Konten dari Pengguna

Ki Mutiran: Penjaga Nyawa Karawitan di Ujung Desa Pekuncen

FAUZAN ZAKY RAMADHAN

FAUZAN ZAKY RAMADHAN

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari FAUZAN ZAKY RAMADHAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana di Sanggar Karawitan. Dok 2025
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Sanggar Karawitan. Dok 2025

Di balik dinding sanggar sederhana yang bertuliskan "Sanggar Seni Budaya" di Desa Pekuncen, Kroya, alunan gamelan mengalun lembut setiap sore. Di tengah lingkaran murid-muridnya, duduk bersila seorang pria berkaos hijau "Atlantis" dengan senyum ramah dialah Ki Mutiran, guru seni sekaligus dalang yang telah mengabdikan hidupnya untuk karawitan.​

Sanggar Karawitan Nyampleng Laras, begitu nama sanggar yang ia dirikan, bukan sekadar tempat latihan musik tradisional. Bagi Ki Mutiran, sanggar ini adalah benteng terakhir pelestarian budaya Jawa di tengah gempuran modernisasi. Tangannya yang terampil memukul kendhang dan kini sibuk membimbing anak-anak muda, mengajarkan setiap nada dan irama dengan penuh kesabaran.​

Foto bersama para pemain alat musik karawitan. Dok 2025

"Saya ingin minimal ada satu dari anak-anak saya yang mau meneruskan ini," ujar Ki Mutiran suatu sore, sambil membenarkan posisi bonang di hadapan muridnya. Baginya, karawitan bukan hanya warisan budaya, tetapi juga tanggung jawab keluarga untuk menjaga identitas leluhur.​

Setiap hari, sanggar yang beratap kayu sederhana itu ramai oleh puluhan murid dari berbagai usia. Mereka duduk melingkar di atas tikar, dikelilingi seperangkat gamelan lengkap dari kendhang, saron, bonang, hingga gong besar yang menggantung megah. Ki Mutiran berkeliling, menyentuh setiap instrumen sambil mengoreksi teknik, sesekali tertawa bersama murid-muridnya yang masih kikuk memukul bilah perunggu.​

Sebagai dalang, Ki Mutiran paham betul bahwa seni karawitan adalah jiwa dari setiap pertunjukan wayang. Pengalamannya puluhan tahun mendalang membuatnya mampu merasakan setiap getaran gamelan sebagai bahasa yang hidup. Kini, di usianya yang tidak lagi muda, ia memilih untuk lebih banyak mengajar, membagi ilmu kepada generasi penerus di sanggarnya yang telah menjadi rumah kedua bagi para pecinta karawitan di Pekuncen.