Konten dari Pengguna

Tiktokization Of War: Saat FYP Menjadi Medan Perang Informasi

Fauzahra Afrila

Fauzahra Afrila

Mahasiswi Hubungan Internasional UIN Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauzahra Afrila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika FYP menjadi medan perang narasi di era digital
zoom-in-whitePerbesar
Ketika FYP menjadi medan perang narasi di era digital

Layar Kaca dan Medan Perang Informasi di Era Digital

Di era serba digital hari ini, layar smartphone kita telah menjelma sebagai medan perang informasi baru, fenomena yang marilah kita sebut sebagai Tiktokization Of War, di mana algoritma media sosial dan video pendek di For You Page (FYP) dijadikan alat propaganda geopolitik telah mengubah tatanan keamanan internasional secara mendasar. Ketika konflik pecah di berbagai belahan dunia, jutaan orang tidak lagi menunggu berita di televisi, melainkan menyaksikan dinamika perang secara langsung dari genggaman tangan, lewat TikTok, utas X, atau cuplikan video singkat Instagram ataupun berbagai media sosial lainnya.

Bisa saya katakan bahwasannya Information Warfare melalui media sosial kini menjadi instrumen utama dalam strategi keamanan negara. Oleh karena itu, penguatan kedaulatan digital dan literasi geopolitik publik menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas tatanan internasional di era berbasis algoritma.

Jika ditilik dari perspektif Keamanan Internasional, fenomena ini erat kaitannya dengan konsep Hybrid Warfare (Perang Hibrida) dan Information Warfare. Perang hari ini tidak lagi bersifat simetris antar-militer di garis depan, melainkan menggabungkan aksi militer konvensional dengan peretasan siber, manipulasi psikologis (psy-war), dan kampanye disinformasi terstruktur. Melalui algoritma media sosial, negara maupun aktor non-negara dapat menyebarkan narasi politik tanpa melalui filter redaksi media mainstream. Informasi yang dipoles sedemikian rupa dapat membentuk persepsi publik internasional dengan sangat cepat, menciptakan simpati global, atau sebaliknya, mendemoralisasi pihak lawan sebelum pertempuran darat dimulai.

Konflik di berbagai belahan dunia belakangan ini membuktikan betapa efektifnya konten video pendek dalam membentuk opini dunia. Namun, ketergantungan masyarakat pada informasi kilat melahirkan risiko fatal. Algoritma media sosial dirancang untuk memprioritaskan konten yang memicu respons emosional tinggi, seperti kemarahan, ketakutan, atau kepanikan.

Akibatnya, materi berbasis Deepfake, video rekayasa teknologi AI, hingga rekaman video game yang dipotong sedemikian rupa kerap mengecoh masyarakat luas dan dianggap sebagai kejadian nyata. Ketika emosi publik global dikendalikan oleh manipulasi visual yang viral, keputusan politik luar negeri dan diplomasi internasional rentan terdesak oleh tekanan opini publik yang terbangun di atas data palsu.

Dampak paling mengkhawatirkan dari "TikTokization of War" adalah hilangnya batasan antara kebenaran dan propaganda di ruang publik. Jika perang narasi digital ini dibiarkan tanpa pengawasan dan etika, polarisasi masyarakat global akan semakin parah dan eskalasi konflik akan semakin sulit diredam melalui jalur diplomasi formal. Oleh karena itu, masyarakat internasional dan pemerintah tidak boleh menganggap remeh perang narasi digital ini. Pertama, negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) harus memiliki strategi pertahanan siber yang tidak hanya fokus pada perlindungan infrastruktur fisik, tetapi juga pada ketahanan narasi nasional (narrative resilience).

Kedua, publik tidak boleh menjadi konsumen informasi pasif. Literasi digital dan sikap kritis terhadap apa yang melintas di layar FYP adalah bentuk partisipasi nyata warga negara dalam menjaga ketahanan siber dan pertahanan nasional dari infiltrasi propaganda asing. Pada akhirnya, perang di era digital tidak hanya dimenangkan oleh siapa yang memiliki senjata paling canggih, tetapi oleh siapa yang berhasil menguasai narasi di layar smartphone dunia. Di tengah gempuran algoritma, akal sehat dan literasi kritis tetap menjadi senjata utama kita untuk menjaga perdamaian global.