Konten dari Pengguna

Paradoks Gizi dan Limbah MBG: Mengapa Inovasi AI adalah Kunci Suksesnya

Fauzi Tri

Fauzi Tri

Seorang mahasiswa Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada yang memiliki ketertarikan pada berbagai hal.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauzi Tri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Siswa-Siswi Penerima MBG
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Siswa-Siswi Penerima MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi salah satu diskursus nasional paling vital. Sebagai sebuah ikhtiar untuk mempersiapkan Generasi Emas 2045, tujuannya sangat mulia: mengatasi tantangan malnutrisi yang serius di Indonesia.

Data dari UNICEF (2024) menunjukkan prevalensi stunting kita masih di angka 21,5% dan wasting (kekurangan gizi jangka pendek) sebesar 8,5%. Program MBG adalah jawaban yang diharapkan.

Namun, sebagai seorang inovator yang mendalami sistem pangan, saya melihat sebuah paradoks besar. Program yang bertujuan memberi nutrisi ini berisiko gagal di tingkat eksekusi dan justru menciptakan masalah baru: ledakan limbah makanan (food waste).

Tantangan pertama adalah menu. Laporan di lapangan (Kompas, 2024) menunjukkan banyak siswa tidak menghabiskan makanan karena tidak menyukai menu yang disediakan. Tantangan kedua adalah logistik. Makanan basi di perjalanan atau memiliki sanitasi yang buruk berpotensi menyebabkan keracunan.

Kedua tantangan ini bermuara pada masalah ketiga: limbah. Studi oleh Fritz dan Schiefer (2008) menyebutkan bahwa dua pertiga makanan yang terbuang (sekitar 1 miliar ton) terjadi pada proses rantai pasokan.

Ini adalah paradoks yang harus kita pecahkan. Program MBG tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional. Ia membutuhkan inovasi dan manajemen presisi. Di sinilah peran teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), menjadi krusial.

Anggota Tim PKM-VGK SIKE UGM

SIKE: Solusi dari Hulu ke Hilir

Atas dasar keresahan tersebut, kami di Universitas Gadjah Mada (UGM) merancang sebuah gagasan konstruktif bernama SIKE (Sustainable Integrated Kitchen System), yang kini lolos sebagai finalis PIMNAS 38.

SIKE adalah sebuah opini yang diwujudkan dalam cetak biru sistem. Ini adalah dapur pintar terintegrasi yang berfungsi sebagai "otak" manajemen program MBG.

Sistem ini bekerja dalam dua prioritas.

  1. Prioritas pertama adalah optimalisasi hulu. AI akan mengelola stok bahan baku secara real-time, sekaligus menganalisis data kuesioner preferensi gizi siswa. Pentingnya lagi, AI akan mencocokkan data ini dengan ketersediaan pangan dari petani lokal. Tujuannya agar menu yang dihasilkan tidak hanya bergizi, tetapi juga segar, sesuai selera lokal, dan memberdayakan ekonomi daerah.

  2. Prioritas kedua adalah solusi hilir: manajemen limbah. Ini adalah bagian terpenting dari konsep ekonomi sirkular kami. Setiap sisa makanan yang terbuang akan ditimbang oleh sensor berat (load-cell). Data ini menjadi umpan balik instan bagi AI untuk mengevaluasi menu.

Limbah yang terkumpul lantas tidak menjadi beban TPA. Sistem SIKE akan mengolah limbah sisa tersebut menjadi energi terbarukan, yakni biogas. Energi biogas ini kemudian akan digunakan kembali untuk menyuplai kebutuhan energi di dapur MBG itu sendiri. Ini adalah siklus tertutup yang sesungguhnya.

Gagasan ini bukan sekadar konsep. Validasi publik awal kami di media sosial telah menjangkau lebih dari 146.000 tayangan, menunjukkan tingginya relevansi isu ini.

Di bawah bimbingan Ni Nyoman Nepi Marleni, S.T., M.Sc., Ph.D., tim kami (terdiri dari Fauzi Septriantoro, Muhammad Rizky Khoirul Amar, Safira Mahardika Rahayu, dan Muhammad Firdaus Ar Riza) optimis gagasan ini memiliki potensi besar. Ke depan, SIKE dapat dikembangkan menjadi rekomendasi kebijakan (policy brief) dan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Program MBG adalah pertaruhan besar. Untuk berhasil, kita harus berhenti melihatnya hanya sebagai "program bagi-bagi makanan" dan mulai memperlakukannya sebagai "manajemen sistem pangan" yang kompleks. Mengintegrasikan teknologi AI seperti SIKE adalah langkah logis untuk memastikan program ini efektif, efisien, dan berkelanjutan.