Konten dari Pengguna

BUMDes dan Melon: Ketika Desa Mertani Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Buah

Fatimatuz Zahroh

Fatimatuz Zahroh

Mahasiswa Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fatimatuz Zahroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengunjung memetik melon langsung di Greenhouse BUMDes Sejahtera Mertani, Desa Mertani, Lamongan, Sabtu–Minggu (27–28 Juni 2026). Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memetik melon langsung di Greenhouse BUMDes Sejahtera Mertani, Desa Mertani, Lamongan, Sabtu–Minggu (27–28 Juni 2026). Foto: Dokumentasi Pribadi.

Des dan Melon: Ketika Desa Mertani Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Buah

Di tengah banyaknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang masih berjuang menemukan model bisnis yang tepat, Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan, menghadirkan langkah yang patut diapresiasi. Melalui program wisata petik melon di greenhouse, BUMDes Sejahtera Mertani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menjual pengalaman. Konsep ini terlihat sederhana. Pengunjung datang ke greenhouse, memilih sendiri melon yang diinginkan, memetik langsung dari pohonnya, kemudian membayar sesuai berat buah yang dibawa pulang. Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat nilai ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar. Selama ini, hasil pertanian sering kali hanya dipandang sebagai komoditas. Petani menanam, memanen, lalu menjual kepada tengkulak atau pasar dengan keuntungan yang terbatas. Melalui wisata petik melon, rantai tersebut dipersingkat. Nilai jual buah meningkat karena yang dibeli masyarakat bukan hanya melonnya, tetapi juga pengalaman memetik langsung dari kebun, berfoto, mengenal proses budidaya, hingga menikmati suasana greenhouse yang asri. Inilah bentuk nyata inovasi desa. Ketika sektor pertanian dipadukan dengan konsep wisata edukasi, maka lahirlah peluang ekonomi baru. Tidak hanya petani yang memperoleh manfaat, tetapi juga masyarakat sekitar. Kehadiran pengunjung berpotensi menghidupkan pelaku UMKM, pedagang makanan, penyedia parkir, hingga jasa dokumentasi. Efek bergandanya dapat dirasakan oleh banyak pihak. Lebih dari itu, wisata petik melon mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap pertanian. Selama ini, bertani sering dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menarik bagi generasi muda. Padahal, dengan pengelolaan yang kreatif, pertanian justru dapat menjadi sektor modern yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Greenhouse yang tertata rapi, buah berkualitas premium, serta pengalaman wisata yang menyenangkan menjadi bukti bahwa pertanian dapat tampil lebih inovatif. Langkah BUMDes Mertani juga menunjukkan pentingnya keberanian pemerintah desa untuk terus berinovasi. Dana desa tidak selalu harus diwujudkan dalam pembangunan fisik semata, tetapi juga dapat diarahkan pada pengembangan unit usaha yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan bagi desa. Jika dikelola secara profesional, wisata petik melon dapat menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Meski demikian, keberhasilan sebuah wisata tidak cukup hanya mengandalkan produk yang bagus. Promosi digital harus terus diperkuat melalui media sosial, kerja sama dengan sekolah sebagai wisata edukasi, komunitas, hingga agen perjalanan lokal. Pelayanan kepada pengunjung, kebersihan area, keamanan, dan kualitas buah juga harus dijaga agar kepercayaan masyarakat tetap tinggi. Bagi saya, BUMDes Sejahtera Mertani telah memberikan contoh bahwa desa memiliki potensi besar apabila berani keluar dari pola pikir lama. Melon yang tumbuh di greenhouse bukan hanya menghasilkan buah yang manis, tetapi juga melahirkan harapan baru bahwa pembangunan desa dapat dimulai dari kreativitas, kolaborasi, dan keberanian berinovasi. Jika semakin banyak desa yang mampu mengembangkan potensi lokal dengan cara seperti ini, maka desa tidak lagi hanya menjadi tempat produksi bahan mentah. Desa akan tumbuh sebagai pusat ekonomi, wisata, dan pembelajaran yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sendiri. Karena pada akhirnya, membangun desa bukan sekadar menghasilkan panen yang melimpah, melainkan menciptakan nilai tambah yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Pengunjung memetik melon langsung di Greenhouse BUMDes Sejahtera Mertani, Desa Mertani, Lamongan, Sabtu–Minggu (27–28 Juni 2026). Foto: Dokumentasi Pribadi.