Konten dari Pengguna

MBG: Program Mulia yang Membutuhkan Pertolongan

Fauzan Rachman Azis

Fauzan Rachman Azis

Ekonom Senior Bank Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauzan Rachman Azis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi paket makanan MBG. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paket makanan MBG. Foto: Shutterstock

Pekan lalu, media internasional Financial Times menulis berita dengan judul yang cukup mengejutkan: krisis melanda salah satu program makan gratis terbesar di dunia. Pejabat senior Badan Gizi Nasional (BGN) di Indonesia ditetapkan sebagai tersangka korupsi, anggaran tertekan, dan kasus keracunan makanan terus bertambah.

Artikel itu langsung viral dan investor membacanya sebagai konfirmasi atas keraguan yang selama ini sudah banyak beredar. Tapi ada yang luput dari laporan itu: mereka tidak tahu bahwa MBG sebenarnya lahir dari ambisi yang mulia dan dirancang dengan mencontoh salah satu program makan siang sekolah terbaik di dunia, yaitu China.

Program Peningkatan Gizi China tercatat sebagai program makan gratis terbesar ketiga di dunia menurut data Bank Dunia, dan Direktur Program Makan Sekolah WFP sendiri menyebutnya “inspiratif dan layak ditiru negara lain.”

Belajar lah hingga ke Negeri China

Indonesia memilih China sebagai model, tetapi pelaksanaannya tidak mengikuti modelnya dengan konsisten.

Presiden Prabowo sendiri mengunjungi Beijing No.2 Middle School pada April 2024 untuk mempelajari program makan siang sekolah China secara langsung. Saya kebetulan pernah bertugas di Beijing dan mengamati program itu dari dekat.

Yang Prabowo saksikan di sana bukanlah program universal. Program Peningkatan Gizi China yang diluncurkan pada 2011 dimulai hanya di kabupaten-kabupaten termiskin, mencakup 699 kabupaten di 22 provinsi, dan distribusinya melalui kantin sekolah, bukan dapur terpusat.

China menekan biaya dengan mewajibkan sekolah membeli langsung dari petani lokal, memotong perantara sepenuhnya.

Transparansi dijaga melalui pemantauan digital: sekolah diwajibkan mengunggah data pengadaan harian ke platform pemerintah, dengan menu dan harga bahan makanan dipublikasikan agar orang tua bisa memantau. Sekolah juga rutin mengadakan survei kepuasan siswa, dan menu yang dinilai buruk wajib direvisi minggu berikutnya.

Selama sepuluh tahun, China menghabiskan 22 miliar dolar AS untuk menjangkau 40 juta siswa. Indonesia mencoba 15 miliar dolar AS dalam satu tahun untuk 82 juta orang di seluruh nusantara.

Juru Selamat MBG

Pemerintah harus memprioritaskan MBG ke provinsi-provinsi termiskin terlebih dahulu, bangun kembali ekosistemnya di sekitar warung dan kantin sekolah lokal sesuai janji awal yang kini terlupakan, lalu alihkan sebagian penghematan untuk intervensi gizi yang menyasar ibu hamil dan anak di bawah dua tahun.

MBG yang lebih terfokus dan lebih jujur soal keterbatasannya akan meringankan tekanan defisit fiskal sekaligus memberi sinyal kepada investor bahwa Jakarta mampu mengelola belanja sosial berskala besar dengan disiplin.

MBG masih punya peluang untuk berhasil, tapi perlu keberanian untuk mengakui bahwa skalanya terlalu besar dan terlalu cepat. Penyelewengan yang terjadi adalah tantangan, bukan akhir dari cerita.

Indonesia harus membuktikan kepada dunia bahwa kita mampu mengatasi masalah dari dalam, menjaga ekonomi tetap pada keseimbangan yang sehat, nilai tukar yang kuat, dan mempertahankan kepercayaan investor asing yang melihat Indonesia sebagai ekonomi yang sedang menuju equilibrium baru.