Cegah Gersang dan Banjir, Mahasiswa BBK 8 UNAIR Ajak Siswa SD Lubawang Menanam

Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fatimah Hanunah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SITUBONDO – Di tengah teriknya udara Dusun Curah Guno yang dikenal kerap dilanda kekeringan panjang, sekelompok mahasiswa justru mengajak puluhan anak sekolah dasar untuk melakukan hal sederhana: menanam.
Sebanyak 22 siswa SDN 4 Lubawang dari kelas 3 hingga kelas 6 mengikuti program Green Kids bertajuk "Green Kids: Menanam Hari Ini, Hijaukan Bumi Esok Hari" pada Jumat (24/7/2026) pukul 09.00 WIB, sebuah kegiatan Lingkungan sekaligus Pendidikanyang digagas oleh Kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) Tahun 2026, Kelompok Lubawang II, yang bertugas di Desa Lubawang, Dusun Curah Guno, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Program ini lahir dari keresahan terhadap kondisi lingkungan setempat yang paradoks: gersang di satu sisi, namun rawan banjir di sisi lain. Kondisi ini dibenarkan oleh Pak Yulianto, salah satu guru SDN 4 Lubawang. "Curah Guno ini memang daerahnya kering. Bahkan pernah suatu ketika kami sampai tidak ada air sama sekali selama satu bulan penuh," ujar Pak Yulianto.
Kondisi itulah yang mendorong kelompok Lubawang II merancang program edukasi lingkungan sejak usia dini. "Kami melihat langsung bagaimana kondisi tanah di sini cukup gersang, tapi di musim hujan justru rawan banjir. Dari situ kami berpikir, salah satu solusi jangka panjang yang bisa kami ajarkan ke anak-anak adalah kebiasaan menanam," ujar Lutfania selaku penanggung jawab program.
Agar materi mudah dicerna oleh siswa dari berbagai jenjang kelas, kegiatan dikemas secara interaktif melalui sesi ice breaking, kuis tanya jawab, serta pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman siswa sebelum dan sesudah materi disampaikan. Setelah pemaparan materi mengenai manfaat tanaman dan cara merawatnya, para siswa diajak turun langsung mempraktikkan tahapan menanam bibit ke dalam pot, mulai dari mengisi tanah, memasukkan bibit, menutup dengan tanah, hingga menyiramnya.
Pelaksanaan program ini sempat menghadapi tantangan tersendiri. Rencana awal yang menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6 harus diperluas dengan menambahkan siswa kelas 3, menyusul berkurangnya kehadiran siswa akibat agenda budaya desa yang berlangsung pada hari-hari sebelumnya. Penyesuaian ini justru berbuah manis: seluruh bibit tanaman yang telah disiapkan tetap dapat terserap dan dibagikan tanpa tersisa.
Hasil pre-test dan post-test yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai manfaat tanaman dan langkah-langkah menanam yang benar, sekaligus menjadi indikator keberhasilan pendekatan edukatif yang digunakan. Namun, luaran utama program ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan di atas kertas. Seluruh 22 siswa yang hadir membawa pulang satu bibit tanaman dalam pot hasil tanam mereka sendiri untuk dirawat secara mandiri di rumah masing-masing, menjadikan program ini bukan sekadar sosialisasi satu arah, melainkan langkah nyata yang berkelanjutan hingga ke rumah setiap siswa.
Melalui program ini, Lutfania berharap kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini dapat tumbuh menjadi kepedulian jangka panjang. "Curah Guno ini kan kondisinya cukup gersang dan pernah kena banjir juga. Kami berharap satu bibit yang mereka bawa pulang ini bisa menjadi awal kebiasaan baik, supaya ke depannya lingkungan di sini bisa lebih hijau dan lebih aman dari risiko seperti itu," ujar Lutfania saat ditemui usai kegiatan berlangsung, Jumat (24/7/2026).
