Eileen (2023): Ketika Budaya Represi Mengubah Sunyi Menjadi Jeritan dalam Diri

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fatma Nuri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa film tidak berteriak—tetapi berbisik dengan dingin hingga menusuk. Eileen (2023) adalah salah satunya. Alih-alih mengandalkan plot yang bising atau twist yang memaksa, film ini menyingkap sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan: bagaimana budaya represi membentuk cara seseorang merasa, diam, dan bertahan hidup.
Berlatar Amerika 1960-an—era yang tampak rapi di permukaan namun penuh tekanan moral di bawahnya—kisah Eileen Dunlop bergerak perlahan, seperti seseorang yang menelan gejolak batinnya demi bertahan hidup sehari lagi. Ayahnya yang alkoholik dan penuh amarah bukan hanya karakter; ia adalah cerminan budaya
maskulinitas toksik yang dilegitimasi oleh zamannya. Rumah Eileen bukan sekadar tempat tinggal, melainkan arena di mana dominasi, rasa takut, dan keheningan menjadi bahasa sehari-hari.
Lalu muncullah Rebecca, sosok yang bagi Eileen tampak seperti udara baru—hangat, bebas, dan penuh kemungkinan. Hubungan mereka bukan sekadar relasi antar dua perempuan, tetapi benturan antara dua dunia: dunia kepatuhan yang telah menjerat Eileen sejak kecil, dan dunia kebebasan yang selama ini hanya berani ia bayangkan. Rebecca membuat Eileen melihat dirinya sendiri, bukan seperti apa yang diharapkan masyarakat, tetapi seperti apa yang bisa ia pilih untuk menjadi—sebuah pilihan yang terasa baru sekaligus menakutkan.
Di titik inilah film tersebut menemukan denyut emosinya. Represi, dalam Eileen, bukan hanya soal larangan moral atau norma sosial; itu adalah proses psikologis yang pelan-pelan memahat identitas. Seperti yang ditulis Ottessa Moshfegh dalam novelnya, represi memunculkan fantasi, dan fantasi—ketika bertemu kesempatan—dapat berubah menjadi tindakan yang tak pernah kita bayangkan.
Visual film yang dingin, warna-warna yang muram, serta dialog yang minim justru memperkuat atmosfer sosial yang menuntut diam, sopan, patuh. Setiap langkah Eileen adalah negosiasi antara dirinya dan budaya yang ingin membungkamnya. Dalam kesunyian itulah, kita melihat bagaimana seseorang bisa terperangkap begitu lama hingga, ketika retakan pertama muncul, seluruh bangunan kepribadiannya ikut runtuh.
Mengapa Eileen relevan hari ini? Karena budaya represi tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berganti bentuk. Ia hidup dalam keluarga yang meminta kesempurnaan, dalam masyarakat yang masih menilai perempuan dari kepatuhannya, dalam dunia yang menganggap kemarahan perempuan sebagai ancaman. Eileen adalah gambaran dari mereka yang memilih diam terlalu lama hingga diam itu berubah menjadi jurang.
Akhirnya, Eileen (2023) bukan hanya thriller psikologis. Ia adalah cermin gelap yang memaksa kita bertanya: berapa banyak dari diri kita yang merupakan hasil tekanan budaya, bukan pilihan personal? Dan berapa lama seseorang dapat menahan beban itu sebelum akhirnya pecah?
