyaAllah ada kemudahan dalam menghadapinya. Seperti dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6 Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6).

Ketika kita mendapatkan cobaan dari Allah hendaknya kita juga harus bisa menghadapinya dengan bersabar dan yakin kepada Allah, bahwa Allah memberikan cobaan atau ujian kepada hamba-Nya itu pasti ada jalan keluarnya, tidak akan pernah buntu. Tidak lupa jika ketika kita mendapat cobaan dari Allah maka kita juga harus berdoa kepada Allah, karena Allah lah yang akan memberikan kemudahan pada seorang hamba-Nya.

Doa ketika mendapat musibah atau cobaan dari Allah:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أَجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأُخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah yang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik”. (HR. Muslim, no. 1526)

Fatimah Nurani Normarista, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.