Konten dari Pengguna

Media Sosial Menilai Berbahasa Indonesia Untuk Gen Z

Fatima Azara

Fatima Azara

Saya Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang.

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatima Azara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: The_Remnant potraiture via Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto: The_Remnant potraiture via Pexels

Benarkah berbahasa lokal sudah memudar? Setiap tahun bertambahnya anak muda berprestasi yang menggunakan bahasa asing di ruang publik. Banyak anak muda Indonesia di media sosial seperti TikTok dan Instagram membuat konten atau caption dengan mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Berjalan di linimasa media sosial hari ini rasanya seperti tersesat di persimpangan bahasa. Percakapan anak muda kita penuh sesak oleh istilah asing yang diselipkan di sana-sini, seolah bahasa baku kita sudah kehabisan daya pikatnya. Ini bukan lagi sekadar bumbu pergaulan atau tren musiman agar dianggap modern. Di balik riuh rendahnya bahasa campuran tersebut, ada pergeseran budaya yang pelan tapi pasti sedang terjadi.

"Kekhawatiran ini sejalan dengan temuan dalam Jurnal Bahtra (2025), yang menyebutkan bahwa konsumsi bahasa gaul dan serapan asing yang tidak terkontrol di era digital secara nyata menurunkan keterampilan menulis formal dan pemahaman bahasa baku di kalangan generasi muda. Media sosial membuat kita fasih berselancar di dunia maya, tetapi gagap saat harus berbahasa resmi."

Source: STKIP Harapan Bima

Saya tidak menyalahkan orang yang jago bahasa asing atau istilah luar negeri. Itu keren dan menjadi bukti bahwa kita terbuka dengan dunia. Tapi sebagai sesama orang Indonesia, rasanya sayang banget kalau kita sendiri yang meninggalkan bahasa kita. Ini bukan salah bahasa asingnya. Ini soal rasa percaya diri kita terhadap identitas sendiri. Kita terlalu takut dibilang tidak gaul, tidak modern, atau tidak update. Padahal, menggunakan bahasa Indonesia tidak membuat kita ketinggalan zaman.

Jangan sampai karena ingin terlihat modern, kita jadi malu menggunakan bahasa Indonesia sendiri. Bahasa Indonesia itu tidak kaku. Ia bisa serius saat rapat, bisa santai saat nongkrong, bahkan bisa dicampur bahasa daerah supaya lebih hidup. Itu adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Pada akhirnya, menjadi manusia global berarti menguasai bahasa dunia, tanpa pernah mencabut akar bahasa identitas aslinya.

Solusinya bisa dimulai dari langkah kecil berikut:

1. Coba terbiasa buat satu caption pakai bahasa Indonesia.

2. Berani berbicara di depan publik dengan bahasa Indonesia agar insting berbahasa kita semakin terbiasa.

3 Biasakan mengobrol menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berkomunikasi dengan sesama warga negara Indonesia.

Dari hal kecil seperti itu saja, kita sudah ikut memperkenalkan dan menjaga identitas Indonesia di mata dunia. Gen Z boleh jago bahasa Inggris, boleh gaul, dan boleh selalu update. Namun, jangan sampai lupa bahwa kita punya bahasa sendiri yang tidak kalah keren dan sangat pantas untuk dibanggakan.