Open Minded Seharusnya Menerima Semua Opini?

Mahasiswa Universitas Pamulang, jurusan Sastra Indonesia
Tulisan dari Fatiya nur Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti artinya dalam Bahasa Indonesia Open Minded berarti berpikiran terbuka, namun apakah menjadi seorang yang memiliki pemikiran terbuka berarti harus menerima semua opini yang ada?
Tentu saja TIDAK, di zaman sekarang banyak hal yang salah mencari pembenaran dengan kedok Open Minded, sebagai contoh pada isu pernikahan beda agama, dalam agama mana pun diperintahkan untuk menikah hanya dengan yang seiman.
“Pernikahan dalam agama Buddha, harus seagama, tidak bisa ditawar-tawar,” ujar Tokoh agama Buddha, Rahib Jimmu Gunabhadra. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menyatakan pernikahan beda agama tidak sah.
Dalam Hindu, sebuah pernikahan hanya dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Veda, yang mensyaratkan pasangan harus seagama.
Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 221 disebutkan “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.
Dalam perjanjian alam, kitab ulangan 7:3, umat Nasrani juga dilarang untuk menikah dengan yang berbeda agama.".
Bahkan dalam UU No 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 juga disebutkan bahwa: "Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."
Namun sayangnya masih banyak orang yang mendukung hal salah itu dengan dalih cinta adalah cinta.
Menjadi seseorang yang memiliki pemikiran terbuka seharusnya memiliki pemikiran luas dan kritis bukan membenarkan semua hal dan opini yang ada. Open minded adalah berpikiran terbuka. Keterbukaan pikiran adalah karakteristik yang melibatkan penerimaan terhadap beragam ide, argumen, dan informasi.
Berpikiran terbuka umumnya dianggap sebagai kualitas positif. Ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk berpikir kritis dan rasional. Menjadi seseorang yang memiliki pemikiran terbuka seharusnya memiliki pemikiran luas dan kritis.
Dalam isu sosial pun pembenaran atas nama Open Minded banyak terjadi, pergaulan bebas, narkoba, pesta minuman keras sudah seperti tren dikalangan masyarakat milenial, dimana seseorang yang tidak melakukan hal-hal tersebut dikatakan kuper (kurang pergaulan), tidak trendi dan masih banyak julukan negatif lainnya.
Semakin banyak melakukan hal-hal yang menurut mereka baru, akan semakin keren dan julukan Open Minded akan otomatis melekat pada mereka walaupun yang mereka lakukan salah dan tidak sesuai dengan norma.
Kebanyakan orang-orang yang melabeli diri mereka sendiri Open Minded cenderung menjustifikasi orang lain bodoh dan mencap seseorang tidak Open Minded karena masih berpegang teguh pada norma yang ada.
Fenomena ini akan terus menggerus budaya dan norma yang berlaku jika pola pikir kita tidak dirubah dari sekarang, Open Minded adalah pemikiran terbuka yang rasional dan filter yang menyaring apa yang benar dan tidak.
Open Minded yang berupa penyelewengan terhadap agama, norma maupun kultur dan budaya adalah suatu keegoisan individu semata. Open Minded tidak harus menerima semua opini yang ada, Open Minded adalah sebuah sifat dan bukan tren semata.
