Mahasiswa KKN-T UNDIP Tim 41 membuat Komposter Iot Untuk Produksi Pupuk Kompos

Profesi: Mahasiswa Teknik Kimia Institusi: Universitas Diponegoro
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fatimah Nur Zahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mahasiswa KKN-T Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim 41 mengembangkan pemanfaatan limbah pertanian berupa kotoran bebek yang bercampur jerami menjadi pupuk kompos ramah lingkungan di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Program ini sekaligus memperkenalkan inovasi komposter berbasis IoT yang memungkinkan pemantauan suhu dan kelembapan kompos secara real time selama proses fermentasi.


Pupuk kompos dibuat oleh mahasiswa Teknik Kimia menggunakan campuran molase, EM4, air kelapa, dan kapur sebagai bahan pendukung fermentasi. Proses berlangsung selama dua minggu di dalam komposter berbentuk drum hasil rancangan mahasiswa Teknik Mesin. Komposter ini menggunakan drum plastik berkapasitas 120 liter dengan tinggi sekitar 80 cm sebagai wadah utama proses pengomposan limbah organik menjadi pupuk padat. Komposter juga dilengkapi pipa paralon sebagai jalur sirkulasi udara guna menjaga kondisi aerob di dalam drum sehingga proses pengomposan berlangsung lebih optimal dan minim bau.
Sistem monitoring yang dikembangkan mahasiswa Teknik Elektro memanfaatkan sensor suhu digital DS18B20 dan sensor kelembapan (soil moisture sensor) yang dipasang langsung pada media kompos. Sensor terhubung dengan mikrokontroler yang membaca dan mengirimkan data ke sistem pemantauan, sehingga perubahan suhu dan kelembapan selama fermentasi dapat dipantau tanpa pemeriksaan manual. Sistem ini mampu menampilkan data secara stabil sehingga proses pengomposan menjadi lebih efisien, terukur, dan mendukung kualitas pupuk yang dihasilkan.
Setelah fermentasi selesai, pupuk diuji kualitasnya melalui parameter pH, kelembapan, bau, dan tekstur. Hasil pengujian menunjukkan pH pupuk pada minggu pertama mencapai angka 8 dan menurun menjadi 7,5 pada minggu kedua, menandakan kondisi pupuk semakin stabil. Tingkat kelembapan kompos juga turun dari 70% menjadi 50% pada minggu kedua yang dipengaruhi kondisi musim hujan. Secara fisik, pupuk memiliki tekstur cukup halus dan bau tidak menyengat, menandakan fermentasi berjalan baik.
Tim KKN-T juga melakukan uji optimalisasi pada tanaman cabai dengan membandingkan pertumbuhan tanaman yang menggunakan pupuk kompos dan tanpa pupuk. Tanaman yang diberi pupuk tumbuh dari 14,2 cm pada hari pertama menjadi 16,5 cm pada hari ketujuh, sedangkan tanaman tanpa pupuk hanya tumbuh dari 11,3 cm menjadi 12 cm. Hasil ini menunjukkan penggunaan pupuk kompos membantu pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Ketua kelompok tani Dusun Rowoganjar, Desa Rowoboni, Mbah Yasin, turut memberikan tanggapan terhadap program tersebut.
"Kotoran bebek yang dipakai ini sudah bagus karena sudah didiamkan hampir satu tahun, jadi proses fermentasinya lebih cepat dan hasilnya juga lebih matang," ujar Mbah Yasin.
Ia juga menjelaskan kondisi tanah di wilayah tersebut yang sedang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. "Sekarang tanah di sini lagi kurang bagus karena pH tanahnya rendah, jadi tanaman cabai agak susah tumbuh. Biasanya petani disarankan menanam sekitar bulan Maret supaya tanaman tidak lembek karena cuaca," jelasnya.
Meski demikian, beliau menilai hasil pupuk yang dibuat sudah baik. "Pupuk yang dibuat mahasiswa ini sudah bagus, apalagi fermentasinya cuma dua minggu sudah jadi," tambahnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T UNDIP berharap teknologi komposter berbasis IoT dapat membantu masyarakat memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk padat bernilai guna sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Rowoboni.
