Konten Viral Belum Tentu Menghasilkan Penjualan?
Tulisan dari Fauzi Hibatulloh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Views jutaan, komentar ramai, share di mana-mana tapi begitu laporan penjualan dibuka, angkanya biasa-biasa saja. Kalau kamu pernah mengalami ini, saya mau langsung sampaikan pendapat saya: viral itu bukan strategi penjualan, viral itu cuma jangkauan. Banyak bisnis dan brand terjebak menyamakan "banyak yang lihat" dengan "banyak yang beli", padahal keduanya adalah dua hal yang beda level dalam perjalanan konsumen.
Attention Bukan Konversi
Ini yang sering luput dipahami: viral hanya mengukur seberapa jauh konten menyebar, bukan seberapa besar dampaknya ke keputusan beli. Sebuah brand yang biasanya dapat 20 ribu views, tiba-tiba satu videonya tembus 2 juta views secara distribusi itu jelas sukses besar. Tapi kenaikan views 100 kali lipat sama sekali tidak menjamin penjualan naik 100 kali lipat juga. Viralitas dan revenue memang berhubungan, tapi hubungannya tidak linear sama sekali.
Data juga mendukung keresahan ini. Berdasarkan laporan HubSpot 2023, hanya sekitar 22% marketer yang mengaku bahwa media sosial mereka menghasilkan tingkat konversi yang tinggi. Artinya, mayoritas justru merasakan hal sebaliknya: rame di permukaan, sepi di transaksi.
Kenapa Ini Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan kenapa video 2 juta views bisa kalah "berharga" dibanding video 20 ribu views:
1. Penonton viral belum tentu calon pembeli. Orang nonton video lucu, video kontroversial, atau video yang lagi tren bukan karena mereka butuh produkmu mereka nonton karena kontennya menghibur. Buying intent-nya nol. Bandingkan dengan audiens dari campaign retargeting, misalnya, yang reach-nya jauh lebih kecil tapi justru menghasilkan revenue terbesar, karena mereka memang sudah dekat dengan keputusan beli.
2. Tidak ada call to action yang jelas. Konten viral sering kali cuma fokus "biar rame", sampai lupa mengarahkan penonton harus ngapain setelah nonton. Klik link di bio? Chat admin? Checkout sekarang? Kalau penonton dibiarkan bingung, ya wajar mereka scroll lanjut tanpa transaksi.
3. Tidak ada funnel yang menampung mereka. Awareness, interest, desire, action empat tahap ini harus ada jalurnya. Banyak brand stop di tahap pertama (awareness) karena sudah keburu senang lihat angka views naik, padahal itu baru pintu masuk, bukan garis finish.
4. Vanity metrics bikin terlena. Views, likes, dan followers itu enak dilihat karena angkanya besar dan gampang dipamerkan. Tapi buat bisnis, metrik yang jauh lebih relevan adalah click-through rate, add-to-cart, dan conversion rate. Video dengan 20 ribu views yang menghasilkan 20 pembeli jelas jauh lebih berharga dibanding video 2 juta views yang tidak menghasilkan satu transaksi pun.
Jadi, Viral Itu Percuma?
Bukan begitu juga. Viral tetap punya nilai exposure besar tanpa harus keluar budget iklan sebesar itu, brand jadi dikenal orang yang sebelumnya nggak tahu sama sekali. Masalahnya bukan di viralnya, tapi di sikap bisnis yang berhenti setelah viral. Konten viral seharusnya jadi pintu masuk ke funnel, bukan dianggap sebagai hasil akhir.
Brand yang paham hal ini biasanya tidak mengejar "seberapa heboh", tapi "seberapa relevan dan konsisten". Mereka membuat konten edukatif atau storytelling yang membangun kepercayaan pelan-pelan dan menariknya, konten seperti ini justru punya umur lebih panjang dibanding konten viral yang cepat naik lalu cepat hilang juga.
Jadi, views tinggi itu bukan prestasi kalau tidak diterjemahkan jadi transaksi. Kalau selama ini kamu atau brand yang kamu kelola masih merayakan angka views sebagai tolok ukur utama keberhasilan, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan bertanya: konten yang saya buat ini mengarahkan orang ke mana? Kalau jawabannya "tidak ke mana-mana", maka sebanyak apa pun yang menonton, hasilnya akan tetap samaramai di kolom komentar, sepi di kasir. Viral itu keberuntungan sesaat. Konversi itu hasil dari strategi.

