Konten dari Pengguna

Langkah Strategis Indonesia Sebagai Anggota Baru BRICS

Fauzi Gama Oktama

Fauzi Gama Oktama

Hubungan Internasional UNS

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauzi Gama Oktama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Pexels

BRICS merupakan akronim dari Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa, adalah kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. BRICS dibentuk pertama kali pada tahun 2009 atas inisiatif Rusia untuk menjadi penyeimbang terhadap pengaruh Amerika Serikat pada perekonomian global dan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, Kelompok G7, dan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Para petinggi di negara mereka bertemu setiap tahunnya dalam sebuah KTT formal dan mengoordinasikan kebijakan multilateral. Hubungan bilateral di antara BRICS dilakukan khususnya berdasarkan pada prinsip non-intervensi, kesetaraan, dan saling menguntungkan.

Indonesia sendiri telah resmi bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global dan mendiversifikasi mitra strategisnya. Perjalanan menuju anggota baru bukanlah hal mudah, karena Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang, mengatasi risiko, dan menghadapi dinamika politik serta ekonomi yang muncul dalam lingkup BRICS.

Fathi, Politisi Partai Dekomat, berkata bahwa dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS dapat memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang dalam isu strategis, seperti Pembangunan berkelanjutan, reformasi system multilateral yang lebih inklusif, serta solidaritas antarnegara. Ia juga menekankan bahwa langkah ini juga membawa semangat solidaritas untuk menghadapi tantangan global. Ia juga menyatakan bahwa kebijakan ini adalah bentuk konkret dari komitmen pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan nasional dalam lingkup internasional. Ia juga berharap Indonesia bisa membuka jalan baru bagi perdagangan, investasi, dan kolaborasi yang luas.

Dengan masuknya Indonesia ke dalam kelompok BRICS, diharapkan pemerintah dan seluruh pihak terkait memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam perekonomian global, terutama dalam hal investasi langsung dan pengembangan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Lalu, bagaimana langkah yang diperlukan Indonesia agar ketergabungannya dalam BRICS menjadi lebih efektif? Simak penjelasan berikut.

Langkah Indonesia sebagai anggota BRICS

1. Memperkuat Daya Saing Ekonomi Domestik

Untuk bersaing dalam ekonomi global, Indonesia perlu meningkatkan investasi dalam pendidikan, riset, dan teknologi. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan tenaga kerja yang lebih terampil, sementara riset dan teknologi dapat meningkatkan inovasi dalam berbagai sektor industri. Selain itu, Indonesia dapat memanfaatkan transfer teknologi dari negara-negara BRICS seperti China dan India untuk meningkatkan efisiensi produksi dan nilai tambah ekspor. Dengan demikian, produk-produk Indonesia dapat lebih kompetitif di pasar internasional, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di negara-negara mitra dagang utama.

2. Menjaga Keseimbangan Hubungan Luar Negeri

Keanggotaan dalam BRICS harus diimbangi dengan kebijakan luar negeri yang cermat. Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, untuk memastikan akses pasar yang luas dan stabilitas investasi asing. Seperti yang disebut dalam ASEAN Economic Report, menjaga keseimbangan antara kemitraan regional dan global dapat membantu Indonesia menghindari risiko geopolitik yang dapat mengganggu perekonomian. Selain itu, hubungan erat dengan ASEAN tetap menjadi prioritas agar Indonesia tetap menjadi pemimpin di kawasan Asia Tenggara.

3. Penguatan Diplomasi Multilateral

Sebagai anggota BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk berperan lebih aktif dalam reformasi tata kelola ekonomi global. Salah satu fokus utamanya adalah mendorong sistem perdagangan internasional yang lebih adil bagi negara-negara berkembang, menghindari proteksionisme, dan memastikan kebijakan perdagangan bebas yang tidak diskriminatif. Indonesia juga dapat memanfaatkan forum BRICS untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang dalam organisasi seperti WTO (World Trade Organization) dan lembaga keuangan internasional, sehingga kebijakan global lebih berpihak pada pertumbuhan inklusif.

4. Memanfaatkan Keanggotaan secara Selektif

Indonesia harus mengarahkan partisipasinya dalam BRICS pada sektor-sektor strategis yang dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian domestik. Beberapa sektor yang dapat menjadi fokus utama adalah pendanaan infrastruktur, pengembangan energi terbarukan, dan peningkatan teknologi manufaktur. Pendanaan dari New Development Bank (NDB) milik BRICS dapat digunakan untuk membangun proyek-proyek infrastruktur yang mendukung konektivitas nasional. Selain itu, kerja sama dalam pengembangan energi hijau dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mencapai target emisi karbon yang lebih rendah.

Dengan strategi ini, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan dan mengefektifkan keanggotaannya di BRICS untuk memperkuat ekonomi domestik, menjaga keseimbangan diplomasi, serta berkontribusi dalam reformasi ekonomi global.