Bersama, Belajar, Berkarya: KPA Arkadia UIN Jakarta di SDN Andongrejo 03

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Fauziyyah Maulida Sahrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekolah merupakan tempat bertumbuh, ruang belajar, dan berkreasi bagi anak. Di dalamnya, anak-anak tidak hanya mengenal berbagai pengetahuan melalui buku dan pembelajaran di kelas, tetapi juga belajar memahami hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Di mulai dari menjaga lingkungan melalui hal-hal sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari, menggunakan gadget secara bijak, dan bagaimana menjaga diri saat menghadapi bencana.
Kelompok Pencinta Alam (KPA) Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam program pengabdian masyarakat di Desa Andongrejo tepatnya di SDN Andongrejo 03 mengadakan pengedukasian terkait hal tersebut. Kami ingin mengajak anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar khususnya dikawasan sekolah, mengenalkan lebih dalam pada penggunaan gadget yang baik dikarenakan digital sudah merajalela juga penyuluhan mitigasi bencana tsunami yang memang cukup berpotensi dikawasan tersebut.

Mitigasi Bencana Tsunami (04 Agustus 2026)
Tsunami adalah peristiwa bencana alam yang dapat terjadi akibat gangguan di dasar laut dan menimbulkan gelombang besar yang bergerak menuju wilayah pesisir. Sebanyak 27 siswa yang terdiri dari 8 siswa kelas IV dan 19 siswa kelas V SDN Andongrejo 03 diajak untuk mengenal lebih dalam tentang bencana alam ini, sekaligus membahas beberapa bencana lainnya. Sebagian siswa sebelumnya hanya mengetahui tsunami sebagai gelombang besar yang datang ke daratan, tanpa mengetahui bagaimana bencana tersebut dapat terjadi dan apa yang harus dilakukan ketika menghadapinya.
Melalui pemaparan mitigasi bencana, kami mengajak siswa untuk tidak hanya mengenal tsunami dari pengertiannya, tetapi juga memahami hal-hal yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi. Siswa dikenalkan dengan tanda-tanda tsunami seperti terdapat gempa dari bawah laut, kemudian air laut surut dan terdapat suara gemuruh seperti pesawat juga hewan-hewan banyak berlarian ke daratan. Lalu untuk langkah evakuasinya seperti ikuti guru atau orang dewasa, kemudian cari tempat yang tinggi dan tidak dalam kondisi sendiri. Lanjut untuk perlengkapan yang perlu disiapkan dalam tas siaga yaitu obat-obatan, masker, senter, peluit, hp, makanan dan minuman. Materi disampaikan dengan cara yang dekat dengan pemahaman anak-anak, sehingga mereka tidak hanya mengetahui tentang bencana, tetapi juga mulai memahami pentingnya kesiapsiagaan sejak dini.
Bijak Penggunaan Gadget (05 Agustus 2026)
Pembelajaran berlanjut pada hal yang tidak kalah dekat dengan keseharian siswa yaitu gadget. Gadget adalah perangkat elektronik seperti handphone, tablet, dan laptop yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari belajar, berkomunikasi, hingga hiburan. Bagi siswa khususnya kelas VI SDN Andongrejo 03 yang berjumlah 19, gadget sudah menjadi bagian yang cukup dekat dengan keseharian mereka, sehingga penting untuk memahami bahwa penggunaannya tidak hanya tentang bisa mengoperasikan perangkat, tetapi juga bagaimana memanfaatkannya dengan tepat.
Melalui pemaparan mengenai penggunaan gadget secara bijak, kami mengajak siswa untuk melihat kembali kebiasaan mereka dalam menggunakan perangkat digital. Seperti pada penggunaan hp siswa untuk belajar atau berkomunikasi dirumah, siswa harus mempunyai batasan ketika menggunakannya dan tidak berlebihan agar tidak mengganggu waktu belajar, istirahat, maupun aktivitas lainnya. Kemudian, siswa juga diajarkan untuk memilah informasi di media sosial juga penyebaran informasi agar tidak memberitahu kepada orang yang tidak dikenal dan juga situs web atau link agar tidak sembarang meng klik tautan yang tidak dikenal.
