Pornografi Bikin Candu, Otak Bisa Rusak?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari FAUZAN EZA FIRMANSYACH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebelum kita membahas kecanduan pornografi. Kalian pernah berpikir tidak kalau kita juga memiliki kecanduan pada suatu hal? Tanpa disadari kita sebenarnya juga terikat pada hal-hal yang kita suka. Kalau penulis biasanya sangat susah lepas dari gawai, 24/7 kalau sekarang biasa disebutnya. Kalau kalian tidak bisa lepas dari hal apa?
Nah, sama untuk pecandu pornografi, pecandu ini susah banget untuk tidak menonton hal porno, alasannya kurang lebih sama seperti kita ketagihan main gawai. Tetapi, tahu tidak kalian, kalau kecanduan porno itu memiliki banyak efek negatif. Untuk tahu lebih dalam, simak penjelasannya!
Tahukah kamu bahwa kecanduan pornografi memberikan banyak efek buruk pada tubuh kita? Namun sebelum itu, kalian tahu tidak apa yang disebut pornografi?
Kata pornografi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu prone = prostitusi, pelacuran dan graphein = menulis atau menggambar. Jadi pornografi ini mengarah pada tulisan atau gambar tentang pelacuran. Kalau menurut H.B Jassin (cendekiawan muslim), pornografi adalah segala tulisan atau gambar yang sengaja digambar atau ditulis dengan maksud merangsang seksual.
Setelah tahu apa itu pornografi. Bagaimana tahapan seseorang dapat kecanduan pornografi? Simak tahapan berikut!
Tahapan seseorang menjadi kecanduan pornografi :
1. Melihat,
Tahapan pertama ialah melihat, seseorang pertama kali melihat dari hal-hal yang sedikit terbuka, iklan-iklan yang menunjukkan tubuh, misalnya iklan sabun, iklan handuk dsb. Awal inilah yang memunculkan reaksi di otak, sehingga rangsangan pornografi selanjutnya akan lebih mudah diterima.
2. Penasaran dan kecanduan,
Biasanya pada saat awal menerima rangsangan pornografi seperti tadi, seseorang akan merasa kaget dan jijik. Namun, seiringan dengan hal itu, otak kita juga memproduksi dopamin. Dopamin ini merikan perasaan senang sehingga ingin terus melihat pornografi. Rasa kaget dan jijik diawal tadi akan makin menghilang dan berubah menjadi kecanduan.
3. Berkurangnya kepekaan dan peningkatan level porno,
Begitu terjerumus pada pornografi, maka akan masuk kedalam proses yang terus berulang. Setiap menonton pornografi akan berkurang kepekaannya dan mengalami peningkatan level porno. Yang awalnya hanya cukup melihat sebgian tubuh terbuka, akan encari yang lebih terbuka lagi.
4. Meniru apa yang dilihat,
Setelah kecanduan pornografi pada level yang parah, pecandu akan merasa tidak cukup hanya dengan menonton pornografi. Dia akan terdorong untuk mempraktekkan apa yang dilihatnya.
Lalu, apa saja yang mungkin terjadi kepada pecandu pornografi?
Pornografi memberikan dorongan pecandunya untuk membentuk sikap dan perilaku negatif, menjadi pribadi yang tertutup, minder, tidak percaya diri, hingga melakukan tindak menyimpang kepada orang lain. Selain efek yang dapat dilihat secara langsung, adapun efek negatif yang tidak terlihat dengan mata telanjang yakni pada aspek biologis (dalam tubuh).
Efek kecanduan pornografi ini juga memberikan efek negatif dari sisi biologis. Saat menonton pornografi, otak akan menghasilkan hormon dopamin, yang memberikan rasa senang dan puas sekaligus penasaran. Efek ini sama seperti saat seseorang mengkonsumsi NAPZA. Otak kita secara tidak langsung akan mengingat apa yang membuat kita senang dan bagaimana cara memperolehnya. Hal inilah yang mendorong pecandu untuk terus menonton pornografi.
Kerusakan Otak Akibat Pornografi
Otak manusia tersusun dari berbagai bagian, salah satunya adalah Pre Frontal Cortex. Di mana letak PFC ini? PFC ini terletak di bagian depan otak manusia atau dari luar yaitu pada daerah kening atas. PFC bertanggung jawab untuk merencanakan rangkaian perilaku, ekspresi memori dan emosional, menyimpan memori jangka pendek, penimbang saat menghadapi dua situasi atau lebih pada saat yang bersamaan.
Bagaimana PFC dapat rusak?
Dua hal yang dapat merusak PFC yaitu benturan keras di kepala bagian depan dan zat kimiawi. Pada kasus kecanduan, zat kimia perusak PFC bisa didapat dari NAPZA dan pornografi. Caranya, dopamin yang diproduksi sistem limbik dialirkan ke PFC, namun secara berlebihan. Sistem limbik akan bertambah besar karena terus menerus memproduksi dopamin. Menyebabkan PFC terendam dopamin, sehingga PFC ini tidak aktif. Makin sering PFC tidak aktif, maka PFC akan mengecil dan fungsinya akan terganggu. Fungsi PFC sebagai perencana perilaku, menimbang benar salah, mengambil keputusan akan bekerja tidak maksimal. Karena efek itulah, mendorong seorang pecandu untuk memunculkan tindakan-tindakan negatif.
Opini Penulis
Kecanduan pornografi sebenarnya bukan sebuah masalah besar, selama kita tidak merugikan orang lain. Tetapi, apa kita tidak sayang terhadap tubuh kita sendiri dan potensi akan melakukan hal negatif karena kemampuan kita menimbang benar-salah terganggu. Untuk kamu yang masih suka melihat pornografi, sebaiknya segera berhenti ya sebelum nantinya makin parah. Ketika terlanjur terjerumus pada pornografi, apa saja usaha yang dapat dilakukan untuk berhenti menonton pornografi? Beberapa hal yang bisa kalian lakukan untuk mengurangi menurut penulis :
1. Menegaskan niat untuk berhenti
Kita perlu menanamkan pada pikiran kita bahwa kita memang ingin stop pornografi. Ingat selalu niat tersebut, karena niat merupakan hal terpenting untuk melakukan suatu hal.
2. Blokade seluruh akses
Blokade seluruh akses yang biasa digunakan melihat pornografi. Mulai dari film yang dimiliki, akses internet, bisa menggunakan porn blocker baik pada gawai maupun laptop.
3. Isi waktu luang dengan hal yang produktif
Jangan terlalu sering melamun atau hanya main gawai terus. Hal tersebut dapat memicu kembali rasa ingin melihat konten pornografi. Sebaiknya selalu isi waktu luang dengan hal yang bermanfaat.
4. Lakukan hal yang bervariatif
Ketika dengan cara yang satu gagal, maka ubahlah cara sebelumnya. Jangan gunakan cara yang sama, sehingga otak kita juga tidak jenuh.
Referensi
Imawati, D., & Trifina, M. (2018). Studi kasus kecanduan pornografi pada remaja. MOTIVA : JURNAL PSIKOLOGI, 1(2), 56-62. https://doi.org/10.31293/mv.v1i2.3688
Haidar, G., & Apsari, N. C. (2020). Pornografi pada kalangan remaja. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 7(1), 136-143. https://doi.org/10.24198/jppm.v7i1.27452
Daulay, N. -. (2017). Struktur Otak Dan Keberfungsiannya pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autis: Kajian Neuropsikologi. Buletin Psikologi, 25(1), 11-25. https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.25163
SEMAI ORG. (2015, July 31). Bahaya Pornografi : Merusak Otak [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=O9rMmjVa5QI
