Hujan yang Tidak Pernah Benar Benar Pergi

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fatma Nuri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kenangan yang tidak hilang hanya karena waktu terus berjalan. Kadang, ia bersembunyi di balik benda sederhana dan muncul kembali ketika kita tidak siap.
Dalam The Red Umbrella, Elena adalah seorang mahasiswi yang selalu membawa payung merah milik ibunya. Bagi orang lain, payung itu mungkin hanya benda biasa. Namun bagi Elena, payung tersebut menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Payung itu mengingatkannya pada masa ketika ia dan ibunya melarikan diri dari rumah di tengah hujan deras. Sejak saat itu, Elena hidup dengan rasa takut yang sulit dijelaskan. Ia mudah terkejut ketika mendengar suara keras, selalu waspada, dan seperti tidak pernah benar benar merasa aman.
Yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana sebuah benda sederhana dapat menyimpan begitu banyak kenangan. Payung merah bukan hanya pelindung dari hujan, tetapi juga menjadi pengingat tentang sesuatu yang ingin Elena tinggalkan.
Menurut Cathy Caruth, trauma tidak selalu berakhir ketika sebuah peristiwa telah selesai. Pengalaman tersebut dapat kembali melalui rasa takut, ingatan, atau sesuatu yang mengingatkan seseorang pada masa lalu. Hal ini terlihat dalam diri Elena. Masa lalu mungkin sudah berlalu, tetapi perasaannya masih tinggal.
Mungkin kita juga pernah memiliki sesuatu yang terlihat biasa, tetapi memiliki cerita yang hanya kita sendiri yang tahu. Sebuah lagu, tempat, aroma, atau benda kecil bisa membawa kita kembali pada masa yang ingin kita lupakan.
The Red Umbrella mengingatkan kita bahwa tidak semua luka terlihat. Ada luka yang berjalan bersama kita dalam diam, bahkan ketika dunia mengira semuanya sudah baik baik saja.
Dan mungkin, seperti hujan, beberapa kenangan memang tidak datang untuk menetap. Mereka hanya datang untuk mengingatkan bahwa pernah ada sesuatu yang begitu berarti.