Daur Ulang Sampah Tutup Botol Plastik (05 Agustus 2026)
Kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini, terutama dalam kebiasaan sehari-hari. Di SDN Andongrejo 03 sudah menerapkan gaya lingkungan yang baik, terlihat dari kondisi lapangan sekolah serta jalanan koridor kelas yang bersih ketika kami berkunjung. Namun beberapa kali terlihat memang masih ada yang sengaja tidak membuang sampah pada tempatnya, dan salah satu dari kami pun menegurnya. Fokus kami pada kegiatan ini adalah membuat suatu barang yang sudah terbuang menjadi barang unik yang berharga. Kami mengajak siswa kelas VI yang berjumlah 19 untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan prakarya hingga berhasil. Karya yang diperoleh yaitu gantungan kunci dari tutup botol plastik.
Sampah merupakan barang yang tidak terpakai atau digunakan lagi. Ia sering kali dianggap sebagai sesuatu yang sudah tidak memiliki nilai dan akhirnya dibuang begitu saja. Padahal, tidak semua barang bekas harus berakhir sebagai sampah. Ia dapat memberikan nilai guna kembali jika dikelola dengan baik seperti tutup botol plastik menjadi sebuah gantungan kunci juga kardus menjadi sebuah wadah tempat buku atau barang lainnya. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan dampak buruk seperti menimbulkan bau, mencemari lingkungan, dan menjadi salah satu penyebab banjir. Lalu sampah terbagi menjadi beberapa jenis yaitu organik dan anorganiknya agar siswa dapat membedakannya sesuai penempatan sampah yang dimiliki. Kemudian memperkenalkan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) yang artinya kurangi, pakai lagi, dan daur ulang. Dan terakhir, mempraktekkan bersama mengenai konsep recycle yang akan membuat dari tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci super unik.
Setelah memahami materi tersebut, dalam sesi praktiknya para siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Tujuannya agar setiap siswa bisa lebih fokus dan benar-benar memahami proses pembuatan gantungan kunci, guna mempermudah untuk dijangkau oleh pendamping dan tertib saat ada pemanggilan antrian. Prosesnya mudah, hanya saja untuk penggunaan alat pemanas cukup antri setelah kami menggunting potongan demi potongan tutup botol yang memang sedikit sulit karena ukuran nya tebal dan membutuhkan tenaga dalam ekstra. Walaupun demikian kegiatan tetap berjalan lancar dan setiap anak memperoleh hasil karya buatannya sendiri. Ada yang bentukannya bulan sabit, bintang, piramida, love, dan masih banyak lagi bentukan lucu lainnya. Kemudian untuk warna ada yang mencampurinya hingga warna-warni dan ada yang satu-dua warna saja tergantung selera masing-masing.
Akhirnya kegiatan kami selesai dan berjalan lancar, kami mendapat respon positif dari guru dan juga siswa. Karena pembuatan gantungan kunci ini belum pernah ada yang mengadakan dan baru pertama kali oleh kami. Kami berharap pengalaman sederhana ini dapat menjadi cerita yang menyenangkan bagi para siswa dan menjadi salah satu momen yang mereka ingat dari pertemuan seharian penuh bersama kami. Bukan hanya tentang materi saja, tetapi juga tentang tawa, interaksi, dan pengalaman baru yang tercipta selama kegiatan berlangsung. Semoga setelah pertemuan ini, kepedulian terhadap lingkungan tetap tumbuh dalam keseharian, mulai dari hal-hal kecil secara perlahan namun pasti dan konsisten. Lingkungan yang lestari bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga untuk dijaga bersama.
Salam Lestari!
