Konten dari Pengguna

Tanggung Jawab yang Terhenti di Ruang Perawatan

Fatimatu Zahra

Fatimatu Zahra

Mahasiswa universitas pamulang, semester 2,suka membaca, gemar menulis, dan suka mengikuti berita. Aktif disosmed, jurusan akuntansi fakultas ekonomi dan bisnis.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatimatu Zahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Valentin Sarte dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/kota-jalan-lalu-lintas-kecelakaan-12002262/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Valentin Sarte dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/kota-jalan-lalu-lintas-kecelakaan-12002262/

Kecelakaan lalu lintas sering kali dianggap selesai ketika korban berhasil dibawa ke rumah sakit. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Menurut saya, tanggung jawab terhadap korban tidak berakhir hanya karena seseorang telah mengantar korban untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Belakangan, saya mengetahui sebuah kasus yang menggambarkan persoalan tersebut. Seorang korban kecelakaan mengalami luka yang cukup serius hingga memerlukan tindakan medis lanjutan. Pada awalnya, pihak yang terlibat dalam kecelakaan bersedia membawa korban ke fasilitas kesehatan dan membantu sebagian biaya pengobatan. Namun, ketika diketahui bahwa korban masih membutuhkan tindakan operasi untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih besar, bantuan tersebut tidak berlanjut.

Peristiwa seperti ini menunjukkan bahwa masih ada anggapan bahwa tanggung jawab dapat diselesaikan dengan bantuan sesaat. Padahal, biaya pemeriksaan awal atau tindakan darurat sering kali hanya menjadi tahap pertama dalam proses penyembuhan. Ketika dokter menyatakan bahwa pasien membutuhkan penanganan lanjutan, kebutuhan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius.

Menurut saya, persoalan utama bukan hanya soal uang. Yang lebih disayangkan adalah hilangnya rasa tanggung jawab terhadap kondisi korban setelah tindakan awal diberikan. Korban yang sedang menghadapi rasa sakit dan ketidakpastian tentu membutuhkan kepastian bahwa proses pengobatannya dapat berjalan dengan baik.

Kejadian seperti ini menjadi pengingat bahwa empati dan tanggung jawab sosial masih perlu diperkuat. Membantu korban sesaat memang baik, tetapi membantu hingga korban memperoleh penanganan yang dibutuhkan jauh lebih berarti. Jangan sampai seseorang yang menjadi korban kecelakaan harus menanggung beban pemulihan seorang diri karena pihak lain memilih untuk melepaskan tanggung jawab di tengah jalan.

Bagi saya, ukuran tanggung jawab bukan terletak pada seberapa cepat seseorang datang membantu, melainkan seberapa besar kesediaannya untuk tetap peduli hingga masalah yang ditimbulkan benar-benar terselesaikan.