Basa-basi "Kapan Nikah" yang Sudah Basi Saat Lebaran

Mahasiswi Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fauzatul Khairi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran seharusnya menjadi muara dari segala rindu. Setelah berbulan-bulan tersekat oleh kesibukan masing-masing, momen ini adalah wadah untuk kembali pulang, duduk melingkar, dan merayakan kehangatan bersama keluarga besar. Kita menantikan tawa di meja makan, aroma ketupat yang mengepul, dan cerita-cerita lama yang diputar kembali. Namun, bagi banyak anak muda, suasana hangat itu perlahan mendingin saat satu pertanyaan maut mulai terlontar “Kapan nikah?”
Basa-basi ini mungkin terdengar sepele bagi yang melontarkannya, tapi bagi yang menerima, dampaknya sangat nyata. Pertanyaan ini bukan lagi sekadar penyambung obrolan, melainkan pengingat akan standar sosial yang sering kali mengabaikan proses hidup individu yang beragam.
Digital Resistance: Mengapa Konten "Kabur" Bermunculan?
Jika kita memperhatikan TikTok menjelang Lebaran, muncul fenomena menarik: konten bertema "rencana kabur saat lebaran". Narasi seperti, “Lagi nyusun rencana nanti Lebaran mau kabur ke mana ya biar nggak ditanya-tanya,” atau “POV survei jalan buat kabur dari pertanyaan maut saat lebaran” "ketika orang-orang pada sibuk mikir cara mudik pulang ke rumah buat lebaran sama keluarga, kita sibuk mikir gimana caranya cepat-cepat kabur dari rumah saat lebaran tiba" dan banyak narasi lainnya yang kini memenuhi layar kita. Dulu, konten seperti ini hampir tidak ada. Mengapa sekarang muncul ke permukaan?
Secara antropologis, ini adalah bentuk perlawanan simbolis. Di dunia nyata, anak muda sering kali takut atau enggan melakukan perlawanan langsung karena struktur hierarki keluarga yang kuat. Menjawab dengan ketus kepada orang tua atau kerabat bisa memicu konflik terbuka yang serius. Namun, media sosial menyediakan "ruang aman".
Saat seseorang mengunggah konten ingin kabur, ia sedang menyuarakan protes yang tertahan di dunia nyata. Di TikTok, protes itu hanya dianggap sebagai "konten" atau hiburan, sehingga si pembuat merasa aman dari sanksi sosial keluarga. Hal yang lebih penting, konten ini menciptakan jaringan senasib. Ketika konten tersebut meledak, si pembuat menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ada validasi kolektif yang membuat ketakutan itu perlahan pudar karena ia merasa memiliki "sekutu" di dunia digital.
Kompleksitas Hidup yang Terabaikan
Kenapa pertanyaan ini terasa begitu berat sekarang? Jawabannya ada pada realitas kehidupan yang semakin kompleks. Setiap hari, anak muda berupaya keras menghadapi standar hidup yang tinggi, ketidakpastian ekonomi, hingga tuntutan karier yang menguras energi. Kita berjuang untuk membuat hidup "aman" baik secara mental maupun finansial di tengah gempuran ketidakpastian zaman.
Ketika perjuangan itu seolah tidak diapresiasi dan justru "diukur" hanya lewat status pernikahan, muncul perasaan tidak dihargai. Pertanyaan “kapan” gagal menangkap keragaman proses hidup seseorang. Menikah bukan lagi sekadar mengikuti urutan umur, melainkan tentang kesiapan dan kematangan. Akibatnya, niat awal untuk bersilaturahmi perlahan berubah menjadi rasa malas untuk berjumpa. Pertanyaan sepele itu akhirnya menciptakan jarak yang tak terlihat di antara anggota keluarga. Kita duduk di ruangan yang sama, namun secara emosional kita menjauh sejauh mungkin.
Urgensi Mengganti "Kapan" dengan Doa
Mengingat angka perceraian yang kian tinggi, kita seharusnya sadar bahwa menikah cepat bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan. Pernikahan yang dipaksakan oleh tekanan sosial sering kali berujung pada ketidakbahagiaan. Maka, mengapa kita tidak mulai menggeser budaya "bertanya" menjadi budaya "mendoakan"?
Ada perbedaan frekuensi yang sangat besar antara bertanya “Kapan nikah?” dengan mengucapkan “Semoga dipertemukan dengan jodoh yang tepat di waktu yang terbaik.” Pertanyaan menuntut jawaban yang sering kali tidak kita miliki, sementara doa memberikan ketenangan dan validasi bahwa setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Doa adalah bentuk penghormatan terhadap takdir dan usaha seseorang, sementara pertanyaan sering kali terasa seperti penghakiman yang terselubung.
Mengembalikan Makna Kemenangan
Lebaran adalah momen kemenangan diri. Jangan sampai hanya karena satu basa-basi yang sudah tidak relevan, kita kehilangan makna kebersamaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan lebaran tidak seharusnya dibatasi oleh status sipil seseorang.
Mari jadikan rumah saat lebaran sebagai tempat untuk saling menguatkan. Jangan biarkan pertanyaan sepele membuat seseorang merasa asing di rumahnya sendiri. Karena pada akhirnya, rumah adalah tempat di mana kita diterima apa adanya, tanpa perlu merasa terburu-buru oleh waktu yang ditentukan orang lain.
