Yang Lebih Kuat, yang Diam atau yang Bicara?

Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fatma Nuri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya seseorang berbicara bukan karena ingin bercerita, tetapi karena takut dengan apa yang mungkin dikatakan oleh kesunyian.
Hal itu terasa dalam cerpen The Stronger karya August Strindberg. Cerita ini mempertemukan dua perempuan, Mrs. X dan Miss Y, di sebuah kafe. Mereka memiliki hubungan dengan laki laki yang sama. Mrs. X berbicara panjang, sementara Miss Y hampir tidak mengatakan apa apa.
Awalnya, diam Miss Y mungkin terlihat seperti kelemahan. Namun, semakin lama Mrs. X berbicara, semakin banyak hal yang ia ungkapkan. Ia bercerita tentang hubungannya, perasaannya, dan kehidupan yang ia jalani. Tanpa banyak bertanya, Miss Y justru membuat Mrs. X terus membuka dirinya sendiri.
Di sinilah cerita menjadi menarik. Siapa yang sebenarnya lebih kuat?
Mrs. X terlihat menguasai percakapan, tetapi kata kata yang terus keluar darinya perlahan menunjukkan rasa cemburu dan ketidakamanan. Sementara itu, Miss Y tetap diam. Kita tidak pernah benar benar tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Diamnya menjadi ruang kosong yang membuat pembaca ikut bertanya tanya.
Strindberg seperti ingin menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu memiliki suara. Kadang, seseorang tidak perlu membalas untuk membuat dirinya terasa kuat. Diam pun dapat menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kata kata.
Dalam kehidupan sehari hari, kita sering menganggap orang yang paling banyak bicara sebagai orang yang paling percaya diri. Padahal, di balik suara yang keras bisa saja terdapat rasa takut untuk kehilangan, tidak diterima, atau tidak dianggap cukup.
The Stronger mengingatkan kita bahwa dalam sebuah hubungan, yang terlihat kuat belum tentu benar benar kuat. Terkadang, justru dalam diam, seseorang menyimpan kekuatan yang tidak perlu dijelaskan.
