Galon Bekas Jadi Wisata, Pemanfaatan Galon Bekas Menjadi Vertical Garden

Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fauzan Raihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 20 Juli 2025, Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi lokasi pelaksanaan program kerja berjudul “Pengenalan Agrowisata Bunga Marigold dan Vertical Garden dari Galon Bekas”. Program ini digagas oleh Fauzan Raihan Tsani, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya bersama kelompok 32 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) dan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapang (DPL), Yuniar Ponco Prananto, S.Si., M.Sc., Ph.D. Kegiatan ini bertempat di kawasan wisata Tirta Sumber Umbulan, dengan tujuan utama mengoptimalkan limbah galon bekas sebagai media tanam vertikal yang estetik dan ramah lingkungan.
Program yang mengusung dukungan terhadap pencapaian SDGs 11: Sustainable Cities and Communities (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) ini berupaya memperkuat potensi desa melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat lokal. Dengan memanfaatkan galon bekas yang selama ini kurang dimaksimalkan, inisiatif ini tidak hanya mereduksi volume sampah plastik, tetapi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pariwisata dan pertanian di Ngadireso.
Pelatihan pelaksanaan dimulai pada 20 Juli 2025. Para warga desa, terutama anggota PKK dan pemuda setempat menerima materi praktik budidaya bunga marigold, teknik pembuatan vertical garden sederhana, serta pemupukan dan perawatan tanaman. Sebanyak 6 unit vertical garden dari galon bekas juga dibuat sebagai contoh langsung dan diserahkan beserta modul panduan lengkap pada 31 Juli 2025 di Balai Desa Ngadireso kepada pengurus desa untuk di distribusikan ke setiap RT. Modul ini memuat langkah demi langkah pembuatan vertical garden dari galon bekas, pemilihan bibit, penyemaian, perawatan, hingga pemupukan yang tepat untuk bunga marigold.
Menurut Bu Nurwanah, perwakilan ibu-ibu PKK setempat, “Pelatihan ini sangat bagus sekali, terutama supaya wisata Tirta Sumber Umbulan bisa dikenal banyak orang dan menjadi objek wisata baru di Ngadireso.” Ucapan ini menegaskan harapan masyarakat agar inovasi vertical garden tidak sekadar estetika, tetapi juga menjadi daya tarik baru yang mendukung kunjungan wisatawan.
Tak kalah antusias, Yusril Akbar, pemuda desa yang aktif di Karang Taruna bidang pariwisata, mengungkapkan “Program pelatihan budidaya marigold dan sosialisasi vertical garden merupakan langkah positif dalam meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam berkebun dan pemanfaatan ruang, dengan adanya pelatihan ini diharapkan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan serta keterampilan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan dan keindahan lingkungan sekitar.”
Sebagai inisiator program, Fauzan menyampaikan “Kami menyusun program ini bertujuan untuk mengenalkan wisata desa Sumber Umbulan kepada berbagai wisatawan dan membuka peluang wisata berbasis pertanian dari bunga marigold, melalui vertical garden kami ingin menampilkan sisi kreatif pengelolaan limbah galon sekaligus mendukung ekonomi lokal.”
Implementasi vertical garden dari galon bekas tak hanya menyediakan media tanam hemat ruang, namun juga mendukung keberlanjutan lingkungan desa. Bunga marigold, dengan keindahan warna oranye dan kuningnya, diharapkan mampu memikat pengunjung untuk berfoto dan belajar bercocok tanam. Modul panduan yang disusun memuat langkah demi langkah mulai dari pemilihan galon, pembuatan lubang tanam, pengisian media tanam, hingga teknik budidaya tanaman yang terstruktur.
Dengan pembuatan vertical garden yang estetik dan mudah dipraktikkan, diharapkan Sumber Umbulan semakin menarik minat keluarga, pelajar, dan komunitas pecinta alam. Selain untuk spot berswafoto, vertical garden juga berfungsi sebagai pengetahuan praktis yang bisa diadopsi rumah tangga, sekolah, atau usaha kecil di sekitar desa.
Galon Bekas Jadi Wisata bukan sekadar proyek sekali jalan, melainkan simbol kolaborasi akademisi dan warga untuk mewujudkan desa yang mandiri, berkelanjutan, dan inovatif. Semoga langkah sederhana ini menumbuhkan semangat gotong-royong, menjadikan Desa Ngadireso contoh teladan agrowisata berbasis eco-friendly, serta menginspirasi inisiatif serupa di daerah lain.
