Konten dari Pengguna

Dua Sarana yang Lahir dari Kebutuhan Desa Wotan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FATMA RAIHANAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dari Sampah hingga Jalan Gelap, Mahasiswa KKN IPB Hadirkan Solusi Sederhana untuk Desa Wotan.

Sebuah desa tidak selalu membutuhkan solusi yang besar untuk menghadirkan perubahan. Terkadang, perubahan justru dimulai dari persoalan-persoalan sederhana yang ditemui masyarakat setiap hari: sampah yang belum tertangani dengan baik dan jalan yang sulit terlihat ketika malam.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari keseharian masyarakat Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Di tengah aktivitas masyarakat dan kondisi wilayah perdesaan, pengelolaan sampah serta keamanan akses jalan menjadi dua hal yang membutuhkan perhatian.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University mencoba menghadirkan dua inovasi sederhana yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. INSFIRE (Insinerator Sederhana menuju Fasilitas Inklusif, Ramah Lingkungan, dan Efisien) hadir untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah, sementara PIJAR WOTAN (Program Inovasi Jalan Aman melalui Reflektor di Desa Wotan) ditujukan untuk membantu meningkatkan visibilitas pengguna jalan pada malam hari.

Dua program dengan persoalan yang berbeda, tetapi memiliki satu titik temu: mencoba menjadikan kebutuhan masyarakat sebagai awal dari sebuah solusi.

Ketika Sampah Tidak Sekadar Menjadi Sampah

SUmber: Dokumentasi Pribadi

Sampah merupakan persoalan yang hampir selalu hadir di tengah kehidupan masyarakat. Setelah dibuang, persoalan sebenarnya belum selesai. Sampah tetap membutuhkan pengelolaan agar tidak menumpuk, mencemari lingkungan, ataupun menimbulkan permasalahan baru.

Di Desa Wotan, keterbatasan fasilitas pengelolaan menjadi salah satu kondisi yang mendorong mahasiswa KKN untuk mencari alternatif yang dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik desa.

Melalui INSFIRE, mahasiswa menghadirkan insinerator sederhana sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah, khususnya untuk sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pemilahan dan pengolahan lainnya.

Namun, INSFIRE tidak berhenti pada pembangunan fasilitas.

Mahasiswa juga mengajak masyarakat memahami bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya. Sampah perlu dipilah dan dikenali terlebih dahulu sebelum menentukan bagaimana sampah tersebut akan dikelola.

Dalam praktiknya, masyarakat diperkenalkan dengan cara penggunaan fasilitas, termasuk memperhatikan jenis serta kondisi sampah yang akan dibakar. Sampah yang dibakar perlu berada dalam kondisi cukup kering agar proses pembakaran dapat berlangsung lebih efektif.

Pengujian kemudian dilakukan untuk melihat langsung bagaimana insinerator bekerja. Proses tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bersama bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebiasaan dan cara masyarakat memperlakukan sampah sejak awal.

Dengan pendekatan tersebut, INSFIRE diharapkan tidak sekadar menjadi sebuah fasilitas baru di Desa Wotan, tetapi menjadi bagian dari langkah menuju kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih terarah.

Saat Jalan Desa Menjadi Gelap

SUmber: Dokumentasi Pribadi

Jika INSFIRE berangkat dari persoalan lingkungan, PIJAR WOTAN lahir dari persoalan lain yang tidak kalah dekat dengan aktivitas masyarakat.

Malam hari tidak serta-merta menghentikan kehidupan di desa. Ada masyarakat yang masih harus bepergian, sementara aktivitas pertanian bahkan dapat dimulai sejak dini hari.

Namun, tidak semua akses jalan memiliki penerangan yang memadai. Mahasiswa KKN kemudian memanfaatkan reflektor sebagai solusi sederhana, di mana reflektor bekerja dengan cara memantulkan kembali cahaya lampu kendaraan. Ketika kendaraan melintas pada malam hari, cahaya yang mengenai reflektor akan menghasilkan penanda visual yang membantu pengendara mengenali keberadaan batas maupun arah jalan.

Sebelum pemasangan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan survei dan berkoordinasi dengan perangkat desa serta masyarakat. Lokasi dipilih berdasarkan kondisi jalan dan kebutuhan di lapangan. Setelah dipasang, reflektor kembali diuji pada malam hari. Pengujian dilakukan untuk memastikan penanda dapat terlihat dari arah datangnya kendaraan dan berada pada posisi yang tepat.

PIJAR WOTAN memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan penerangan jalan permanen. Namun, di tengah keterbatasan fasilitas, sebuah penanda sederhana dapat menjadi langkah awal untuk membantu menciptakan perjalanan yang lebih aman.

SUmber: Dokumentasi Pribadi

Inovasi Tidak Harus Rumit

INSFIRE dan PIJAR WOTAN memperlihatkan dua bentuk inovasi yang berbeda.

Bagi mahasiswa KKN, turun ke desa bukan sekadar membawa program yang telah disiapkan dari kampus. Ada proses untuk melihat kondisi lapangan, berdiskusi dengan masyarakat, berkoordinasi dengan perangkat desa, kemudian menyesuaikan gagasan dengan kebutuhan yang benar-benar ditemukan.

Dari proses tersebut, muncul kesadaran bahwa inovasi tidak selalu berarti teknologi canggih.

INSFIRE diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan dirawat sebagai salah satu bagian dari pengelolaan sampah di Desa Wotan. Pemanfaatannya tetap perlu berjalan bersama kebiasaan pemilahan dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Sementara itu, PIJAR WOTAN diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi perhatian yang lebih besar terhadap keselamatan jalan, termasuk pengembangan penerangan pada titik-titik yang memang membutuhkan.

Keberlanjutan tersebut tentu tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pihak perlu mengambil peran agar fasilitas yang telah hadir tidak berhenti sebagai hasil kegiatan KKN.