Di Balik Kenaikan Pertamax : Kecemasan Kolektif yang Tak Tertangkap Statistik

Farah Faudhilah Arzaq adalah mahasiswa jurusan Akuntansi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Farah Faudhilah Arzaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PT Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Angka ini bukan sekadar penyesuaian harga teknis, melainkan sinyal tekanan multi-sektor yang langsung berdampak pada logistik, inflasi, fiskal, dan daya beli masyarakat. Kenaikan sebesar Rp3.950 atau 32% dalam sebulan—dipicu perang global dan rupiah lemah—menjadi pemicu kecemasan kolektif yang tidak sepenuhnya tergambar dalam statistik formal.
Dampak Psikologis dan Kecemasan Kolektif
Kenaikan harga BBM, khususnya jenis Pertamax yang digunakan oleh sektor logistik dan transportasi menengah, memiliki dampak psikologis yang signifikan terhadap masyarakat. Pada kasus kenaikan sebelumnya di Agustus 2022, antrean Panjang di berbagai SPBU terjadi karena masyarakat mengantisipasi kenaikan harga. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecemasan kolektif terhadap kenaikan BBM tidak hanya berbasis pada data ekonomi, tetapi juga pada persepsi ketidakpastian.
Kecemasan kolektif ini muncul karena masyarakat memahami bahwa kenaikan harga BBM akan merembet ke penyesuaian harga kebutuhan pokok. Meskipun Kemenkeu memprediksi dampak terhadap inflasi relatif terbatas, persepsi masyarakat bahwa kenaikan BBM akan memicu inflasi lebih tinggi tetap kuat.
Gap antara Statistik dan Realitas Psikologis
Statistik inflasi resmi sering kali gagal menangkap kecemasan kolektif yang sebenarnya. Kemenkeu memprediksi dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi cukup rendah, dengan Febrio Kacaribu menyatakan "Dampaknya terhadap inflasi itu relatif akan cukup terbatas". Namun, realitas psikologis masyarakat berbeda—mereka khawatir kenaikan BBM akan mendorong harga kebutuhan pokok naik.
Kenaikan 32% dalam sebulan ini merupakan lonjakan yang jauh lebih tajam dibandingkan kenaikan sebelumnya. Harga minyak mentah dan gas alam telah mencapai level tertinggi secara historis karena invasi Rusia ke Ukraina dan pasokan terbatas. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian pasokan yang mendorong harga energi ke level yang belum pernah terjadi, sehingga kecemasan masyarakat lebih besar daripada yang ditampilkan dalam statistik.
Implikasi Ekonomi dan Sosial
Kenaikan Pertamax ke Rp16.250 per liter langsung berdampak pada biaya transportasi dan distribusi, yang selanjutnya akan memengaruhi harga komoditas. Biaya logistik meningkat, yang kemudian akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga lebih tinggi. Sektor yang paling terpukul adalah masyarakat menengah yang bergantung pada kendaraan pribadi dan transportasi umum.
Dari sisi fiskal, kenaikan harga BBM non-subsidi ini juga mengurangi beban subsidi yang sebelumnya membebani APBN. Namun, dampak sosialnya lebih besar—daya beli masyarakat menurun dan tekanan inflasi riil di tingkat mikro meningkat. Masyarakat memahami bahwa kenaikan harga energi akan berdampak pada seluruh sektor ekonomi, sehingga kecemasan kolektif muncul meskipun statistik inflasi formal masih rendah.
Statistik Tidak Cukup Menjelaskan Kecemasan
Kenaikan Pertamax 32% ke Rp16.250 per liter bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang persepsi ketidakpastian. Statistik inflasi resmi yang menunjukkan dampak rendah tidak menangkap kecemasan kolektif yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Masyarakat lebih khawatir tentang dampak riil kenaikan BBM pada harga kebutuhan pokok dan daya beli mereka.
Kecemasan kolektif ini adalah sinyal bahwa tekanan multi-sektor memerlukan respons cepat dari pelaku bisnis dan pemerintah. Tanpa kebijakan yang jelas untuk melindungi daya beli masyarakat, kecemasan ini dapat menjadi pemicu ketidakstabilan ekonomi yang lebih besar. Oleh karena itu, pemerintah perlu memahami bahwa statistik tidak cukup menjelaskan realitas psikologis masyarakat dan harus mengambil langkah proaktif untuk mengurangi kecemasan kolektif.
