Aku Belajar dari Rasa Takut

Mahasiswa S1 pendidikan guru sekolah dasar universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fatma Wati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama menjalani perkuliahan, aku menyadari bahwa tidak semua pelajaran datang dari buku atau dosen. Ada pelajaran yang lahir dari pengalaman, tekanan, dan rasa takut yang terus menyertai. Cerita ini adalah refleksi dari perjalanan tersebut.
Aku tidak pernah benar-benar siap untuk menjadi kuat. Semua terasa berjalan begitu saja, seolah aku hanya mengikuti arus yang kadang membuatku kewalahan. Hari pertama masuk perkuliahan, aku melihat banyak orang tampak percaya diri—mereka berbicara dengan lancar, tertawa tanpa beban, dan terlihat tahu apa yang mereka lakukan. Sementara aku hanya duduk diam, mencoba terlihat tenang, padahal di dalam hati ada rasa takut yang terus berbisik, mempertanyakan kemampuanku sendiri.
Rasa takut itu tidak pernah benar-benar pergi. Justru, seiring waktu, ia tumbuh semakin besar. Ketika aku ditunjuk menjadi ketua kelas, bukan rasa bangga yang muncul, melainkan kepanikan. Tanggung jawab itu terasa terlalu berat. Aku mulai meragukan diriku sendiri—takut tidak mampu memimpin, takut membuat kesalahan, dan takut tidak bisa memenuhi harapan orang lain. Namun, di tengah semua keraguan itu, aku tetap melangkah, bukan karena aku berani, tetapi karena aku tahu aku tidak bisa terus menghindar.
Hari-hari perkuliahan kemudian menjadi semakin menantang. Tugas datang silih berganti, tanggung jawab semakin bertambah, dan teman-teman mulai bergantung padaku. Ada saat-saat di mana aku merasa sangat lelah, bahkan ingin menyerah. Pernah ada malam di mana aku hanya menatap layar laptop tanpa tahu harus mulai dari mana. Pikiran terasa penuh, tetapi di saat yang sama kosong. Dalam kelelahan itu, aku sempat bertanya pada diri sendiri, apakah aku benar-benar mampu melewati semua ini.
Namun, perlahan aku mulai memahami sesuatu. Rasa takut yang selama ini aku hindari ternyata bukanlah musuh. Ia justru menjadi tanda bahwa aku sedang berkembang. Setiap kali aku merasa takut, itu berarti aku sedang berada di situasi baru yang menantangku untuk menjadi lebih kuat. Tanpa aku sadari, aku mulai berubah. Aku yang dulu ragu untuk berbicara, kini mulai berani menyampaikan pendapat. Aku yang dulu takut salah, kini mulai berani mencoba. Dan aku yang dulu mudah menyerah, kini belajar untuk bertahan.
Kini aku mengerti bahwa hidup bukan tentang menghilangkan rasa takut, melainkan tentang bagaimana kita tetap melangkah meskipun rasa itu masih ada. Rasa takut tidak pernah benar-benar pergi, tetapi ia tidak lagi mengendalikan langkahku. Justru, ia menjadi bagian dari proses yang membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam diam, ketahuilah bahwa merasa takut adalah hal yang wajar. Merasa lelah juga bukan sebuah kelemahan. Yang terpenting adalah tetap melangkah, sekecil apa pun langkah itu. Karena pada akhirnya, keberanian bukanlah tentang tidak merasa takut, melainkan tentang tetap berjalan meskipun rasa takut itu masih ada.
